KUPI dan Pelayaran Kemanusiaan Kita: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
Di tengah panas-meranggasnya politisasi agama, kerusakan alam, ketimpangan sosial, dan kokohnya sistem patriarkhi, terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) seperti “bermain” di tepian oase; tempat yang teduh untuk berkumpul, bersapa, bertanya, berbagi, dan bertukar pikiran tentang agama dari pengalaman perempuan dengan perspektif kebangsaan dan kemanusiaan. Kongres ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menelaah perjalanan panjang ulama perempuan, mendengarkan suara-suara mereka yang terabaikan, dan mencermati tanda tanda zaman, termasuk membaca tantangan yang paling nyata dalam kehidupan beragama dan berbangsa kita saat ini. | Di tengah panas-meranggasnya politisasi agama, kerusakan alam, ketimpangan sosial, dan kokohnya sistem patriarkhi, terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) seperti “bermain” di tepian oase; tempat yang teduh untuk berkumpul, bersapa, bertanya, berbagi, dan bertukar pikiran tentang agama dari pengalaman perempuan dengan perspektif kebangsaan dan kemanusiaan. Kongres ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menelaah perjalanan panjang ulama perempuan, mendengarkan suara-suara mereka yang terabaikan, dan mencermati tanda tanda zaman, termasuk membaca tantangan yang paling nyata dalam kehidupan beragama dan berbangsa kita saat ini. | ||
KUPI berlangsung semarak, mulai dari seminar internasional di kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon, aksi-aksi sosial, hingga serangkaian diskusi tematik, pembacaan ikrar dan perumusan “fatwa” ([[musyawarah]] keagamaan) di Ponpes Kebon Jambu al-Islami Babakan Ciwaringin Cirebon, pada tanggal 25-27 April 2017. Perlahan tetapi pasti saya melihat oase itu telah menjelma menjadi laut. Laut biru yang bukan hanya menyediakan kesejukan air, tetapi juga membentangkan horizon, menyediakan keluasan, kedalaman, keindahan, kekayaan, dan referensi perjalanan ke segala arah dengan debar dan debur. Ikrar KUPI dan hasil musyawarah keagamaan di Kebon Jambu adalah tiang-tiang pancang layar perjalanan bersama mencari nilai yang hakiki, yang sejati, dan yang otentik. | KUPI berlangsung semarak, mulai dari seminar internasional di kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon, aksi-aksi sosial, hingga serangkaian diskusi tematik, pembacaan ikrar dan perumusan “fatwa” ([[musyawarah]] keagamaan) di Ponpes Kebon Jambu al-Islami Babakan Ciwaringin Cirebon, pada tanggal 25-27 April 2017. Perlahan tetapi pasti saya melihat oase itu telah menjelma menjadi laut. Laut biru yang bukan hanya menyediakan kesejukan air, tetapi juga membentangkan horizon, menyediakan keluasan, kedalaman, keindahan, kekayaan, dan referensi perjalanan ke segala arah dengan debar dan debur. Ikrar KUPI dan hasil [[Musyawarah Keagamaan|musyawarah keagamaan]] di Kebon Jambu adalah tiang-tiang pancang layar perjalanan bersama mencari nilai yang hakiki, yang sejati, dan yang otentik. | ||
Banyak air mata yang meleleh ketika KUPI ditutup. Air mata itu membasahi wajah, menemani irama hati para peserta dan penyelenggara: yang tergetar saat mendengarkan doa ''tawasul'' oleh Nyai Hj. Masturoh Hannan, [[tokoh]] perempun kharismatik dari Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon; yang tersentuh saat Sekretaris Umum KUPI, [[Ninik Rahayu]] mengucapkan terima kasih dengan membagikan setangkai bunga pada santri-santri yang selama kongres bekerja keras membersihkan sampah dari ruangan sidang, mengatur parkir, menyediakan makanan, dan menata sandal serta sepatu peserta-peserta kongres; juga hati kita yang terasa lapang saat mendengarkan ikrar dan hasil-hasil musyawarah keagamaan KUPI; hati yang bahagia mendengarkan sambutan Menteri Agama RI Drs. H. Lukman Hakim Saefuddin dan pimpinan DPD RI, GKR Hemas. Airmata pun tak terbendung saat peserta meledak dalam derai tawa menyaksikan episode pelepasan burung merpati sebagai bagian dari upacara penutupan. | Banyak air mata yang meleleh ketika KUPI ditutup. Air mata itu membasahi wajah, menemani irama hati para peserta dan penyelenggara: yang tergetar saat mendengarkan doa ''tawasul'' oleh Nyai Hj. Masturoh Hannan, [[tokoh]] perempun kharismatik dari Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon; yang tersentuh saat Sekretaris Umum KUPI, [[Ninik Rahayu]] mengucapkan terima kasih dengan membagikan setangkai bunga pada santri-santri yang selama kongres bekerja keras membersihkan sampah dari ruangan sidang, mengatur parkir, menyediakan makanan, dan menata sandal serta sepatu peserta-peserta kongres; juga hati kita yang terasa lapang saat mendengarkan ikrar dan hasil-hasil [[Musyawarah Keagamaan KUPI|musyawarah keagamaan KUPI]]; hati yang bahagia mendengarkan sambutan Menteri Agama RI Drs. H. Lukman Hakim Saefuddin dan pimpinan DPD RI, GKR Hemas. Airmata pun tak terbendung saat peserta meledak dalam derai tawa menyaksikan episode pelepasan burung merpati sebagai bagian dari upacara penutupan. | ||
Rasanya tidak berlebihan jika saya atau orang lain mengatakan bahwa KUPI adalah sebuah pertemuan yang luar biasa. Air mata dan derai tawa itu bagaikan stempel konfirmasi yang dibuat oleh hati. Pada air mata ada ikatan batin. Pada derai tawa ada kemampuan membuat jarak, kemampuan berbahagia dalam menyadari kekurangan dan sekaligus kemampuan menihilkan yang menjulang berlebihan. Dengan rangkaian diskusi tematik dan internasonal, dengan linangan air mata dan derai tawa, KUPI menjadi sebuah pertemuan yang lengkap: sarat cerita, sarat makna, sarat pemikiran, dan sarat rasa. | Rasanya tidak berlebihan jika saya atau orang lain mengatakan bahwa KUPI adalah sebuah pertemuan yang luar biasa. Air mata dan derai tawa itu bagaikan stempel konfirmasi yang dibuat oleh hati. Pada air mata ada ikatan batin. Pada derai tawa ada kemampuan membuat jarak, kemampuan berbahagia dalam menyadari kekurangan dan sekaligus kemampuan menihilkan yang menjulang berlebihan. Dengan rangkaian diskusi tematik dan internasonal, dengan linangan air mata dan derai tawa, KUPI menjadi sebuah pertemuan yang lengkap: sarat cerita, sarat makna, sarat pemikiran, dan sarat rasa. | ||
| Baris 28: | Baris 28: | ||
''(Aktifis Perempuan, tinggal di Karawang/Anggota Alimat/Div. Publikasi KUPI)'' | ''(Aktifis Perempuan, tinggal di Karawang/Anggota Alimat/Div. Publikasi KUPI)'' | ||
[[Kategori:Refleksi | [[Kategori:Refleksi]] | ||
[[Kategori:Refleksi | [[Kategori:Refleksi Kongres 1]] | ||