2025 Construction of Husband and Wife Worker Relationship Patterns Based on the Concept of Gender Equality: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Construction of Husband and Wife Worker Relationship Patterns Based on the Concept of Gender Equality|author=* | {{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Construction of Husband and Wife Worker Relationship Patterns Based on the Concept of Gender Equality|author=*Syarif Hidayatullah (UIN Sunan Kalijaga) | ||
* | *Nerisma Eka Putri (UIN Sunan Kalijaga)|title_orig=Construction of Husband and Wife Worker Relationship Patterns Based on the Concept of Gender Equality|name=|issn=2685-0141|note=[https://www.ejournal.tsb.ac.id/index.php/jpi/article/view/2629/1186 (Download Original)]|pub_date=2025-06-13|series=Vol. 15 No. 1 (2025)|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|image_caption=|sumber=[https://www.ejournal.tsb.ac.id/index.php/jpi/article/view/2629 JPI; Jurnal Pendidikan IPS]|doi=[https://doi.org/10.37630/jpi.v15i1.2629 doi.org/10.37630/jpi.v15i1.2629]}}'''Abstrak:''' Penelitian ini mengkaji konstruksi pola relasi suami-istri berdasarkan konsep kesetaraan gender, khususnya pada keluarga dengan pasangan yang sama-sama bekerja. Struktur keluarga tradisional secara historis menempatkan laki-laki pada ranah publik sementara membatasi perempuan pada tanggung jawab domestik.Hal ini menciptakan ketidaksetaraan gender yang diperkuat oleh budaya patriarki. Penelitian kepustakaan ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitik untuk mengeksplorasi bagaimana konsep "mubadalah" (hubungan kesalingan) dapat diterapkan untuk membangun relasi suami-istri yang lebih setara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan gender merupakan konstruksi sosiokultural yang berkontribusi pada diskriminasi terhadap perempuan, yang kerap menghadapi konflik kerja–keluarga saat menyeimbangkan tanggung jawab profesional dan domestik. Konsep mubadalah, seperti dikemukakan oleh Faqihuddin Abdul Kodir, menekankan saling menghargai, kesetaraan, dan keadilan dalam relasi. Pendekatan ini menolak pemisahan yang kaku antara ranah publik dan privat serta mengadvokasi akses dan kesempatan setara bagi semua individu tanpa memandang gender. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pencapaian kesetaraan gender membutuhkan pembongkaran struktur patriarki serta penerapan hubungan resiprokal di dalam keluarga dan masyarakat. Dengan mengaplikasikan konsep mubadalah pada dinamika keluarga modern, penelitian ini memberikan kontribusi praktis terhadap wacana kesetaraan gender yang lebih luas. | ||
'''''Kata Kunci:''' Konstruksi; Relasi Suami Istri; Kesetaraan Gender'' | '''''Kata Kunci:''' Konstruksi; Relasi Suami Istri; Kesetaraan Gender'' | ||