Lompat ke isi

Proses Kongres: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 5: Baris 5:
{{Artikelfeat|title=[[Ulama Perempuan Dalam Sejarah Islam Indonesia]]|line=[[Ulama Perempuan Dalam Sejarah Islam Indonesia|Selengkapnya...]]|content=Sejarah Islam Indonesia pun menunjukkan hal yang tidak jauh berbeda. Ada sejumlah catatan emas di sana, namun ada juga sisi gelap sejarah yang membuat potensi keulamaan perempuan tidak teraktualisasikan. Dalam perjalanan sejarah Islam Nusantara (saat itu Indonesia belum ada), tercatat beberapa nama ulama perempuan yang menonjol. Sebagian dari ulama perempuan itu adalah juga Sultanah yang memiliki kekuasaan formal dan memimpin kesultanan-kesultanan muslim sejak abad 17 M.}}{{Artikelfeat|title=[[Jangkar Pesantren Kebon Jambu]]|line=[[Jangkar Pesantren Kebon Jambu|Selengkapnya...]]|content=KUPI hadir untuk mengakui dan melegitimasi keberadaan ulama perempuan di mata publik, serta mengamplifikasi suara-suara mereka ke penjuru dunia. Memilih Pesantren Kebon Jambu al-Islamy sebagai lokasi Kongres, alasan utamanya, adalah karena ia dipimpin dan dikelola oleh seorang ulama perempuan, Ibu Nyai Hj. Masriyah Amva.}}
{{Artikelfeat|title=[[Ulama Perempuan Dalam Sejarah Islam Indonesia]]|line=[[Ulama Perempuan Dalam Sejarah Islam Indonesia|Selengkapnya...]]|content=Sejarah Islam Indonesia pun menunjukkan hal yang tidak jauh berbeda. Ada sejumlah catatan emas di sana, namun ada juga sisi gelap sejarah yang membuat potensi keulamaan perempuan tidak teraktualisasikan. Dalam perjalanan sejarah Islam Nusantara (saat itu Indonesia belum ada), tercatat beberapa nama ulama perempuan yang menonjol. Sebagian dari ulama perempuan itu adalah juga Sultanah yang memiliki kekuasaan formal dan memimpin kesultanan-kesultanan muslim sejak abad 17 M.}}{{Artikelfeat|title=[[Jangkar Pesantren Kebon Jambu]]|line=[[Jangkar Pesantren Kebon Jambu|Selengkapnya...]]|content=KUPI hadir untuk mengakui dan melegitimasi keberadaan ulama perempuan di mata publik, serta mengamplifikasi suara-suara mereka ke penjuru dunia. Memilih Pesantren Kebon Jambu al-Islamy sebagai lokasi Kongres, alasan utamanya, adalah karena ia dipimpin dan dikelola oleh seorang ulama perempuan, Ibu Nyai Hj. Masriyah Amva.}}


== Proses Kongres Ulama Perempuan Indonesia ==
== Daftar Proses KUPI 1: ==
{{columns-list|colwidth=35em|
{{columns-list|colwidth=35em|
<DynamicPageList>
<DynamicPageList>

Revisi per 8 Mei 2024 14.14


Proses Kongres adalah catatan tentang seluruh rangkaian kegiatan yang diadakan selama tiga hari Kongres di Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringan Cirebon, 25 - 27 April 2017 M bertepatan dengan 28 - 30 Rajab 1438 H.

Sejarah Islam Indonesia pun menunjukkan hal yang tidak jauh berbeda. Ada sejumlah catatan emas di sana, namun ada juga sisi gelap sejarah yang membuat potensi keulamaan perempuan tidak teraktualisasikan. Dalam perjalanan sejarah Islam Nusantara (saat itu Indonesia belum ada), tercatat beberapa nama ulama perempuan yang menonjol. Sebagian dari ulama perempuan itu adalah juga Sultanah yang memiliki kekuasaan formal dan memimpin kesultanan-kesultanan muslim sejak abad 17 M.

KUPI hadir untuk mengakui dan melegitimasi keberadaan ulama perempuan di mata publik, serta mengamplifikasi suara-suara mereka ke penjuru dunia. Memilih Pesantren Kebon Jambu al-Islamy sebagai lokasi Kongres, alasan utamanya, adalah karena ia dipimpin dan dikelola oleh seorang ulama perempuan, Ibu Nyai Hj. Masriyah Amva.

Daftar Proses KUPI 1:

Tidak ada halaman yang memenuhi kriteria ini.