2025 The Principle of Mubādalah in Islamic Family Law: A Functional Sociological Approach to Reducing Domestic Conflict: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 3: | Baris 3: | ||
*Jumni Nelli (UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Indonesia) | *Jumni Nelli (UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Indonesia) | ||
*Juliani Syafitri (Universitas PTIQ Jakarta, Indonesia) | *Juliani Syafitri (Universitas PTIQ Jakarta, Indonesia) | ||
*Rafia’aturrahmah (Al Azhar University, Cairo, Egypt)|title_orig=The Principle of Mubādalah in Islamic Family Law: A Functional Sociological Approach to Reducing Domestic Conflict|name=|issn=2774-6127|note=[https://jurnalfsh.uinsa.ac.id/mhs/index.php/mal/article/view/477 (Download Original)]|pub_date=August 30, 2025|series=Vol. 6 No. 4 (2025): August|image=Berkas: | *Rafia’aturrahmah (Al Azhar University, Cairo, Egypt)|title_orig=The Principle of Mubādalah in Islamic Family Law: A Functional Sociological Approach to Reducing Domestic Conflict|name=|issn=2774-6127|note=[https://jurnalfsh.uinsa.ac.id/mhs/index.php/mal/article/view/477 (Download Original)]|pub_date=August 30, 2025|series=Vol. 6 No. 4 (2025): August|image=Berkas:Ma'mal vol6 no4.png|image_caption=|sumber=[https://jurnalfsh.uinsa.ac.id/mhs/index.php/mal/article/view/477 MA'MAL: Jurnal Laboratorium Syariah dan Hukum]|doi=[https://doi.org/10.15642/mal.v7i5.477 doi.org/10.15642/mal.v7i5.477]}}'''Abstrak:''' Konflik rumah tangga sering kali berakar dari ketidakadilan gender yang memicu ketegangan peran, disfungsi komunikasi, dan kekerasan. Studi ini menganalisis relevansi konsep ''mubādalah'' (prinsip kesalingan) dalam hukum keluarga Islam sebagai solusi struktural-fungsional untuk membangun keharmonisan rumah tangga. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan, penelitian ini mengintegrasikan analisis teks-teks Islam (Al-Qur'an, hadis, hukum positif Indonesia) dan teori sosiologi keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: ''Pertama'', konsep ''mubādalah'' termanifestasi dalam lima pilar operasional: (1) tanggung jawab bersama (''mitsāqan ghalīẓan''), (2) kemitraan suami-istri (''zawj''), (3) pergaulan yang patut (''mu‘āsharah bil ma‘rūf''), (4) dialog (''tasyāwur''), dan (5) kasih sayang timbal balik (''tahābub''). ''Kedua'', pilar-pilar ini merekonstruksi hubungan gender melalui mutualitas, sehingga mengatasi konflik yang ditimbulkan oleh ketidakadilan. ''Ketiga'', perspektif sosiologi keluarga mengonfirmasi ''mubādalah'' sebagai mekanisme adaptif, dimana fleksibilitas peran memperkuat ketahanan rumah tangga menghadapi perubahan sosioekonomi. Studi ini menyimpulkan ''mubādalah'' bukan hanya sebagai kerangka normatif, tetapi juga sebagai solusi praktis bagi pasangan Muslim untuk mewujudkan keharmonisan rumah tangga yang setara dan substantif. | ||
'''Kata Kunci''': ''Mubādalah'', Hukum Keluarga, Gender, Sosiologi Fungsional, Konflik. | '''Kata Kunci''': ''Mubādalah'', Hukum Keluarga, Gender, Sosiologi Fungsional, Konflik. | ||