Lompat ke isi

2023 Faqihuddin Abdul Kodir's Reasoning on Alimony The Epistemological Perspective of Bayani, Burhani, and Irfani: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|editor=|publisher=|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|italic title=HUKAMA: The Indonesian Journal of Islamic Family Law|isbn=2548-8147|pub_date=2023-12-05|cover_...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 21: Baris 21:
| ''Mohammad Fauzan Ni'ami (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), Ahmad Izzuddin (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), Citra Widyasari S (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Abdul Karim Amrullah (Al-Azhar University)''
| ''Mohammad Fauzan Ni'ami (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), Ahmad Izzuddin (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), Citra Widyasari S (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Abdul Karim Amrullah (Al-Azhar University)''
|}
|}
'''Abstract'''
'''''Abstract'''''


Dalam Kompilasi Hukum Islam, pengertian nusyuz secara eksklusif mengatur tentang nusyuz yang dilakukan oleh istriKompilasi Hukum Islam yang menganut hukum nusyuz tetap berpijak pada fikih patriarki yang berlandaskan pada ajaran agama yang mendasar. Dari segi metodologi, KHI tetap menyerupai gagasan para peneliti sebelumnyaPerspektif dan konteks umat Islam Indonesia belum tertanam secara baik dalam rumusan perundang-undangan KHI. Kandungan materiilnya, sebagai hukum positif di Indonesia, adalah keabsahan [[fiqh]] yang memberikan kedudukan tersendiri bagi perempuan. Kajian penelitian dilakukan melalui pendekatan konseptual (conceptual appoarch). Disamping itu penelitian ini juga menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Al-Qur'an memperlakukan nusyuz dari dua sudut pandang, sehingga menjadikannya sebagai penghujatan dalam kaitannya dengan nusyuzDengan kata lain, nusyuz itu ada dua macam: satu dari istri (QS. an-Nisa [4]: ​​34) dan satu lagi dari suami (QS. an-Nisa [4]: ​​128).  Cara apapun (mauizhatul hasanah, hajrun, dhorbun, islah, ihsan, taqwa) dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
''The reinterpretation of the concept of alimony plays a pivotal role in defining familial roles. This article delves into the epistemological reasoning of [[Faqihuddin Abdul Kodir]] in  redefining  the  concept  of  alimony  within a  modern contextEmploying conceptual and philosophical approaches, the article reveals that the alimony concept introduced by Kodir is a product of epistemological reasoning encompassing bāyani, burhāni, and irfānidimensions. Bāyanireasoning  is  demonstrated  through  an  understanding approachand the tabdīl (replacement) method used to analyze alimony texts. Burhānireasoning  is  supported  by  rational  thinking, utilizing primaryand  minor  premises derived  from  the  current  phenomena  within  family  dynamics. Irfānireasoning is evidenced through the elucidation of meaning by Kodir, specifically regarding alimony texts  as  a  project  for  the  development  of  divine  law (al-aḥkām  al-ilāhiyyah) based  on the  values  of  love  and  compassion (raḥmatan lil 'ālamin).  This  reformulation  has implications  for  methodological  and  practical  innovations  regarding  alimony  in  local and global contexts.''


'''Abstrak'''


Pembaharuan    interpretasi    terhadap    konsep    [[nafkah]]    berperan    penting    dalam pembagian  peran  dalam  keluarga. Artikel  ini mengkaji penalaran  epistemologis Faqihuddin Abdul Kodir dalam mereformulasi konsep nafkah dalam konteks modern. Dengan memanfatkan  pendekatan  konseptual  dan  filosofis,  artikel  ini  menemukan bahwa  konsep  nafaqah  yang  digagas  oleh  Faqihuddin  Abdul  Kodir  dihasilkan  melalui penalaran  epistemologis bayani,  burhani  dan irfāni. Penalaranbāyanidibuktikan dengan    pendekatan    pemahaman    dan    metode tabdīlyang    digunakan    untuk menganalisis  teks-teks nafkah.Penalaran burhānidibuktikan  dengan  pemikiran rasional menggunakan mayor dan minor yang berasal dari realitas fenomena keluarga saat ini. Penalaran irfānidibuktikan dengan pengungkapan makna yang dilakukan oleh Kodir, yaitu teks nafkah sebagai proyek pengembangan hukum ilāhiyyahberdasarkan raḥmatan  lil 'ālamin. Artikel  ini  berimplikasi  pada pembaharuan  metodologis  dan praktisterhadap nafkah, dalam konteks lokal dan global.


 
'''Keywords:''' ''Alimony, Reasoning, Epistemology''
 
 
'''''Keywords:''' Nusyuz, KHI, [[Mubadalah]]''  


Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''https://jurnalfsh.uinsa.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/1946'''''
Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''https://jurnalfsh.uinsa.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/1946'''''

Revisi per 30 Juli 2024 11.35

2023 Faqihuddin Abdul Kodir's Reasoning on Alimony The Epistemological Perspective of Bayani, Burhani, and Irfani
JudulHUKAMA: The Indonesian Journal of Islamic Family Law
SeriVol. 13 No. 2 (2023): December
Tahun terbit
2023-12-05
ISBN2548-8147
Nama Jurnal : HUKAMA: The Indonesian Journal of Islamic Family Law
Seri : Vol. 13 No. 2 (2023): December
Tahun : 2023-12-05
Judul Tulisan : Faqihuddin Abdul Kodir's Reasoning on Alimony The Epistemological Perspective of Bayani, Burhani, and Irfani
Penulis : Mohammad Fauzan Ni'ami (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), Ahmad Izzuddin (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), Citra Widyasari S (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Abdul Karim Amrullah (Al-Azhar University)

Abstract

The reinterpretation of the concept of alimony plays a pivotal role in defining familial roles. This article delves into the epistemological reasoning of Faqihuddin Abdul Kodir in redefining the concept of alimony within a modern context. Employing conceptual and philosophical approaches, the article reveals that the alimony concept introduced by Kodir is a product of epistemological reasoning encompassing bāyani, burhāni, and irfānidimensions. Bāyanireasoning is demonstrated through an understanding approachand the tabdīl (replacement) method used to analyze alimony texts. Burhānireasoning is supported by rational thinking, utilizing primaryand minor premises derived from the current phenomena within family dynamics. Irfānireasoning is evidenced through the elucidation of meaning by Kodir, specifically regarding alimony texts as a project for the development of divine law (al-aḥkām al-ilāhiyyah) based on the values of love and compassion (raḥmatan lil 'ālamin). This reformulation has implications for methodological and practical innovations regarding alimony in local and global contexts.

Abstrak

Pembaharuan interpretasi terhadap konsep nafkah berperan penting dalam pembagian peran dalam keluarga. Artikel ini mengkaji penalaran epistemologis Faqihuddin Abdul Kodir dalam mereformulasi konsep nafkah dalam konteks modern. Dengan memanfatkan pendekatan konseptual dan filosofis, artikel ini menemukan bahwa konsep nafaqah yang digagas oleh Faqihuddin Abdul Kodir dihasilkan melalui penalaran epistemologis bayani, burhani dan irfāni. Penalaranbāyanidibuktikan dengan pendekatan pemahaman dan metode tabdīlyang digunakan untuk menganalisis teks-teks nafkah.Penalaran burhānidibuktikan dengan pemikiran rasional menggunakan mayor dan minor yang berasal dari realitas fenomena keluarga saat ini. Penalaran irfānidibuktikan dengan pengungkapan makna yang dilakukan oleh Kodir, yaitu teks nafkah sebagai proyek pengembangan hukum ilāhiyyahberdasarkan raḥmatan lil 'ālamin. Artikel ini berimplikasi pada pembaharuan metodologis dan praktisterhadap nafkah, dalam konteks lokal dan global.

Keywords: Alimony, Reasoning, Epistemology

Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: https://jurnalfsh.uinsa.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/1946