|
|
| Baris 3: |
Baris 3: |
| |Sumber Original | | |Sumber Original |
| |: | | |: |
| |[https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39728745 bbc.com] | | |[https://kbr.id/berita/nasional/masriyah-amva,-penerima-sk-trimurti-2014 kbr.id] |
| |- | | |- |
| |Penulis | | |Penulis |
| |: | | |: |
| |Sri Lestari dan Christine Franciska (Peranan,Wartawan BBC Indonesia) | | |Rio Tuasikal, Editor: Pebriansyah Ariefana |
| |- | | |- |
| |Tanggal Publikasi | | |Tanggal Publikasi |
| |: | | |: |
| |27 April 2017 | | |Jumat 22 Agustus 2014 pukul 21.30 WIB |
| |- | | |- |
| |Artikel Lengkap | | |Artikel Lengkap |
| |: | | |: |
| |[https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39728745 Masriyah Amva, Puisi Cinta Sang Nyai Untuk Tuhan] | | |[https://kbr.id/berita/nasional/masriyah-amva,-penerima-sk-trimurti-2014 Masriyah Amva, Penerima SK Trimurti 2014] |
| |}Nyai Hj. [[Masriyah Amva]] menjalani sepuluh terakhir hidupnya memimpin Pesantren [[Kebon Jambu Al-Islamy|Kebon Jambu al-Islamy]] di Babakan Ciwaringin, Cirebon, menggantikan suaminya, KH Muhammad, yang meninggal dunia pada 2007 lalu. Dia mengajarkan kesetaraan gender dan pluralisme di lingkungan pesantren, tetapi perjalanannya sebagai ulama perempuan tidaklah mudah. | | |}KBR, Jakarta - [[Masriyah Amva]], perempuan pemimpin pesantren Kebon Jambu, Cirebon, Jawa Barat, ini tidak pernah menyangka akan menerima penghargaan SK Trimurti. Penghargaan ini diberikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kepada orang yang menyuarakan kesetaraan gender, pluralisme, dan literasi. |
|
| |
|
| Sejak kecil Masriyah hidup di lingkungan pesantren yang dipimpin ayahnya, KH Amrin Hanan, dan Hj.Fariatul 'Aini. Ayahnya mengajarkan anak-anak perempuannya untuk menempuh pendidikan yang sama dengan laki-laki.
| | "Bagi saya luar biasa sekali. Ini harus saya jaga," kata Masriyah saat ditemui dalam resepsi HUT ke-20 AJI di Jakarta, Jumat (22/8) sore. |
|
| |
|
| "Ketika itu orang tua saya punya anak perempuan terus, walaupun kemudian ada adik saya laki-laki, lalu akhirnya mereka bertekad agar anak-anak perempuannya mendapatkan pendidikan yang sama," kata Masriyah.
| | Semua berawal ketika suaminya meninggal 2006. Kala itu, dia harus melanjutkan pesantren yang didirikan bersama suaminya sejak 1993, sambil menghadapi kesedihan. Dia mengungkapkan perasaannya lewat puisi. |
|
| |
|
| Dia sempat belajar di Pesantren Al-Muayyad Solo, Pesantren Al-Badi'iyyah Pati, Jawa Tengah, dan Pesantren Dar al-Lughah wa Da'wah di Bangil, Jawa Timur. Ketika belajar di Bangil, dia menikah dengan suami pertamanya, KH Syakur Yasin, dan menetap di Tunisia selama empat tahun.
| | "Curhat curhat, nggak berniat jadi buku. Nggak berniat dapat penghargaan," kata Marsiyah. |
|
| |
|
| Setelah delapan tahun mereka bercerai dan beberapa tahun kemudian Masriyah menikah dengan KH Muhammad, pengasuh Pesantren Kebon Melati. Mereka berdua mendirikan Pesantren Kebon Jambu, dan ketika itu Masriyah mengelola pesantren putri.
| | Marsiyah menceritakan kegemarannya menulis malam ke pagi. Dia biasa menulis dengan tangan di kertas HVS. Bisa sebanyak 10 sampai 20 lembar. Paginya, Masriyah meminta santrinya mengetikkan naskahnya di komputer. |
|
| |
|
| === Memimpin pesantren ===
| | Sudah 12 buku diterbitkan, berupa kumpulan puisi, prosa, hingga narasi. Buku-bukunya antara lain 'Bangkit Dari Terpuruk', 'Menggapai Impian', 'Indahnya Doa Rasulullah', dan 'Meraih Hidup Luar Biasa'. |
| Pesantren Kebon Jambu mengalami 'pukulan' setelah suaminya meninggal. Saat itu, para santri, yang dititipkan orangtua mereka karena melihat sosok kharismatik Kiai Muhammad, mulai meninggalkan pesantren yang kehilangan kiainya.
| |
|
| |
|
| "Ketika suami saya meninggal ini menjadi pukulan yang sangat berat bagi saya dan keluarga, apalagi ini merupakan pesantren tradisional yang sangat patriarki, yang tidak menerima kepemimpinan perempuan, ketika mereka pergi saya seperti dipukuli, rasanya gelap sekali. Ya Allah bagaimana ini mereka satu-satu mulai meninggalkan saya," ungkap Masriyah.
| | Dalam 'Bangun dari Terpuruk', dia menceritakan dirinya yang harus kuat setelah ditinggal suami. Semuanya tulisan dikumpulkan hari ke hari, yang tanpa disadari menyoal kesetaraan gender. |
|
| |
|
| Tak mudah bagi Masriyah untuk mencari pengganti suaminya. Di tengah 'kegalauannya' Masriyah pun memasrahkan diri pada Tuhan, melalui tulisan.
| | Kesetaraan jugalah yang belakangan dia ajarkan kepada 1.200 santrinya. Dia menyatakan perempuan setara dengan laki-laki sebagaimana semula Tuhan menciptakan. |
|
| |
|
| "Akhirnya saya merenung dan saya mendapatkan inspirasi dari renungan saya, saya menulia Surat Cinta pada Tuhan," kata Masriyah. | | "Bergantung tidak pada laki-laki, bergantung hanya pada Allah," ujarnya. |
|
| |
|
| ''Hari ini kuangkat Engkau, ya Tuhan, sebagai kekasih''
| | Masriyah menghindari istilah gender. Dia mengajarkan kesetaraan dengan mendorong santri perempuan aktif tampil dalam berbagai kesempatan. Dia ingin perempuan juga berwawasan luas dan kelak kuat secara ekonomi. |
|
| |
|
| ''Hari ini kuangkat Engkau sebagai pendamping''
| | "Apanya yang harus ditentang kalau semuanya setara dengan laki-laki? Kepintaran atau kesetaraan perempuan itu bukan untuk menghabisi atau membantai laki-laki. Tidak sama sekali," katanya. |
|
| |
|
| ''Dan aku berani membuktikan bahwa Engkau lebih baik dari pada sebelumnya''
| | Masriyah menambahkan, "Para laki-laki nggak perlu takut dengan gerakan kita." |
|
| |
|
| ''Dan aku berani membuktikan bahwa aku akan lebih baik dari pada sebelumnya''
| | Selain itu, dia juga mengenalkan pluralisme pada santrinya. Pendeta diajak ke pesantren untuk berinteraksi dengan santri. Masriyah mengajarkan santrinya, "Berteman dengan siapa saja, berbuat baik dengan siapa saja itu adalah kekayaan untuk kita." |
|
| |
|
| ''Saya yakin dengan didampingi Engkau, saya akan lebih hebat lagi.''
| | Bukan sekali Masriyah dicibir karena yang dia perjuangankan. Namun Masriyah memilih tidak meladeni mereka. Dia memilih tulisan sebagai sarana ide-idenya. |
|
| |
|
| Hasil perenungan itu memperkuat tekad Masriyah untuk mengasuh pesantren mengantikan suaminya, terlebih lagi sulit untuk mencari sosok lain untuk memimpin pesantren dalam waktu singkat.
| | "Kita harus cerdas, jangan memakai cara-cara yg tidak disukai orang. Cara-cara yang disukai orang itu lewat budaya dan seni," tutupnya. |
|
| |
|
| "Saya tidak mungkin menyampaikan bahwa saya akan memimpin pesantren, tetapi saya katakan yang mimpin pesantren ini pengganti akang (panggilan untuk suami), yaitu Allah SWT yang langsung akan memimpin pesantren dan akan membuat kita menjadi lebih hebat, dan saat itu tak ada lagi yang permisi pulang," kata Masriyah.
| | Masriyah mengatakan perjuangannya untuk kesetaraan tidak akan pernah selesai. Dia akan terus menyuarakan kesetaraan lewat kisah-kisahnya. Kisah perempuan kuat yang ditinggal orang yang dikasihi. |
| | |
| Saat itu tantangan terberat, menurut Masriyah berasal dari para alumni dan pengurus yang menolak kepemimpinan perempuan.
| |
| | |
| "Banyak yang mengatakan juga bahwa pesantren ini akan bangkrut, karena sudah tidak ada kiainya, kalau ada yang mengatakan itu saya langsung menjerit dalam hati," ungkap Masriyah.
| |
| | |
| === Diskriminasi dari ulama ===
| |
| Pesantren Kebon Jambu pun berkembang pesat dan jumlah santri meningkat, dari 350 orang hingga saat ini mencapai 1.400 orang laki-laki dan perempuan.
| |
| | |
| Meski begitu, Masriyah kadang masih menerima diskriminasi dari sejumlah kalangan, termasuk ulama. Ketika itu, seorang kiai datang ke pesantrennya untuk menghadiri sebuah pertemuan.
| |
| | |
| "Tahu tidak, kamu itu tidak ada apa-apanya nol besar, pesantren ini menjadi lebih maju karena menantu dan anak kamu pintar, mereka laki-laki kan. Terus saya, karena kaget, saya bilang 'Iya saya itu nol besar, tetapi saya tak ingin nol saya sambil guyonan (bergurau)'. Kemudian saya masuk ke kamar dan menangis," kata Masriyah.
| |
| | |
| Masriyah kemudian 'lari' kepada Tuhan, dan menulis Curahan hati untuk Tuhan
| |
| | |
| ''Tuhan, aku tak takut kemiskinan karena Engkau sang maha kaya''
| |
| | |
| ''Aku tak takut kegelapan karena Engkau sang cahaya''
| |
| | |
| ''Aku tak takut kebangkrutan karena Engkau sang maha jaya''
| |
| | |
| ''Aku hanya takut Engkau meninggalkan diriku.''
| |
| | |
| Puisi bagi Masriyah tak hanya merupakan pelarian ketika dilanda gelisah, tetapi juga salah satu cara yang bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Di tengah kesibukannya, dia menyempatkan diri untuk menulis 'curahan hati' kepada Tuhan, dab beberapa sudah diterbitkan dalam bentuk buku.
| |
| | |
| === Kesetaraan gender dan pluralisme ===
| |
| Ketika kami berkunjung ke pesantren pada Senin (24/4) Masriyah tampak mengajarkan kemandirian pada para santri perempuan, dan meyakinkan mereka untuk meraih cita-cita mereka tanpa bergantung pada laki-laki.
| |
| | |
| Setelah memberi nasihat pada para santri putri, dia bergegas menuju rumahnya yang terletak di kompleks pesantren. Di sana, dia telah ditunggu sejumlah tamu, termasuk panitia Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia yang digelar pada 25-26 April di Pesantren Kebon Jambu.
| |
| | |
| Tak hanya menjelang kongres ulama perempuan, setiap hari Masriyah membuka pintu pesantren untuk berbagai kalangan, tidak membatasi etnis dan juga agama. Di sebuah pendopo di teras rumahnya, tampak foto dirinya bersama dengan [[tokoh]]-tokoh dari berbagai agama dan negara.
| |
| | |
| Sikap itu, dilakukan untuk mengajarkan toleransi pada para santrinya.
| |
| | |
| "Saya katakan berapa ratus orang datang ke sini dengan agama dan pandangan yang berbeda, adakah mereka merusak kita? Tidak ada, kita masih seperti dulu, akhirnya mereka mengerti bahwa menghormati itu tidak mengancam agama mereka, tidak mengancam kehidupan mereka, bahkan memperindah, dan tidak mengancam iman mereka sedikitpun, bahkan mempertebal iman mereka," kata Masriyah.
| |
| | |
| Di lingkungan pesantren tradisional ini, dia juga mengajarkan kesetaraan gender sekaligus mempraktikkannya.
| |
| | |
| "Saya selalu menjelaskan bahwa agama tidak melarang kesetaraan gender, karena sesungguhnya menjadikan agama kita menjadi lebih hidup, lebih maju, agar setara dengan lelaki, kalau laki-laki bersandar pada Allah kepada Tuhan, lalu perempuan bersandar pada laki-laki itu jelas tidak sama. Maka jelas perempuan yang seperti itu akan lemah, perempuan harus mempunyai sandaran yang sama agar setara dengan laki-laki, yaitu pada Tuhan," kata Masriyah.
| |
| | |
| Dia juga menolak anggapan kalangan yang menyebutkan kesetaraan gender tidak sesuai dengan ajaran Islam. | |
| | |
| "Kesetaraan gender itu bukan untuk merusak agama, bukan untuk merusak ajaran-ajaran, tapi untuk menguatkan agama kita," tegas Masriyah.
| |
| | |
| Upayanya untuk mengajarkan kesetaraan gender dan pluralisme di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitarnya, membuat dia diberi penghargaan antara lain Albiruni Award sebagai tokoh yang sukses mengembangkan dakwah melalui seni dan budaya (2012), serta SK Trimurti Award sebagai tokoh gender dan pluralis (2014).
| |
| | |
| Meski di Indonesia, banyak sosok ulama perempuan yang mumpuni, tetapi Masriyah mengatakan masih banyak kalangan yang menganggap perempuan tidak bisa menjadi ulama.
| |
| | |
| Padahal ulama perempuan memiliki peran strategis untuk menyelesaikan masalah-masalah di masyarakat, terutama yang dihadapi perempuan. "Di sini saya sering kali menerima keluhan dari para istri yang diperlakukan tidak adil oleh suami, ada yang mengalami KDRT," kata dia.
| |
| | |
| Untuk itu dia merasa berkewajiban untuk terus menyebarluaskan pentingnya pemahaman kesetaraan gender di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar, agar perempuan diperlakukan adil.
| |
| | |
| Dia berharap berbagai kalangan merasa 'terancam' dengan gerakan kesetaraan ini. "Kesetaraan gender itu tidak akan mengotori agama kita, bahkan akan memberikan cahaya pada agama kita, membuat kita lebih maju, saya selalu katakan kesetaraan gender tidak akan membantai laki-laki, akan kita junjung, akan kita muliakan, jangan takut dengan gerakan ini karena akan membuat laki-laki menjadi lebih hebat," kata Masriyah.
| |
| [[Kategori:Jejak Masriyah Amva]] | | [[Kategori:Jejak Masriyah Amva]] |
Info Artikel
KBR, Jakarta - Masriyah Amva, perempuan pemimpin pesantren Kebon Jambu, Cirebon, Jawa Barat, ini tidak pernah menyangka akan menerima penghargaan SK Trimurti. Penghargaan ini diberikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kepada orang yang menyuarakan kesetaraan gender, pluralisme, dan literasi.
"Bagi saya luar biasa sekali. Ini harus saya jaga," kata Masriyah saat ditemui dalam resepsi HUT ke-20 AJI di Jakarta, Jumat (22/8) sore.
Semua berawal ketika suaminya meninggal 2006. Kala itu, dia harus melanjutkan pesantren yang didirikan bersama suaminya sejak 1993, sambil menghadapi kesedihan. Dia mengungkapkan perasaannya lewat puisi.
"Curhat curhat, nggak berniat jadi buku. Nggak berniat dapat penghargaan," kata Marsiyah.
Marsiyah menceritakan kegemarannya menulis malam ke pagi. Dia biasa menulis dengan tangan di kertas HVS. Bisa sebanyak 10 sampai 20 lembar. Paginya, Masriyah meminta santrinya mengetikkan naskahnya di komputer.
Sudah 12 buku diterbitkan, berupa kumpulan puisi, prosa, hingga narasi. Buku-bukunya antara lain 'Bangkit Dari Terpuruk', 'Menggapai Impian', 'Indahnya Doa Rasulullah', dan 'Meraih Hidup Luar Biasa'.
Dalam 'Bangun dari Terpuruk', dia menceritakan dirinya yang harus kuat setelah ditinggal suami. Semuanya tulisan dikumpulkan hari ke hari, yang tanpa disadari menyoal kesetaraan gender.
Kesetaraan jugalah yang belakangan dia ajarkan kepada 1.200 santrinya. Dia menyatakan perempuan setara dengan laki-laki sebagaimana semula Tuhan menciptakan.
"Bergantung tidak pada laki-laki, bergantung hanya pada Allah," ujarnya.
Masriyah menghindari istilah gender. Dia mengajarkan kesetaraan dengan mendorong santri perempuan aktif tampil dalam berbagai kesempatan. Dia ingin perempuan juga berwawasan luas dan kelak kuat secara ekonomi.
"Apanya yang harus ditentang kalau semuanya setara dengan laki-laki? Kepintaran atau kesetaraan perempuan itu bukan untuk menghabisi atau membantai laki-laki. Tidak sama sekali," katanya.
Masriyah menambahkan, "Para laki-laki nggak perlu takut dengan gerakan kita."
Selain itu, dia juga mengenalkan pluralisme pada santrinya. Pendeta diajak ke pesantren untuk berinteraksi dengan santri. Masriyah mengajarkan santrinya, "Berteman dengan siapa saja, berbuat baik dengan siapa saja itu adalah kekayaan untuk kita."
Bukan sekali Masriyah dicibir karena yang dia perjuangankan. Namun Masriyah memilih tidak meladeni mereka. Dia memilih tulisan sebagai sarana ide-idenya.
"Kita harus cerdas, jangan memakai cara-cara yg tidak disukai orang. Cara-cara yang disukai orang itu lewat budaya dan seni," tutupnya.
Masriyah mengatakan perjuangannya untuk kesetaraan tidak akan pernah selesai. Dia akan terus menyuarakan kesetaraan lewat kisah-kisahnya. Kisah perempuan kuat yang ditinggal orang yang dikasihi.