Lompat ke isi

Halaqah Umum: Gerakan Ulama Perempuan Indonesia; Paradigma, tantangan dan peluang gerakan: Perbedaan antara revisi

Tag: Pengembalian manual VisualEditor
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(8 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 3: Baris 3:
Halaqah Umum bertajuk Gerakan [[Ulama Perempuan]] Indonesia; Paradigma, tantangan dan peluang gerakan. Pada Kamis, 24 November 2022 menjadi forum sharing dan diskusi interaktif antara narasumber dengan peserta tentang keulamaan, keluarga maslahah dan bagaimana menggunakan metodologi dalam menyikapi isu-isu sosial. Lebih kurang 430 orang peserta dari berbagai provinsi, organisasi, pendidikan, pesantren, majlis taklim mengikuti Halaqah umum ini.
Halaqah Umum bertajuk Gerakan [[Ulama Perempuan]] Indonesia; Paradigma, tantangan dan peluang gerakan. Pada Kamis, 24 November 2022 menjadi forum sharing dan diskusi interaktif antara narasumber dengan peserta tentang keulamaan, keluarga maslahah dan bagaimana menggunakan metodologi dalam menyikapi isu-isu sosial. Lebih kurang 430 orang peserta dari berbagai provinsi, organisasi, pendidikan, pesantren, majlis taklim mengikuti Halaqah umum ini.


Dr. KH. [[Faqihuddin Abdul Kodir]], menyampaikan bagaimana paradigma pengetahuan dan metodologi dakwah dan gerakan keulamaan perempuan Indonesia, poin-poin kunci yang disampaikan  9 poin yang khas dalam metodologi, karakter, paradigma dan strategi dakwah KUPI: 1). Kesinambungan, 2). Gerakan KUPI bukan [[lembaga]] formal kata kunci (kolektif, reflektif, kolaboratif), 3). Nilai-nilai dasar karakter KUPI : Keislaman, kebangsaan, kemanusiaan dan kesemestaan, 4). Holistik  (memandang seluruh [[tradisi]] kita sebagai satu kesatuan), 5). Memandang tradisi sebagai sumber inspirasi, dari cita-cita besar kita dalam mengokohkan 9 nilai KUPI, 6). [[Keadilan Hakiki|Keadilan hakiki]] adalah menjadikan pengalam khas perempuan, laki2 harus mengambil kemaslahatan dalam setiap otoritasnya, 7). Pentingnya merujuk dalam konteks beragama dan keagamaan terutama fatwa merujuk pada konstitusi negara, 8). Pendekatan KUPI dalam tiga poin, ma’ruf, [[mubadalah]] dan [[Keadilan Hakiki|keadilan hakiki]], 9). Dakwah KUPI yang memiliki 5 karakter : hujjiyah (otoritas yang terpercaya), jama’iyyah (memastikan punya teman), rahmatiyah (sisi kasih sayang), adalah (memastikan hak), kesalingan (mubadalah).
Dr. KH. [[Faqihuddin Abdul Kodir]], menyampaikan bagaimana paradigma pengetahuan dan metodologi dakwah dan gerakan keulamaan perempuan Indonesia, poin-poin kunci yang disampaikan  9 poin yang khas dalam metodologi, karakter, paradigma dan strategi dakwah KUPI: 1). Kesinambungan, 2). Gerakan KUPI bukan [[lembaga]] formal kata kunci (kolektif, reflektif, kolaboratif), 3). Nilai-nilai dasar karakter KUPI : Keislaman, kebangsaan, kemanusiaan dan kesemestaan, 4). Holistik  (memandang seluruh [[tradisi]] kita sebagai satu kesatuan), 5). Memandang tradisi sebagai sumber inspirasi, dari cita-cita besar kita dalam mengokohkan 9 nilai KUPI, 6). [[Keadilan Hakiki|Keadilan hakiki]] adalah menjadikan pengalam khas perempuan, laki2 harus mengambil kemaslahatan dalam setiap otoritasnya, 7). Pentingnya merujuk dalam konteks beragama dan keagamaan terutama [[fatwa]] merujuk pada konstitusi negara, 8). Pendekatan KUPI dalam tiga poin, ma’ruf, [[mubadalah]] dan [[Keadilan Hakiki|keadilan hakiki]], 9). Dakwah KUPI yang memiliki 5 karakter : hujjiyah (otoritas yang terpercaya), jama’iyyah (memastikan punya teman), rahmatiyah (sisi kasih sayang), adalah (memastikan hak), kesalingan (mubadalah).


Sementara itu Dr. Nur Arfiyah menyampaikan dalam konteks bagaimana peran ulama perempuan dalam merawat dan melestarikan alam. Poin-poin kunci yang disampaikan adalah 1). Menggagas eco gender, Permasalahan lingkungan diantaranya : sikap dominatif laki-laki pada perempuan yang memengaruhi laki-laki dominatif pada sikapnya, 2). Stereotype sikap yang bias gender, 3). Setiap kita punya potensi merusak lingkungan baik laki-laki maupun perempuan, 4). Wa la tufsidu fil ardh, sudah merusak maka perbaikilah, 5). Ada sikap karakter masing-masing, baik feminin maupun maskulin, 6). Ecogender adalah as a way about thinking about environment, suatu relasi untuk memperlakukan lingkungan dengan baik, 7) Distingsi perilaku mentalitas dan emosional dibahas di sini, 8). Wa min kulli syai’in...surat Adzariyat (1) kata azwaj, sesuatu yang dibuat berpasangan, berlawanan, 9). Positif dan negatif karakter, annafsu alfu juriyah annafsu attaqwiyah Asyam (7-9), 10). Baik laki-laki maupun perempuan punya karakter positif (jamaliyah) dan negatif (jalaliyah). Beliau juga menyampaikan bahwa KOPI tidak hanya sekedar berbicara melainkan aksi yang nyata.
Sementara itu Dr. Nur Arfiyah menyampaikan dalam konteks bagaimana peran ulama perempuan dalam merawat dan melestarikan alam. Poin-poin kunci yang disampaikan adalah 1). Menggagas eco gender, Permasalahan lingkungan diantaranya : sikap dominatif laki-laki pada perempuan yang memengaruhi laki-laki dominatif pada sikapnya, 2). Stereotype sikap yang bias gender, 3). Setiap kita punya potensi merusak lingkungan baik laki-laki maupun perempuan, 4). Wa la tufsidu fil ardh, sudah merusak maka perbaikilah, 5). Ada sikap karakter masing-masing, baik feminin maupun maskulin, 6). Ecogender adalah as a way about thinking about environment, suatu relasi untuk memperlakukan lingkungan dengan baik, 7) Distingsi perilaku mentalitas dan emosional dibahas di sini, 8). Wa min kulli syai’in...surat Adzariyat (1) kata azwaj, sesuatu yang dibuat berpasangan, berlawanan, 9). Positif dan negatif karakter, annafsu alfu juriyah annafsu attaqwiyah Asyam (7-9), 10). Baik laki-laki maupun perempuan punya karakter positif (jamaliyah) dan negatif (jalaliyah). Beliau juga menyampaikan bahwa KOPI tidak hanya sekedar berbicara melainkan aksi yang nyata.
Baris 17: Baris 17:
Narasi [[Keadilan Hakiki|keadilan hakiki]] yang kita yakini baik kalah di media, di kehidupan sehari-hari kita, cara membangun narasi kita seringkali lepas dari upaya yang sistematis tentang mempelajari bagaimana  manusia mengakses informasi.  Maka gerakan tidak hanya urusan muatan, tapi juga ikatan. Yang harus kita lakukan adalah membuat narasi dengan menyasar target sosialnya dengan social emotional. Tiga hal yang harus di bangun jika ingin membuat perubahan dan empat elemen yang harus dikelola. Tiga hal tersebut ialah reacting: Membahas kasus, redesigning: Kebijakan yang berubah, dan rethinking: Values, beliefs (menawarkan paradigma baru). Dan KUPI sudah kuat dalam hal ini. Semakin dalam kita bekerja, maka perubahan itu semakin bisa berkelanjutan. Sedang Kan empat elemen yang harus dikelola adalah dorongan perubahannya (urgensinya) ada atau tidak, visi yang jelas dan dikomunikasikan dan disepakati oleh aktor-aktor, kapasitas perubahan: apakah kita bisa mendorong perubahan itu, dan strategi atau langkah pertama yang harus dilakukan. [] (ZA)
Narasi [[Keadilan Hakiki|keadilan hakiki]] yang kita yakini baik kalah di media, di kehidupan sehari-hari kita, cara membangun narasi kita seringkali lepas dari upaya yang sistematis tentang mempelajari bagaimana  manusia mengakses informasi.  Maka gerakan tidak hanya urusan muatan, tapi juga ikatan. Yang harus kita lakukan adalah membuat narasi dengan menyasar target sosialnya dengan social emotional. Tiga hal yang harus di bangun jika ingin membuat perubahan dan empat elemen yang harus dikelola. Tiga hal tersebut ialah reacting: Membahas kasus, redesigning: Kebijakan yang berubah, dan rethinking: Values, beliefs (menawarkan paradigma baru). Dan KUPI sudah kuat dalam hal ini. Semakin dalam kita bekerja, maka perubahan itu semakin bisa berkelanjutan. Sedang Kan empat elemen yang harus dikelola adalah dorongan perubahannya (urgensinya) ada atau tidak, visi yang jelas dan dikomunikasikan dan disepakati oleh aktor-aktor, kapasitas perubahan: apakah kita bisa mendorong perubahan itu, dan strategi atau langkah pertama yang harus dilakukan. [] (ZA)


=== DOKUMEN KEGIATAN: ===
=== Dokumen Kegiatan: ===
{| class="wikitable"
{|
|Materi
|Materi
|:
|:
|Materi 1
|[https://kupipedia.id/images/8/8f/Mtrhalaqahumum%281%29.pdf Tantangan dan Peluang Dakwah Gerakan Ulama Perempuan di Era Digital]
|-
|-
|
|
|
|
|Materi 2
|[https://kupipedia.id/images/9/96/Mtrhalaqahumum%282%29.pdf Eksistensi dan Otoritas Ulama Perempuan di Mata Negara: Sebuah Pendekatan Kebijakan Bimas Islam]
|-
|-
|
|
|
|
|Materi 3
|[https://kupipedia.id/images/2/21/Mtrhalaqahumum%283%29.pdf The Role of Indonesian Women Ulama in the Quranic Ecogender: From Analysis to Environmental Conservation Action]
|-
|-
|
|
|
|
|Materi 4
|[https://kupipedia.id/images/e/ed/Mtrhalaqahumum%284%29.pdf Perkawinan Anak dan Keluarga Perspektif KUPI]
|-
|-
|Notulensi
|Notulensi
Baris 45: Baris 45:
|Galeri Foto
|Galeri Foto
|:
|:
|Download
|[[Galeri Foto Halaqah Umum Gerakan Ulama Perempuan Indonesia; Paradigma, Tantangan dan Peluang Gerakan|Download]]
|-
|-
|Laporan
|Laporan Narasi
|:
|:
|Download
|Download
|}
|}
[[Kategori:Proses KUPI2]]
 
 
[[Kategori:Proses]]
[[Kategori:Proses Kongres 2]]