Lompat ke isi

Modul Pelatihan Pencegahan Ekstremisme Berkekerasan dengan Pendekatan Keadilan Hakiki dan Konstitusi bagi Guru Tingkat SMA/SMK: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
'''Info Artikel:'''
'''Informasi Buku:'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://swararahima.com/2024/04/29/modul-pendidikan-pengaderan-ulama-perempuan-2/ Swara Rahima]
|[https://swararahima.com/2024/04/29/modul-pendidikan-pengaderan-ulama-perempuan-2/ Swara Rahima]  
|-
|-
|Judul Buku
|Judul Buku
|:
|:
|'''Modul Pelatihan Pencegahan Ekstremisme Berkekerasan dengan Pendekatan [[Keadilan Hakiki]] dan Konstitusi bagi Guru Tingkat SMA/SMK'''
|Modul Pelatihan Pencegahan Ekstremisme Berkekerasan dengan Pendekatan [[Keadilan Hakiki]] dan Konstitusi bagi Guru Tingkat SMA/SMK
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
| :
| [[Masruchah]] ([[KUPI]]), Debbie Affianty (WGWC), Anis Farikhatin (Perkumpulan Pappirus), Pera Soparianti (Rahima), Ratnasari (Rahima), Andi Nur Faizah (Rahima)  
|[[Masruchah]] ([[KUPI]]), Debbie Affianty (WGWC), Anis Farikhatin (Perkumpulan Pappirus), Pera Soparianti (Rahima), Ratnasari (Rahima), Andi Nur Faizah (Rahima)
|-
|-
|Editor
|Editor
|:
|:
| Pera Soparianti, Andi Nur Faizah  
|Pera Soparianti, Andi Nur Faizah
|-
|Penerbit
|:
|[[Rahima]]
|-
|-
|Tahun Terbit
|Tahun Terbit
|:
|:
|Cetakan I: November 2021  
|Cetakan I, November 2021
|-
|-
|Halaman
| Penerbit
|:
|:
|<nowiki>xvi + 154 halaman | 19cm x 26cm</nowiki>
|[[Rahima]]
|-
|-
|Akses Buku
|
Link Download
|:
|:
|[https://swararahima.com/2024/04/29/modul-pendidikan-pengaderan-ulama-perempuan-2/ Download]
|[https://swararahima.com/2024/04/29/modul-pendidikan-pengaderan-ulama-perempuan-2/ Download]
|}
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Modul Pelatihan Pencegahan Ekstremisme Berkekerasan.jpg|italic title=Modul Pelatihan Pencegahan Ekstremisme Berkekerasan dengan Pendekatan Keadilan Hakiki dan Konstitusi bagi Guru Tingkat SMA/SMK|isbn=-|pub_date=|pages=xvi + 154 halaman {{!}} 19cm x 26cm|series=Cetakan I, November 2021|notes=[https://swararahima.com/2024/04/29/modul-pendidikan-pengaderan-ulama-perempuan-2/ Download Buku]}}Ekstremisme berkekerasan merupakan sebuah ancaman nyata di Indonesia khusunya di dunia pendidikan. Sejumlah organisasi kampus dan [[lembaga]] swadaya masyarakat telah melakukan survey dan kajian atas realitas ekstremisme berkekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan. Misalnya, Survey Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Jakarta (PPIM-UIN) tahun 2017 mengenai keragaman di sekolah di Indonesia menemukan sebanyak 58,5% pandangan keagamaan siswa/mahasiswa mencerminkan opini radikal, 51,1% mencerminkan opini intoleransi internal dan 34,3% intoleransi eksternal. Selain itu, sebesar 56,9% guru-guru TK hingga SMA memiliki opini intoleran.
[[Berkas:Modul Pelatihan Pencegahan Ekstremisme Berkekerasan.jpg|ka|nirbing]]
Ekstremisme berkekerasan merupakan sebuah ancaman nyata di Indonesia khusunya di dunia pendidikan. Sejumlah organisasi kampus dan [[lembaga]] swadaya masyarakat telah melakukan survey dan kajian atas realitas ekstremisme berkekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan. Misalnya, Survey Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Jakarta (PPIM-UIN) tahun 2017 mengenai keragaman di sekolah di Indonesia menemukan sebanyak 58,5% pandangan keagamaan siswa/mahasiswa mencerminkan opini radikal, 51,1% mencerminkan opini intoleransi internal dan 34,3% intoleransi eksternal. Selain itu, sebesar 56,9% guru-guru TK hingga SMA memiliki opini intoleran.


Adapun dalam Survei Wahid Foundation (2017) menyebutkan, dari total 1.626 responden, sebanyak 60% aktivis Rohis bersedia [[jihad]] ke wilayah konflik, seperti Poso dan Suriah, sebanyak 10% responden mendukung serangan bom Sarinah, dan 6% mendukung ''Islamic State in Iraq and Syria'' (ISIS). Survei Wahid Foundation (2018) terhadap 923 terhadap pengurus Rohis menyatakan sebanyak 64,25% setuju jika umat Islam dilarang memilih pemimpin nonmuslim dan 73,3% menyatakan bersedia jika ada ajakan berjihad untuk berperang membela umat Islam yang ditindas di tempat lain. Alvara Research Center (2017) menemukan hampir 25% peserta didik siap berjihad untuk tegaknya negara Islam/khilafah. Kurang dari 20% peserta didik lebih memilih ideologi Islam dibanding Pancasila dan hampir 20% peserta didik yang setuju [[khilafah]] sebagai bentuk pemerintahan yang ideal dibanding NKRI. Sekitar 20% peserta didik menganggap Perda Syariah tepat untuk mengakomodir penganut agama mayoritas dan hampir 25% peserta didik setuju dengan pernyataan negara Islam perlu diperjuangkan untuk penerapan Islam secara ''kaffah.''
Adapun dalam Survei Wahid Foundation (2017) menyebutkan, dari total 1.626 responden, sebanyak 60% aktivis Rohis bersedia [[jihad]] ke wilayah konflik, seperti Poso dan Suriah, sebanyak 10% responden mendukung serangan bom Sarinah, dan 6% mendukung ''Islamic State in Iraq and Syria'' (ISIS). Survei Wahid Foundation (2018) terhadap 923 terhadap pengurus Rohis menyatakan sebanyak 64,25% setuju jika umat Islam dilarang memilih pemimpin nonmuslim dan 73,3% menyatakan bersedia jika ada ajakan berjihad untuk berperang membela umat Islam yang ditindas di tempat lain. Alvara Research Center (2017) menemukan hampir 25% peserta didik siap berjihad untuk tegaknya negara Islam/khilafah. Kurang dari 20% peserta didik lebih memilih ideologi Islam dibanding Pancasila dan hampir 20% peserta didik yang setuju [[khilafah]] sebagai bentuk pemerintahan yang ideal dibanding NKRI. Sekitar 20% peserta didik menganggap Perda Syariah tepat untuk mengakomodir penganut agama mayoritas dan hampir 25% peserta didik setuju dengan pernyataan negara Islam perlu diperjuangkan untuk penerapan Islam secara ''kaffah.''