2011 Dawrah Fiqh Perempuan; Modul Kursus Islam dan Gender: Perbedaan antara revisi
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| (4 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox book|editor=|publisher=Fahmina Institute|image=Berkas:Modul Dawrah Fiqh Perempuan 2011.jpg|italic title=Dawrah Fiqh Perempuan; Modul Kursus Islam dan Gender|isbn=97-25-9100-2|pub_date=Agustus 2011|cover_artist=|pages=xi + 350 halaman|series=Cetakan Ketiga|author=*KH. Husein Muhammad | |||
*Faqihuddin Abdul Kodir | *Faqihuddin Abdul Kodir | ||
*Lies Marcoes Natsir | *Lies Marcoes Natsir | ||
*Marzuki Wahid|title_orig=Dawrah Fiqh Perempuan; Modul Kursus Islam dan Gender}} | *Marzuki Wahid|title_orig=Dawrah Fiqh Perempuan; Modul Kursus Islam dan Gender|name=|note=[https://kupipedia.id/images/4/4e/Buku_Modul_Dawrah_Fiqh_Perempuan_2011.pdf (Download PDF)]}}barat berlabuh di lautan bebas, semakin masuk ke tengah lautan tampak semakin luas dan tak bertepi. Itulah pengalaman kami dalam mendesiminasikan dan mendiskusikan wacana Islam dan gender melalui buku Modul Dawrah Figh Perempuan yang sekarang dalam genggaman Anda. Semakin jauh dan semakin luas kami menyelenggarakan "Pelatihan/Kursus Islam dan Gender", ternyata tidak semakin berkurang, malah tampak semakin banyak pihak yang membutuhkan sentuhan perspektif Islam dan gender ini. | ||
Perjuangan menyadarkan dan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender di negeri yang berpenduduk lebih dari 200 juta ini memang tidak bisa simsalabim. Ini perjuangan jangka panjang yang harus dilakukan secara terus menerus dan simultan, karena generasi manusia dalam kenyataannya terus berganti dan berbeda dari waktu ke waktu. | |||
Sebagaimana disebutkan dalam pengantar edisi kedua bahwa buku inialhamdulillâh-telah digunakan dalam pelatihan Islam dan gender di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di sejumlah negara. Beberapa waktu lalu, sebelum buku ini diterbitkan ulang, tepatnya pada Januari 2011, Fahmina kembali menyelenggarakan Kursus Islam dan Jender (KIJ) yang ke-6. Kursus ini sedikit unik, karena diikuti oleh peserta lintas generasi, mulai dari Julia Suryakusuma, generasi senior feminis dan aktivis perempuan Indonesia, hingga aktivis perempuan generasi tahun 2000an. Selain itu, Kursus ini tidak saja diikuti oleh aktivis perempuan dari kalangan Muslim, tetapi juga dari kalangan non-Muslim, bahkan dari kalangan yang sempat 'lari' dari agamanya karena agamanya dipandang tidak ramah terhadap perempuan. Sungguh banyak inspirasi dan pelajaran yang bisa kami peroleh dari keunikan ini. | |||
"Saya melihat dengan gamblang maksud besar di balik kegiatan kursus ini. Ini mungkin hanya kursus kecil-kecilan. Tapi, inilah revolusioner yang luar biasa. Implikasinya adalah perubahan masyarakat yang luas dan mendasar. Saya dukung sekali kursus ini dengan cara apapun. Saya kira kita semua memiliki tujuan ini,” kesan Julia Suryakusuma pada akhir Kursus Islam dan Jender (KIJ) ke-6 di Cirebon. | |||
Tentu saja semua ini menjadi kebanggaan dan kebahagiaan kami, karena karya teman-teman Fahmina-institute bermanfaat secara luas bagi gerakan keadilan dan kesetaraan gender, dan bisa memberikan sumbangan bagi gerakan ini dalam perspektif Islam, suatu perspektif yang penting dipertimbangkan dalam melakukan transformasi sosial di Indonesia. | |||
Atas pengalaman dan usulan dari teman-teman, Fahmina-institute berkeputusan untuk menerbitkan ulang buku ini dengan revisi dan tambahan beberapa studi kasus yang muncul sebagai kebutuhan temen-temen pada saat Kursus. Harapan kami, penerbitan edisi ini bisa membantu teman-teman dalam menjawab tantangan yang dihadapi di lapangan. | |||
Dengan terbitnya buku edisi ketiga ini, secara khusus kami ingin menyampaikan terima kasih yang tiada henti kepada para penulis, KH. Husein Muhammad, Faqihuddin Abdul Kodir, Lies Marcoes-Natsir, dan Marzuki Wahid, yang masih terus bersemangat meng-update isi modul ini, dan juga kepada Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah, Rozikoh Sukardi, Alifatul Arifiati, Satori, Maemunah Mudjahid, dan Muhammad Zaenal Fanani yang telah membantu dengan tekun seluruh proses penerbitan buku edisi ketiga ini. Tidak lupa juga kepada Robin Bush, Hana A. Satriyo, dan Sandra Hamid, yang terus memberikan dukungan dan mengobarkan api semangat kepada kami untuk tidak berhenti berjihad dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dan memperjuangkan kaum perempuan Indonesia. | |||
Akhirnya, kami berharap kepada para pembaca budiman untuk tidak lelah memberikan kritik, masukan, dan saran kepada kami demi penyempurnaan buku ini. Kritik dan saran pembaca budiman adalah bukti peduli atas pentingnya wacana Islam dan gender bagi transformasi sosial. Kiranya Allah SWT membalas semua kebaikan dan kebaktian kita semua, jazâkumullâh ahsanal jazâ. Selamat membaса! | |||
[[Kategori:Khazanah]] | [[Kategori:Khazanah]] | ||
[[Kategori:Buku KUPI]] | |||
Revisi terkini sejak 23 April 2026 13.59
| Judul | Dawrah Fiqh Perempuan; Modul Kursus Islam dan Gender |
|---|---|
| Penulis |
|
| Seri | Cetakan Ketiga |
| Penerbit | Fahmina Institute |
Tahun terbit | Agustus 2011 |
| Halaman | xi + 350 halaman |
| ISBN | 97-25-9100-2 |
| (Download PDF) | |
barat berlabuh di lautan bebas, semakin masuk ke tengah lautan tampak semakin luas dan tak bertepi. Itulah pengalaman kami dalam mendesiminasikan dan mendiskusikan wacana Islam dan gender melalui buku Modul Dawrah Figh Perempuan yang sekarang dalam genggaman Anda. Semakin jauh dan semakin luas kami menyelenggarakan "Pelatihan/Kursus Islam dan Gender", ternyata tidak semakin berkurang, malah tampak semakin banyak pihak yang membutuhkan sentuhan perspektif Islam dan gender ini.
Perjuangan menyadarkan dan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender di negeri yang berpenduduk lebih dari 200 juta ini memang tidak bisa simsalabim. Ini perjuangan jangka panjang yang harus dilakukan secara terus menerus dan simultan, karena generasi manusia dalam kenyataannya terus berganti dan berbeda dari waktu ke waktu.
Sebagaimana disebutkan dalam pengantar edisi kedua bahwa buku inialhamdulillâh-telah digunakan dalam pelatihan Islam dan gender di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di sejumlah negara. Beberapa waktu lalu, sebelum buku ini diterbitkan ulang, tepatnya pada Januari 2011, Fahmina kembali menyelenggarakan Kursus Islam dan Jender (KIJ) yang ke-6. Kursus ini sedikit unik, karena diikuti oleh peserta lintas generasi, mulai dari Julia Suryakusuma, generasi senior feminis dan aktivis perempuan Indonesia, hingga aktivis perempuan generasi tahun 2000an. Selain itu, Kursus ini tidak saja diikuti oleh aktivis perempuan dari kalangan Muslim, tetapi juga dari kalangan non-Muslim, bahkan dari kalangan yang sempat 'lari' dari agamanya karena agamanya dipandang tidak ramah terhadap perempuan. Sungguh banyak inspirasi dan pelajaran yang bisa kami peroleh dari keunikan ini.
"Saya melihat dengan gamblang maksud besar di balik kegiatan kursus ini. Ini mungkin hanya kursus kecil-kecilan. Tapi, inilah revolusioner yang luar biasa. Implikasinya adalah perubahan masyarakat yang luas dan mendasar. Saya dukung sekali kursus ini dengan cara apapun. Saya kira kita semua memiliki tujuan ini,” kesan Julia Suryakusuma pada akhir Kursus Islam dan Jender (KIJ) ke-6 di Cirebon.
Tentu saja semua ini menjadi kebanggaan dan kebahagiaan kami, karena karya teman-teman Fahmina-institute bermanfaat secara luas bagi gerakan keadilan dan kesetaraan gender, dan bisa memberikan sumbangan bagi gerakan ini dalam perspektif Islam, suatu perspektif yang penting dipertimbangkan dalam melakukan transformasi sosial di Indonesia.
Atas pengalaman dan usulan dari teman-teman, Fahmina-institute berkeputusan untuk menerbitkan ulang buku ini dengan revisi dan tambahan beberapa studi kasus yang muncul sebagai kebutuhan temen-temen pada saat Kursus. Harapan kami, penerbitan edisi ini bisa membantu teman-teman dalam menjawab tantangan yang dihadapi di lapangan.
Dengan terbitnya buku edisi ketiga ini, secara khusus kami ingin menyampaikan terima kasih yang tiada henti kepada para penulis, KH. Husein Muhammad, Faqihuddin Abdul Kodir, Lies Marcoes-Natsir, dan Marzuki Wahid, yang masih terus bersemangat meng-update isi modul ini, dan juga kepada Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah, Rozikoh Sukardi, Alifatul Arifiati, Satori, Maemunah Mudjahid, dan Muhammad Zaenal Fanani yang telah membantu dengan tekun seluruh proses penerbitan buku edisi ketiga ini. Tidak lupa juga kepada Robin Bush, Hana A. Satriyo, dan Sandra Hamid, yang terus memberikan dukungan dan mengobarkan api semangat kepada kami untuk tidak berhenti berjihad dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dan memperjuangkan kaum perempuan Indonesia.
Akhirnya, kami berharap kepada para pembaca budiman untuk tidak lelah memberikan kritik, masukan, dan saran kepada kami demi penyempurnaan buku ini. Kritik dan saran pembaca budiman adalah bukti peduli atas pentingnya wacana Islam dan gender bagi transformasi sosial. Kiranya Allah SWT membalas semua kebaikan dan kebaktian kita semua, jazâkumullâh ahsanal jazâ. Selamat membaса!