Lompat ke isi

Lukman Hakim Saifuddin: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox person|name=Lukman Hakim Saifuddin|birth_date=|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|imagesize=220px|known for=* -  
{{Infobox person|name=Lukman Hakim Saifuddin|birth_date=|image=Berkas:Lukman Hakim Saifuddin.jpg|imagesize=220px|known for=* -  
* -  
* -  
* -|occupation=* -  
* -|occupation=* -  
Baris 16: Baris 16:
Tamat dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Jakarta dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Manaratul Ulum, serta SMPN XI Jakarta, Lukman melanjutkan sekolahnya ke Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, pada tahun 1983. Selepas dari pesantren, Lukman berkuliah di Universitas Islam As-Syafiiyah Jakarta pada tahun 1990. Beberapa tahun setelahnya, ia juga pernah menimba ilmu dalam bidang Community Organizer in Health and Development in Asian Rural Settings di Asian Health Institute, Nagoya, Jepang dan di Curtin University, Perth, Australia.
Tamat dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Jakarta dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Manaratul Ulum, serta SMPN XI Jakarta, Lukman melanjutkan sekolahnya ke Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, pada tahun 1983. Selepas dari pesantren, Lukman berkuliah di Universitas Islam As-Syafiiyah Jakarta pada tahun 1990. Beberapa tahun setelahnya, ia juga pernah menimba ilmu dalam bidang Community Organizer in Health and Development in Asian Rural Settings di Asian Health Institute, Nagoya, Jepang dan di Curtin University, Perth, Australia.


Kedua orangtua Lukman yang memiliki akar kuat dengan tradisi Nahdlatul Ulama (NU) membuatnya terbiasa mengenal pendidikan agama sejak kecil. Sang ibu, Nyai Hj. Solichah, adalah orang pertama yang mengajarkan Lukman cara membaca, termasuk mengajarkannya ilmu-ilmu agama.  
Kedua orangtua Lukman yang memiliki akar kuat dengan [[tradisi]] Nahdlatul Ulama (NU) membuatnya terbiasa mengenal pendidikan agama sejak kecil. Sang ibu, Nyai Hj. Solichah, adalah orang pertama yang mengajarkan Lukman cara membaca, termasuk mengajarkannya ilmu-ilmu agama.  


Kentalnya tradisi NU yang dicecapnya sejak kecil, secara tak langsung membuat Lukman terlibat aktif di dalam Ormas besar Islam tersebut. Ini dimulai sejak ia berkuliah. Lukman menonjol dalam bidang kajian, pelatihan, dan penelitian. Karenanya, ia memilih untuk aktif di [[Lembaga]] Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU), di mana pada tahun 1985-1988 ia terpilih menjadi Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat. Kemudian ia terjun di Lajnah Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU sebagai Wakil Sekretaris pada 1988-1999. Lalu menjadi Kepala Bidang Administrasi Umum, Koordinator Program Kajian dan Penelitian, Koordinator Program Pendidikan dan Pelatihan, hingga menjadi Ketua Badan Pengurus dalam periode 1996-1999.  
Kentalnya tradisi NU yang dicecapnya sejak kecil, secara tak langsung membuat Lukman terlibat aktif di dalam Ormas besar Islam tersebut. Ini dimulai sejak ia berkuliah. Lukman menonjol dalam bidang kajian, pelatihan, dan penelitian. Karenanya, ia memilih untuk aktif di [[Lembaga]] Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU), di mana pada tahun 1985-1988 ia terpilih menjadi Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat. Kemudian ia terjun di Lajnah Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU sebagai Wakil Sekretaris pada 1988-1999. Lalu menjadi Kepala Bidang Administrasi Umum, Koordinator Program Kajian dan Penelitian, Koordinator Program Pendidikan dan Pelatihan, hingga menjadi Ketua Badan Pengurus dalam periode 1996-1999.  
Baris 33: Baris 33:
Lukman memberikan apresiasi yang sangat besar atas terselenggaranya KUPI. Lukman mencatat, kongres yang diikuti oleh ratusan ulama perempuan di Indonesia dan dunia itu telah berhasil memperjuangkan keadilan gender. KUPI tidak hanya mampu menunjukkan eksistensi dan pengukuhan ulama perempuan, tapi juga berhasil merevitalisasi peran ulama perempuan di Indonesia. Lukman menilai bahwa dalam perhelatan KUPI tidak hanya karena substansi yang dikaji, namun juga adanya hasil dan rekomendasi yang dilahirkan. Dan ia menegaskan juga tentang kekagumannya terhadap KUPI karena prosesnya sepenuhnya berasal dari inisiatif kaum perempuan.  
Lukman memberikan apresiasi yang sangat besar atas terselenggaranya KUPI. Lukman mencatat, kongres yang diikuti oleh ratusan ulama perempuan di Indonesia dan dunia itu telah berhasil memperjuangkan keadilan gender. KUPI tidak hanya mampu menunjukkan eksistensi dan pengukuhan ulama perempuan, tapi juga berhasil merevitalisasi peran ulama perempuan di Indonesia. Lukman menilai bahwa dalam perhelatan KUPI tidak hanya karena substansi yang dikaji, namun juga adanya hasil dan rekomendasi yang dilahirkan. Dan ia menegaskan juga tentang kekagumannya terhadap KUPI karena prosesnya sepenuhnya berasal dari inisiatif kaum perempuan.  


Lukman mencatat setidaknya ada tiga makna strategis KUPI terkait relasi, revitalisasi dan moderasi. Dalam hal relasi, KUPI telah berhasil memperjuangkan keadilan melalui kesadaran peran dan relasi hubungan laki-laki dan perempuan. Lukman menilai, isu relasi gender saat ini dan mendatang akan semakin urgen dan senantiasa relevan. Sementara perihal merevitalisasi, KUPI dianggap telah merekognisi dan merevitalisasi peran ulama perempuan yang sudah berlangsung bahkan sejak zaman Aisyah ra, istri Rasulullah, hingga tokoh perempuan Indonesia. Ia mengapresiasi langkah KUPI yang mampu membangun jaringan ulama perempuan. Perhelatan kongres menjadi oase ulama perempuan tentang pentingnya peran perempuan dalam meneguhkan nilai Keislaman, Kebangsaan, dan Kemanusiaan, sebagaimana tema besar yang diangkat KUPI.
Lukman mencatat setidaknya ada tiga makna strategis KUPI terkait relasi, revitalisasi dan moderasi. Dalam hal relasi, KUPI telah berhasil memperjuangkan keadilan melalui kesadaran peran dan relasi hubungan laki-laki dan perempuan. Lukman menilai, isu relasi gender saat ini dan mendatang akan semakin urgen dan senantiasa relevan. Sementara perihal merevitalisasi, KUPI dianggap telah merekognisi dan merevitalisasi peran ulama perempuan yang sudah berlangsung bahkan sejak zaman Aisyah ra, istri Rasulullah, hingga tokoh perempuan Indonesia. Ia mengapresiasi langkah KUPI yang mampu membangun [[jaringan]] ulama perempuan. Perhelatan kongres menjadi oase ulama perempuan tentang pentingnya peran perempuan dalam meneguhkan nilai Keislaman, Kebangsaan, dan Kemanusiaan, sebagaimana tema besar yang diangkat KUPI.


KUPI juga telah berhasil meneguhkan sekaligus menegaskan bahwa moderasi Islam senantiasa harus dikedepankan; Islam sebagai ''rahmatan lil alamin'', Islam yang tidak menyudutkan posisi kedudukan perempuan, dan Islam yang menebarkan kemaslahatan bagi sesama. Sehingga pada gilirannya nanti KUPI bisa berkontribusi bagi pembangunan peradaban dunia.  
KUPI juga telah berhasil meneguhkan sekaligus menegaskan bahwa moderasi Islam senantiasa harus dikedepankan; Islam sebagai ''rahmatan lil alamin'', Islam yang tidak menyudutkan posisi kedudukan perempuan, dan Islam yang menebarkan kemaslahatan bagi sesama. Sehingga pada gilirannya nanti KUPI bisa berkontribusi bagi pembangunan peradaban dunia.