Lompat ke isi

KUPI II: Beragama dengan Menyesuaikan Tuntutan Zaman: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 2: Baris 2:
[[Berkas:Brtkupi2-95.jpg|jmpl|500x500px|<small>Dok. pribadi</small>]]
[[Berkas:Brtkupi2-95.jpg|jmpl|500x500px|<small>Dok. pribadi</small>]]
AGAMA Islam pernah mencapai masa keemasan dan masa kemundurannya di era silam. Kemunduran tersebut dicatat sejarah sebagai akibat dari fanatisme terhadap ajaran agama yang berlebihan dan perebutan kekuasaan politik yang ‘tak berkesudahan. Kondisi ini melahirkan para pemikir dan mujadid yang memiliki gagasan serta gerakan terhadap penafsiran agama yang lebih responsif dengan tuntutan zaman. Pintu [[ijtihad]] dibuka selebar-lebarnya, disertai dengan penguasaan terhadap sains dan teknologi terbarukan yang dilakukan oleh umat muslim di era kontemporer saat ini.  
AGAMA Islam pernah mencapai masa keemasan dan masa kemundurannya di era silam. Kemunduran tersebut dicatat sejarah sebagai akibat dari fanatisme terhadap ajaran agama yang berlebihan dan perebutan kekuasaan politik yang ‘tak berkesudahan. Kondisi ini melahirkan para pemikir dan mujadid yang memiliki gagasan serta gerakan terhadap penafsiran agama yang lebih responsif dengan tuntutan zaman. Pintu [[ijtihad]] dibuka selebar-lebarnya, disertai dengan penguasaan terhadap sains dan teknologi terbarukan yang dilakukan oleh umat muslim di era kontemporer saat ini.  
Keberadaan [[KUPI]] (Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia) merupakan salah satu bukti nyata adanya gerakan pembaruan dalam konteks intelektual muslim Indonesia. Melalui berbagai perkembangannya sejak dibentuk pada 2017, KUPI II yang akan diadakan November mendatang di UIN Walisongo Semarang dan Pondok Pesantren [[Hasyim Asy’ari Bangsri]] Jepara, berhasil mengusung isu-isu yang bersifat ‘genting,’ yang hasilnya diharapkan dapat bermanfaat bagi kemaslahatan umat.  
Keberadaan [[KUPI]] (Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia) merupakan salah satu bukti nyata adanya gerakan pembaruan dalam konteks intelektual muslim Indonesia. Melalui berbagai perkembangannya sejak dibentuk pada 2017, KUPI II yang akan diadakan November mendatang di UIN Walisongo Semarang dan Pondok Pesantren [[Hasyim Asy'ari Bangsri]] Jepara, berhasil mengusung isu-isu yang bersifat ‘genting,’ yang hasilnya diharapkan dapat bermanfaat bagi kemaslahatan umat.  


Isu yang diangkat merupakan isu-isu sosial, isu yang kerap dikaitkan dengan narasi-narasi agama yang tidak berkeadilan. Narasi agama yang kerap dipergunakan pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk pemenuhan hajat diri dan kelompok. Dengan menggunakan metodologi, pendekatan, dan analisis khas KUPI, para [[tokoh]] berhasil merumuskan dan menghasilkan hasil [[musyawarah]] ([[fatwa]]) yang berkaitan dengan kebangsaan, kemanusiaan, dan kesemestaan.  
Isu yang diangkat merupakan isu-isu sosial, isu yang kerap dikaitkan dengan narasi-narasi agama yang tidak berkeadilan. Narasi agama yang kerap dipergunakan pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk pemenuhan hajat diri dan kelompok. Dengan menggunakan metodologi, pendekatan, dan analisis khas KUPI, para [[tokoh]] berhasil merumuskan dan menghasilkan hasil [[musyawarah]] ([[fatwa]]) yang berkaitan dengan kebangsaan, kemanusiaan, dan kesemestaan.