Chuzaimah Batubara: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox person|name=Dr. Hj. Chuzaimah Batubara, M.A.|birth_date=Medan, 6 Juli 1970|image=Berkas: | {{Infobox person|name=Dr. Hj. Chuzaimah Batubara, M.A.|birth_date=Medan, 6 Juli 1970|image=Berkas:Chuzaimah Batubara.jpg|imagesize=220px|known for=*Sourcing the Academic Works for English References: An Analysis of Students’ Perceptions (2021)|occupation=*Dosen PNS (Pembina Tk. I / IV/b) sebagai Lektor Kepala di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara}}'''Dr. Hj. Chuzaimah Batubara, MA.''' lahir di Medan, pada 6 Juli 1970. Ia merupakan dosen di Fakultas Syariah, sekertaris umum Pusat Studi Gender dan Anak, dan Ketua Dharma Wanita di Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara. | ||
Chuzaimah mendukung dan sangat senang dengan adanya Gerakan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]). Ia berada di jalur yang sama dengan Gerakan KUPI, yaitu untuk keadilan gender sebagaimana yang selama ini telah ia lakukan di Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA). Menurutnya, KUPI yang berada di bawah komando Bu Nyai [[Badriyah Fayumi]] dapat mengkoordinir banyak [[tokoh]] dan ''stakeholder.'' | Chuzaimah mendukung dan sangat senang dengan adanya Gerakan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]). Ia berada di jalur yang sama dengan Gerakan KUPI, yaitu untuk keadilan gender sebagaimana yang selama ini telah ia lakukan di Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA). Menurutnya, KUPI yang berada di bawah komando Bu Nyai [[Badriyah Fayumi]] dapat mengkoordinir banyak [[tokoh]] dan ''stakeholder.'' | ||
| Baris 28: | Baris 28: | ||
Ketika pengumuman masuk universitas keluar, Chuzaimah ternyata mendapatkan nilai tertinggi. Ketika ia menyampaikan berita tersebut kepada orang tuanya, ayahnya berpesan, “Nanti bilang ke Umi. Kalau Umi bilang lanjut, maka belajar yang betul agar berhasil kuliahnya, agar Umi yang membiayai juga bahagia.” Saat itu kakak Chuzaimah juga masih berkuliah. Hanya Chuzaimah dan kakaknya yang berkuliah. Saudara-saudaranya yang lain hanya tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Bahkan adiknya sempat menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ketika kakaknya berkuliah, ibunya selalu gali lubang tutup lubang. Hal inilah yang sempat memberatkan ibunya ketika Chuzaimah meminta untuk berkuliah. | Ketika pengumuman masuk universitas keluar, Chuzaimah ternyata mendapatkan nilai tertinggi. Ketika ia menyampaikan berita tersebut kepada orang tuanya, ayahnya berpesan, “Nanti bilang ke Umi. Kalau Umi bilang lanjut, maka belajar yang betul agar berhasil kuliahnya, agar Umi yang membiayai juga bahagia.” Saat itu kakak Chuzaimah juga masih berkuliah. Hanya Chuzaimah dan kakaknya yang berkuliah. Saudara-saudaranya yang lain hanya tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Bahkan adiknya sempat menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ketika kakaknya berkuliah, ibunya selalu gali lubang tutup lubang. Hal inilah yang sempat memberatkan ibunya ketika Chuzaimah meminta untuk berkuliah. | ||
Selama kuliah, Chuzaimah menjadi mahasiswa yang berprestasi. Nilainya selalu menduduki posisi tertinggi sehingga dosen-dosen pun mengenalnya. Ia kemudian mendapatkan rekomendasi untuk mendapatkan beasiswa Supersemar mulai dari semester 2 sampai tiga tahun berturut-turut. Beasiswa ini sangat membantu ibunya untuk mewujudkan impian Chuzaimah. Apalagi, sejak ayahnya terserang penyakit jantung dan tidak mampu lagi untuk bekerja, akhirnya ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga. Chuzaimah juga aktif berorganisasi di HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia) dan mendapatkan banyak jaringan. Dari sini Chuzaimah aktif menjual buku untuk menambah pemasukan untuk biaya perkuliahannya. | Selama kuliah, Chuzaimah menjadi mahasiswa yang berprestasi. Nilainya selalu menduduki posisi tertinggi sehingga dosen-dosen pun mengenalnya. Ia kemudian mendapatkan rekomendasi untuk mendapatkan beasiswa Supersemar mulai dari semester 2 sampai tiga tahun berturut-turut. Beasiswa ini sangat membantu ibunya untuk mewujudkan impian Chuzaimah. Apalagi, sejak ayahnya terserang penyakit jantung dan tidak mampu lagi untuk bekerja, akhirnya ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga. Chuzaimah juga aktif berorganisasi di HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia) dan mendapatkan banyak [[jaringan]]. Dari sini Chuzaimah aktif menjual buku untuk menambah pemasukan untuk biaya perkuliahannya. | ||
Ketika dekan di fakultasnya kerap mendatangkan alumni-alumni yang mengikuti program pembibitan calon dosen di bawah naungan Kemenag dan baru pulang dari luar negeri, Chuzaimah terinspirasi menjadi dosen sejak semester 3. Di bawah bimbingan alumni yang telah selesai melakukan studi pembibitan calon dosen, selama kuliah Chuzaimah tekun mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya. | Ketika dekan di fakultasnya kerap mendatangkan alumni-alumni yang mengikuti program pembibitan calon dosen di bawah naungan Kemenag dan baru pulang dari luar negeri, Chuzaimah terinspirasi menjadi dosen sejak semester 3. Di bawah bimbingan alumni yang telah selesai melakukan studi pembibitan calon dosen, selama kuliah Chuzaimah tekun mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya. | ||