Naskah Hasil Musyawarah Keagamaan Tentang Kekerasan Seksual: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 276: | Baris 276: | ||
Menyamakan perempuan korban perkosaan dengan pelaku zina yang melakukannya secara suka rela bertentangan dengan petunjuk Allah Swt yang tidak menghukum, bahkan mengampuni perempuan yang dipaksa zina oleh pihak lain (QS. An-Nur, 24: 33), padahal status perempuan dalam ayat tersebut adalah budak yang dipandang masyarakat wajar diperkosa dan dilacurkan. Apalagi jika korban perkosaan itu bukanlah budak sebagaimana terjadi pada masa sekarang. Sebaliknya, pemerkosa justru melakukan tindakan kejahtan yang menjadi salah satu unsur Hirabah, sebuah kejahatan yang hukumannya jauh lebih berat daripada hukuman zina (QS. Al-Maidah, 5: 33-34). Kejahatan Hirabah (kerap diartikan pembegalan) adalah kejahatan paling besar karena menciptakan ketakutan pada manusia, menzalimi hak hidup manusia, mengoyak kehormatan manusia, dan merampas kekayaan secara sewenang-wenang (Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, j.5, h.166). Pelaku perkosaan dengan demikian bisa diberi hukuman yang lebih berat daripada zina, meskipun lebih rendah dari hirabah. Sebaliknya, perempuan korban perkosaan meskipun melakukan hubungan seksual di luar nikah namun karena dipaksa, maka mesti dibebaskan dari hukuman zina. | Menyamakan perempuan korban perkosaan dengan pelaku zina yang melakukannya secara suka rela bertentangan dengan petunjuk Allah Swt yang tidak menghukum, bahkan mengampuni perempuan yang dipaksa zina oleh pihak lain (QS. An-Nur, 24: 33), padahal status perempuan dalam ayat tersebut adalah budak yang dipandang masyarakat wajar diperkosa dan dilacurkan. Apalagi jika korban perkosaan itu bukanlah budak sebagaimana terjadi pada masa sekarang. Sebaliknya, pemerkosa justru melakukan tindakan kejahtan yang menjadi salah satu unsur Hirabah, sebuah kejahatan yang hukumannya jauh lebih berat daripada hukuman zina (QS. Al-Maidah, 5: 33-34). Kejahatan Hirabah (kerap diartikan pembegalan) adalah kejahatan paling besar karena menciptakan ketakutan pada manusia, menzalimi hak hidup manusia, mengoyak kehormatan manusia, dan merampas kekayaan secara sewenang-wenang (Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, j.5, h.166). Pelaku perkosaan dengan demikian bisa diberi hukuman yang lebih berat daripada zina, meskipun lebih rendah dari hirabah. Sebaliknya, perempuan korban perkosaan meskipun melakukan hubungan seksual di luar nikah namun karena dipaksa, maka mesti dibebaskan dari hukuman zina. | ||
Kezaliman yang menimpa korban perkosaan juga terjadi akibat nilai kesaksian perempuan yang dirumuskan separo dari laki-laki, bahkan dalam pidana adalah nol. Akibatnya, perempuan korban perkosaan tidak bisa menjadi saksi atas kejahatan yang menimpa dirinya. Padahal al-Quran telah memberikan nilai kesaksian sama bagi perempuan dan laki-laki dalam kasus Li’an di mana suami yang tidak mempunyai bukti dalam menuduh istrinya berzina dapat sumpah lima kali. Pada saat yang sama istri dapat membatalkan tuduhan suami dengan bersumpah lima kali juga (QS. An-Nur, 24: 6-9). Sayangnya meskipun kasus Li’an juga terkait dengan zina, namun nilai kesaksian perempuan dan laki-laki di sini hanya diberlakukan pada kasus Li’an semata. | Kezaliman yang menimpa korban perkosaan juga terjadi akibat nilai [[Kesaksian Perempuan|kesaksian perempuan]] yang dirumuskan separo dari laki-laki, bahkan dalam pidana adalah nol. Akibatnya, perempuan korban perkosaan tidak bisa menjadi saksi atas kejahatan yang menimpa dirinya. Padahal al-Quran telah memberikan nilai kesaksian sama bagi perempuan dan laki-laki dalam kasus Li’an di mana suami yang tidak mempunyai bukti dalam menuduh istrinya berzina dapat sumpah lima kali. Pada saat yang sama istri dapat membatalkan tuduhan suami dengan bersumpah lima kali juga (QS. An-Nur, 24: 6-9). Sayangnya meskipun kasus Li’an juga terkait dengan zina, namun nilai kesaksian perempuan dan laki-laki di sini hanya diberlakukan pada kasus Li’an semata. | ||
Pengabaian atas suara korban perkosaan juga bertentangan dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. yang diceritakan dalam hadis riwayat Turmudzi. Dalam riwayat tersebut diceritakan adanya perempuan yang diperkosa ketika keluar rumah untuk shalat. Dalam perjalanan pulang, dibantu oleh sekelompok Muhajirin yang kemudian mengejar pelakunya. Rasulullah Saw kemudian menghukum pemerkosa dengan hukuman paling berat dan membebaskan perempuan dari hukuman zina sambil bersabda, “Pulanglah, Allah telah memaafkanmu.” (Sunan Turmudzi, no. Hadits: 4381). | Pengabaian atas suara korban perkosaan juga bertentangan dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. yang diceritakan dalam hadis riwayat Turmudzi. Dalam riwayat tersebut diceritakan adanya perempuan yang diperkosa ketika keluar rumah untuk shalat. Dalam perjalanan pulang, dibantu oleh sekelompok Muhajirin yang kemudian mengejar pelakunya. Rasulullah Saw kemudian menghukum pemerkosa dengan hukuman paling berat dan membebaskan perempuan dari hukuman zina sambil bersabda, “Pulanglah, Allah telah memaafkanmu.” (Sunan Turmudzi, no. Hadits: 4381). | ||
| Baris 425: | Baris 425: | ||
<big>تَفَاوُتُ إِثْمِ الزِّنَى: يَتَفَاوَتُ إِثْمُ الزِّنَى وَيَعْظُمُ جُرْمُهُ بِحَسَبِ مَوَارِدِهِ. فَالزِّنَى بِذَاتِ الْمَحْرَمِ أَوْ بِذَاتِ الزَّوْجِ أَعْظَمُ مِنَ الزِّنَى بِأَجْنَبِيَّةٍ أَوْ مَنْ لاَ زَوْجَ لَهَا، إِذْ فِيهِ انْتِهَاكُ حُرْمَةِ الزَّوْجِ، وَإِفْسَادُ فِرَاشِهِ، وَتَعْلِيقُ نَسَبٍ عَلَيْهِ لَمْ يَكُنْ مِنْهُ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنْ أَنْوَاعِ أَذَاهُ. فَهُوَ أَعْظَمُ إِثْمًا وَجُرْمًا مِنَ الزِّنَى بِغَيْرِ ذَاتِ الْبَعْل وَالأَْجْنَبِيَّةِ. فَإِنْ كَانَ زَوْجُهَا جَارًا انْضَمَّ لَهُ سُوءُ الْجِوَارِ. وَإِيذَاءُ الْجَارِ بِأَعْلَى أَنْوَاعِ الأَْذَى، وَذَلِكَ مِنْ أَعْظَمِ الْبَوَائِقِ، فَلَوْ كَانَ الْجَارُ أَخًا أَوْ قَرِيبًا مِنْ أَقَارِبِهِ انْضَمَّ لَهُ قَطِيعَةُ الرَّحِمِ فَيَتَضَاعَفُ الإِْثْمُ. وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّه قال لاَ يَدْخُل الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنْ جَارُهُ بَوَائِقَهُ (1) . وَلاَ بَائِقَةَ أَعْظَمُ مِنَ الزِّنَى بِامْرَأَةِ الْجَارِ. فَإِنْ كَانَ الْجَارُ غَائِبًا فِي طَاعَةِ اللَّهِ كَالْعِبَادَةِ، وَطَلَبِ الْعِلْمِ، وَالْجِهَادِ، تَضَاعَفَ الإْثْمُ حَتَّى إِنَّ الزَّانِيَ بِامْرَأَةِ الْغَازِي فِي سَبِيل اللَّهِ يُوقَفُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَأْخُذُ مِنْ عَمَلِهِ مَا شَاءَ. قَال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حُرْمَةُ نِسَاءِ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ كَحُرْمَةِ أُمَّهَاتِهِمْ، وَمَا مِنْ رَجُلٍ مِنَ الْقَاعِدِينَ يَخْلُفُ رَجُلاً مِنَ الْمُجَاهِدِينَ فِي أَهْلِهِ فَيَخُونُهُ فِيهِمْ، إِلاَّ وَقَفَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَأْخُذُ مِنْ عَمَلِهِ مَا شَاءَ فَمَا ظَنُّكُمْ؟ (2) أَيْ مَا ظَنُّكُمْ أَنْ يَتْرُكَ لَهُ مِنْ حَسَنَاتِهِ؟ قَدْ حَكَمَ فِي أَنَّهُ يَأْخُذُ مَا شَاءَ عَلَى شِدَّةِ الْحَاجَةِ إِلَى حَسَنَةٍ وَاحِدَةٍ، فَإِنِ اتَّفَقَ أَنْ تَكُونَ الْمَرْأَةُ رَحِمًا لَهُ انْضَافَ إِلَى ذَلِكَ قَطِيعَةُ رَحِمِهَا، فَإِنِ اتَّفَقَ أَنْ يَكُونَ الزَّانِي مُحْصَنًا كَانَ الإْ ثْمُ أَعْظَمَ، فَإِنْ كَانَ شَيْخًا كَانَ أَعْظَمَ إِثْمًا وَعُقُوبَةً، فَإِنِ اقْتَرَنَ بِذَلِكَ أَنْ يَكُونَ فِي شَهْرٍ حَرَامٍ، أَوْ بَلَدٍ حَرَامٍ، أَوْ وَقْتٍ مُعَظَّمٍ عِنْدَ اللَّهِ كَأَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ وَأَوْقَاتِ الإْجَابَةِ تَضَاعَفَ الإْثْمُ. (3) الموسوعة الفقهية الكويتية (24/ 20)</big> | <big>تَفَاوُتُ إِثْمِ الزِّنَى: يَتَفَاوَتُ إِثْمُ الزِّنَى وَيَعْظُمُ جُرْمُهُ بِحَسَبِ مَوَارِدِهِ. فَالزِّنَى بِذَاتِ الْمَحْرَمِ أَوْ بِذَاتِ الزَّوْجِ أَعْظَمُ مِنَ الزِّنَى بِأَجْنَبِيَّةٍ أَوْ مَنْ لاَ زَوْجَ لَهَا، إِذْ فِيهِ انْتِهَاكُ حُرْمَةِ الزَّوْجِ، وَإِفْسَادُ فِرَاشِهِ، وَتَعْلِيقُ نَسَبٍ عَلَيْهِ لَمْ يَكُنْ مِنْهُ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنْ أَنْوَاعِ أَذَاهُ. فَهُوَ أَعْظَمُ إِثْمًا وَجُرْمًا مِنَ الزِّنَى بِغَيْرِ ذَاتِ الْبَعْل وَالأَْجْنَبِيَّةِ. فَإِنْ كَانَ زَوْجُهَا جَارًا انْضَمَّ لَهُ سُوءُ الْجِوَارِ. وَإِيذَاءُ الْجَارِ بِأَعْلَى أَنْوَاعِ الأَْذَى، وَذَلِكَ مِنْ أَعْظَمِ الْبَوَائِقِ، فَلَوْ كَانَ الْجَارُ أَخًا أَوْ قَرِيبًا مِنْ أَقَارِبِهِ انْضَمَّ لَهُ قَطِيعَةُ الرَّحِمِ فَيَتَضَاعَفُ الإِْثْمُ. وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّه قال لاَ يَدْخُل الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنْ جَارُهُ بَوَائِقَهُ (1) . وَلاَ بَائِقَةَ أَعْظَمُ مِنَ الزِّنَى بِامْرَأَةِ الْجَارِ. فَإِنْ كَانَ الْجَارُ غَائِبًا فِي طَاعَةِ اللَّهِ كَالْعِبَادَةِ، وَطَلَبِ الْعِلْمِ، وَالْجِهَادِ، تَضَاعَفَ الإْثْمُ حَتَّى إِنَّ الزَّانِيَ بِامْرَأَةِ الْغَازِي فِي سَبِيل اللَّهِ يُوقَفُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَأْخُذُ مِنْ عَمَلِهِ مَا شَاءَ. قَال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حُرْمَةُ نِسَاءِ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ كَحُرْمَةِ أُمَّهَاتِهِمْ، وَمَا مِنْ رَجُلٍ مِنَ الْقَاعِدِينَ يَخْلُفُ رَجُلاً مِنَ الْمُجَاهِدِينَ فِي أَهْلِهِ فَيَخُونُهُ فِيهِمْ، إِلاَّ وَقَفَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَأْخُذُ مِنْ عَمَلِهِ مَا شَاءَ فَمَا ظَنُّكُمْ؟ (2) أَيْ مَا ظَنُّكُمْ أَنْ يَتْرُكَ لَهُ مِنْ حَسَنَاتِهِ؟ قَدْ حَكَمَ فِي أَنَّهُ يَأْخُذُ مَا شَاءَ عَلَى شِدَّةِ الْحَاجَةِ إِلَى حَسَنَةٍ وَاحِدَةٍ، فَإِنِ اتَّفَقَ أَنْ تَكُونَ الْمَرْأَةُ رَحِمًا لَهُ انْضَافَ إِلَى ذَلِكَ قَطِيعَةُ رَحِمِهَا، فَإِنِ اتَّفَقَ أَنْ يَكُونَ الزَّانِي مُحْصَنًا كَانَ الإْ ثْمُ أَعْظَمَ، فَإِنْ كَانَ شَيْخًا كَانَ أَعْظَمَ إِثْمًا وَعُقُوبَةً، فَإِنِ اقْتَرَنَ بِذَلِكَ أَنْ يَكُونَ فِي شَهْرٍ حَرَامٍ، أَوْ بَلَدٍ حَرَامٍ، أَوْ وَقْتٍ مُعَظَّمٍ عِنْدَ اللَّهِ كَأَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ وَأَوْقَاتِ الإْجَابَةِ تَضَاعَفَ الإْثْمُ. (3) الموسوعة الفقهية الكويتية (24/ 20)</big> | ||
[[Kategori:Hasil]] | [[Kategori:Hasil Kongres]] | ||
[[Kategori:Hasil | [[Kategori: Hasil Kongres1]] | ||
__TANPASUNTINGANBAGIAN__ | __TANPASUNTINGANBAGIAN__ | ||