Lompat ke isi

Ulama Perempuan Indonesia di Cirebon: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi ''''Ulama''' sering “berjenis kelamin” laki-laki. Konstruksi pemikiran keagamaan yang sangat laki-laki terkadang “meniadakan” peran perempuan di sana. Perempuan...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(2 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 7: Baris 7:
Selayaknya, ada sekumpulan perempuan terdidik yang menafsirkan makna teks, sehingga hasil pemikiran yang muncul “berpihak” kepada kaum hawa. Kemunculan ulama perempuan dengan tafsir itu, tanpa bermaksud melemahkan ulama laki-laki akan mengubah kondisi kebangsaan. Artinya, perempuan akan semakin mendapat tempat “terhormat” dalam proses pemanusiaan dan peradaban. Ia tidak lagi dianggap kaum yang lemah dan tidak berdaya.  
Selayaknya, ada sekumpulan perempuan terdidik yang menafsirkan makna teks, sehingga hasil pemikiran yang muncul “berpihak” kepada kaum hawa. Kemunculan ulama perempuan dengan tafsir itu, tanpa bermaksud melemahkan ulama laki-laki akan mengubah kondisi kebangsaan. Artinya, perempuan akan semakin mendapat tempat “terhormat” dalam proses pemanusiaan dan peradaban. Ia tidak lagi dianggap kaum yang lemah dan tidak berdaya.  


 
=== Memaknai Teks ===
'''Memaknai teks'''
Menilik hal tersebut tampaknya tepat agenda Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) 2017, yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Cirebon, pada 25-27 April 2017. Ini menjadi momentum yang tepat dan pas untuk mengumpulkan cendekiawan dan pemerhati perempuan dalam sebuah forum. Pertemuan orang-orang berilmu ini akan menjadi asa bagi perubahan sikap dan paradigma, yang cenderung menyisihkan perempuan.
 
Menilik hal tersebut tampaknya tepat agenda Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) 2017, yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Cirebon, pada 25-27 April 2017. Ini menjadi momentum yang tepat dan pas untuk mengumpulkan cendekiawan dan pemerhati perempuan dalam sebuah forum. Pertemuan orang-orang berilmu ini akan menjadi asa bagi perubahan sikap dan paradigma, yang cenderung menyisihkan perempuan.


Jumlah pererta yang mendaftar membludak mencapai seribuan, hingga panitia menolak pendaftaran ini karena kapasitas peserta yang hanya kurang lebih 500 dan pengamat 150-an, menandakan kebangkitan perempuan dalam memaknai teks dan zaman.
Jumlah pererta yang mendaftar membludak mencapai seribuan, hingga panitia menolak pendaftaran ini karena kapasitas peserta yang hanya kurang lebih 500 dan pengamat 150-an, menandakan kebangkitan perempuan dalam memaknai teks dan zaman.
Baris 55: Baris 53:




Penulis: Rita Pranawati, ''(Dosen FISIP UHAMKA Jakarta, Anggota Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah)''
 
'''Penulis: Rita Pranawati''' ''(Dosen FISIP UHAMKA Jakarta, Anggota Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah)''


-REPUBLIKA (Opini) 27 April
-REPUBLIKA (Opini) 27 April
[[Kategori:Diskursus]]
[[Kategori:Diskursus]]
[[Kategori:Diskursus Kongres 1]]