Menikah Bukan Semata soal Penyaluran Hasrat Seksual: Perbedaan antara revisi
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Info Artikel''' | '''Info Artikel''' | ||
{| | {| | ||
| | |Sumber | ||
|: | |: | ||
|[https://nu.or.id/nikahkeluarga/menikah-bukan-semata-soal-penyaluran-hasrat-seksual-eK2AZ nu.or.id] | |[https://nu.or.id/nikahkeluarga/menikah-bukan-semata-soal-penyaluran-hasrat-seksual-eK2AZ nu.or.id] | ||
Revisi per 13 September 2024 14.02
Info Artikel
| Sumber | : | nu.or.id |
| Penulis | : | Ahmad Dirgahayu Hidayat |
| Tanggal Publikasi | : | Kamis, 17 Juni 2021 | 14:00 WIB |
| Artikel Lengkap | : | Menikah Bukan Semata soal Penyaluran Hasrat Seksual |
Sebelum mendalami agama secara fokus, hanya dari para ustadz di kelas diniyah atau dari guru-guru agama di SMP atau SMA, saya mendapat keterangan bahwa solusi menikah yang ditawarkan agama bertujuan untuk sebagai tempat atau wadah penyaluran hasrat seksual. Tidak jauh dari itu. Bagi saya, keterangan yang disampaikan waktu itu memang benar-benar terpotong. Padahal, bila dilanjutkan lebih dalam, bukan demikian. Kita akan menemukan apa maksud teks-teks syariat sebenarnya, dan tafsir-tafsir para ulama terkait solusi yang diberikan agama.
Pasalnya, semua itu mungkin berawal dari pemahaman kita yang tidak selesai atas teks-teks hadits tentang ini. Misalnya, hadits riwayat sahabat ‘Alqamah dalam Shahih al-Bukhari (pada Kitabu an-Nikah dalam pembahasan Man lam yastathi’ al-ba‘ah falyashum, hadits ke 5066 (hal. 955)). Rasulullah ﷺ bersabda: