Lompat ke isi

Pernyataan Sikap Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Atas Kejahatan Kemanusiaan Israel di Palestina: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://www.nu.or.id/nasional/kursus-keluarga-bahagia-bersama-20-ulama-perempuan-nusantara-xAuXD NU Online] |- |Penulis |:...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://www.nu.or.id/nasional/kursus-keluarga-bahagia-bersama-20-ulama-perempuan-nusantara-xAuXD NU Online]
|[https://fahmina.or.id/pernyataan-sikap-kongres-ulama-perempuan-indonesia-kupi-atas-kejahatan-kemanusiaan-israel-di-palestina/ Fahmina]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Syifa Arrahmah (Kontributor)
|[[Fahmina]]
|-
|-
|Tanggal  Terbit
|Tanggal  Terbit
|:
|:
|<nowiki>Sabtu, 17 April 2021 | 11:30 WIB</nowiki>
|19 Juli 2024
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://www.nu.or.id/nasional/kursus-keluarga-bahagia-bersama-20-ulama-perempuan-nusantara-xAuXD Kursus Keluarga Bahagia Bersama 20 Ulama Perempuan Nusantara]
|[https://fahmina.or.id/pernyataan-sikap-kongres-ulama-perempuan-indonesia-kupi-atas-kejahatan-kemanusiaan-israel-di-palestina/ Pernyataan Sikap Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Atas Kejahatan Kemanusiaan Israel di Palestina]
|}
|}
''Jakarta, '''NU Online'''''
''Bismillahirrahmaanirrahiim''


Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) bersinergi dengan [[Mubadalah]] mengadakan Kelas Intensif Ramadhan 1442 H 20 Hari bersama 20 Ulama Perempuan Nusantara. Berbalut tema Kursus Keluarga Bahagia Kitab Manba'ussa'adah, kelas resmi dibuka Jumat (16/4) oleh Nyai [[Badriyah Fayumi]] dan KH. Faqihuddin Abdul Qodir melalui Fanpage Mubadalah.id. Kegiatan tersebut juga ditayangkan melalui Fanpage Mubadalah setiap pukul 13.00 WIB.
Menyikapi tindakan-tindakan genosida dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Zionis Isreal terhadap warga Palestina, yang terus bertubi-tubi dan tiada henti, dengan pembiaran negara-negara adikuasa, dan melemahnya komitmen global secara kongkret, dengan ini Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia -meneguhkan kembali seruan moral dan aksi yang telah dilakukan – dengan menyerukan:


Kitab Manba'ussa'adah sendiri berisikan pokok-pokok pemikiran para ulama perempuan yang dipimpin oleh Nyai Hj Shinta Nuriyah Wahid, yang banyak merujuk kepada prinsip-prinsip Islam rahmatan lil alamin yang disertai prinsip akhlak mulia.
# Seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk memberi perhatian pada pentingnya penghentian segala bentuk kejahatan kemanusiaan Zionis Israel kepada warga Palestina dan pemulihan hakhak mereka atas kehidupan, sebagai orang-orang yang tertindas, lemah, dan dilemahkan. Ajaranajaran keagamaan apapun, nilai-nilai kemanusiaan di manapun, dan terutama Konstitusi Republik Indonesia, nyata dan terang benderang menolak segala bentuk penjajahan, kejahatan, dan genosida atas warga Palestina dan menuntut seluruh institusi negara dan agama di dunia untuk bersatu padu menekan Negara Israel agar segera menghentikan kejahatan kemanusiaannya dan memulihkan seluruh hak-hak warga Palestina.
# Sebagai implementasi dari misi [[tauhid]] dan risalah kenabian yang memanusiakan semua manusia dan menghapuskan segala bentuk kezaliman di muka bumi ini, [[KUPI]] menyerukan kepada semua pihak, terutama [[jaringan]] ulama perempuan Indonesia, untuk berkomitmen secara kuat, jelas, dan tegas pada keberpihakan bagi penghentian segala bentuk kejahatan kemanusiaan dan pemulihan hak-hak yang tertindas sebagai hal yang makruf, yang harus diperjuangkan secara [[mubadalah]], atau kemitraan, kerjasama, kesalingan, dan kesetaraan, dengan pondasi keadilan hakiki bagi kelompok yang tertindas dan termarjinalkan, terutama perempuan dan anak-anak.
# Saat badan-badan formal dunia terlihat ragu dan/atau buntu dalam keberpihakan ini, masyarakat sipil dunia dan terutama Indonesia, termasuk organisasi-organisasi keagamaan dan keulamaan, [[lembaga]]-lembaga lintas iman, dengan segala modalitas sosial dan kultural yang dimiliki, harus terus menyalakan semangat dan secara cermat mengkonsolidasikan diri untuk penghentian kejahatan kemanusiaan di Palestina dan pemulihan hak-hak warganya atas kehidupan, kemerdekaan, dan perdamaian.
# Dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Palestina, semua elemen bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang pernah merasakan penderitaan penjajahan, agar dapat mengambil peran dengan cara-cara yang makruf, yakni sesuai konstitusi negara, selaras dengan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan universal, serta membawa ketenangan rasa dan penerimaan masyarakat luas, dan pada saat yang sama menghindari segala tindakan dan cara yang dapat mencederai rasa keadilan dan kemanusiaan, serta melemahkan konsolidasi anak bangsa yang sedang bersamasama berjuang dan mendukung kemerdekaan Palestina.
# Menyerukan segenap umat Islam, terutama jaringan ulama perempuan, untuk terus melanjutkan berbagai ikhtiar yang telah dan sedang dilakukan, seraya terus berdoa kepada Allah Swt demi perjuangan Bangsa Palestina agar segera terbebas dari segala bentuk kejahatan kemanusiaan dan penjajahan, dan memperoleh haknya untuk merdeka, berdaulat, aman, dan damai.
# Atas nama Jaringan Ulama Perempuan Indonesia


"Prinsip-prinsip ini harus hadir sejak dalam kehidupan berkeluarga, terutama dalam konteks hubungan relasi suami istri, jadi, kitab ini merujuk pada prinsip-prinsip tersebut, lalu kemudian diterjemahkan dalam relasi suami istri," kata Kiai Faqih dalam pidato pengantarnya.


Diterangkan pula oleh Kang Faqih, sapaan akrabnya, bahwa risalah ini hadir sebagai jawaban atas keinginan para santri di berbagai pesantren yang menginginkan kitab berbahasa Arab yang dapat merepresentasikan relasi suami istri dalam berkeluarga.


"Karena membangun keluarga itu harus membangun seluruh anggota keluarga yang ada di dalamnya. Nah, kitab ini sangat baik untuk menyusun atau merencanakan berkeluarga yang anggotanya satu sama lain mempunyai sikap, prinsip, relasi yang mubadalah (kesalingan) atau musyarakah. Jadi, menikah itu mempertemukan aku dan kau menjadi kita, sehingga satu sama lain jika baik berembuk bersama, jika buruk tidak melakukannya," jelasnya.
Jakarta, 18 Juli 2024


Oleh karena itu, secara umum kitab ini merupakan bentuk perhatian kepada pasangan suami istri dalam menjalani kehidupan berkeluarga untuk saling menguatkan, berbahagia dan juga membahagiakan. Kang Faqih juga berharap Kajian ini menjadi sarana terpancarnya aura kebahagiaan dalam mewujudkan kehidupan berkeluarga yang berkesalingan.  
TTD.


"Melalui berbagai pembahasan yang intinya adalah bahwa kebahagiaan itu bagian dari ibadah, karena itu kalau menikah itu harus untuk kebahagiaan, jadi, harus kita wujudkan bersama bahagia adalah ibadah dan membahagiakan juga bagian dari ibadah, karena itu, saya namakan kitab ini Manba'ussa'adah (telaga kebahagiaan)," tuturnya.
'''Nyai Hj. [[Badriyah Fayumi]] Nyai'''


Di kesempatan yang sama, Nyai Badriyah menyampaikan bahwa momentum Ramadhan kali ini menjadi titik temu antara KUPI, [[tradisi]] Nusantara, dan tradisi pesantren melalui kajian selama 20 hari ke depan dengan sama-sama mengaji satu kitab, yaitu Manba'ussa'adah.
Ketua Majelis [[Musyawarah]] KUPI


"Dua puluh ulama perempuan Nusantara selama 20 hari ngaji satu kitab. Insyaallah substansinya khatam, ya meskipun mungkin tidak dibaca satu demi satu kata seperti dalam khataman kitab kuning di pesantren-pesantren pada bulan Ramadhan," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina ini.
'''Hj. [[Masruchah]]'''


Ny. Badriyah Fayumi merespons dan memaknai tradisi pesantren yang mulai beradaptasi dengan dunia digital sebagai hikmah di balik musibah pandemi Covid-19, sebagaimana kajian 20 hari bersama 20 ulama perempuan yang diadakan secara virtual juga merupakan membangun tradisi baru yang berakar kuat pada tradisi lama.
Sekretaris Majelis Musyawarah KUPI
 
"Penggunaan media online ini mempunyai manfaat bagi orang-orang pesantren untuk menyalurkan pengetahuannya, berdiskusi, untuk bersilaturahim, bahkan untuk bermuktamar pemikiran tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, dan ini suatu berkah," ungkapnya.
 
Oleh karena itu, pihaknya mengajak kepada seluruh partisipan yang ikut mengaji dan para ibu Nyai sebagai pengajar untuk bersyukur. "Bahwa kita bisa bersama-sama hadir dan menjadi bagian dari tradisi baru yang diinisiasi dan dilakukan oleh para ulama perempuan," imbuhnya.
[[Kategori:Berita KUPI]]
[[Kategori:Berita KUPI]]
[[Kategori:Berita 2024]]
[[Kategori:Berita 2024]]