Lompat ke isi

Nyai Hj. Masriyah, Melahirkan Santri Pejuang Kesetaraan: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia] |- |Penulis |: |Editor :...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia]
|[https://mediaindonesia.com/weekend/489831/nyai-hj-masriyah-melahirkan-santri-pejuang-kesetaraan Media Indonesia]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Editor : Triwinarno
|Devi Harahap
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|23/10/2020 05:15
|01/5/2022 08:30
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Belajar dari sang Nyai Masriyah Amva]
|[https://mediaindonesia.com/weekend/489831/nyai-hj-masriyah-melahirkan-santri-pejuang-kesetaraan Nyai Hj. Masriyah, Melahirkan Santri Pejuang Kesetaraan]
|}PESANTREN menjadi salah satu [[lembaga]] pendidikan, khusus agama Islam. Tidak heran jika satu pesantren terkadang memiliki ratusan hingga ribuan santri yang rela mondok untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.  
|}MESKI mungkin belum sering terdengar, nyatanya para perempuan Indonesia juga mampu mengemban tugas sentral di pondok pesantren. Seperti yang telah dijalankan  perempuan bernama Nyai Hj. Masriyah yang mengasuh dan memimpin Pondok Pesantren [[Kebon Jambu Al-Islamy]] di Cirebon.


Jika pada umumnya pesantren identik dengan penokohan seorang kiai, beda halnya dengan Pesantren Kebon Jambu yang berada di kawasan kampung santri Desa Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.
Nyai Masiryah menggantikan posisi almarhum suaminya sejak 2007 sehingga tanggung jawab pesantren dengan 350 santri kala itu sepenuhnya dibebankan kepada dirinya. Hadir sebagai bintang tamu Kick Andy yang tayang 1 Mei 2022 di Metro TV, ia mnuturkan jika awalnya tidak sedikit orang yang memandangnya sebelah mata kemampuannya. Hal itu membuat hampir 50 persen santrinya keluar karena ketidakpercayaan keluarga, masyarakat, bahkan ulama-ulama untuk membuat seorang wanita menjadi pemimpin sebuah pesantren.


Di pesantren ini justru seorang nyailah yang menjadi pemimpin utama.
“Saat mengambil alih peran kepemimpinan saya mendapatkan banyak tantangan luar biasa dari laki-laki, para wali santri, dan alumni-alumni karena perempuan ini tidak layak memimpin di pesantren yang masih patriarki. Hal seperti ini dianggap tidak biasa dan tidak lumrah, perempuan dianggap tidak layak untuk berdiri di depan banyak laki-laki.” jelasnya.  


"Dulunya pesantren ini dipimpin oleh suami saya, tetapi beliau wafat. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kepemimpinan pesantren ini," ungkap Nyai [[Masriyah Amva]] pemimpin Pesantren Kebon Jambu.
Saat dirinya merasa ditinggal oleh semua orang, Nyai tidak menyerah pada keadaan. Dengan keyakinannya pada pertolongan ALLAH SWT, ia bisa memimpin dan bahkan mengembangkan pesantren hingga kini membina 1.800 santri. Bangunan pesantren yang semula dari anyaman bambu sekarang pun sudah menjadi gedung-gedung dan bahkan memiliki perguruan tinggi.  


Keputusan Sang Nyai untuk menjadi pimpinan pesantren bukanlah tanpa alasan. Masih belum siapnya penerus suami untuk memimpin pesantren menjadi dasar utama diambilnya keputusan tersebut.
Terlahir sebagai anak seorang kiyai yang tak memiliki keturunan laki-laki membuat pola pikir Masriyah berubah dalam memandang kesetaraan. “Orang tua saya selalu mendengungkan kepada saya bahwa kamu jangan kawin dulu sampai kamu pinter, sampai kamu menjadi ulama seperti seorang laki-laki,” kenangnya.  


"Saya ingat waktu awal-awal suami meninggal satu per satu santri pergi meninggalkan pesantren ini. Orangtua mereka datang dan izin untuk memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain," ujarnya kembali.
Perempuan yang sudah menulis 20 buku ini percaya bahwa wanita harus mandiri tidak bergantung kepada siapapun dan hanya menyandarkan hidupnya kepada Allah SWT.  Kesetaraan gender itu pula yang ia tanamkan di pesantrennya.  “Saya ingin mengubah cara berpikir perempuan dan saya ingin para perempuan berhijrah dari kebersandaran kepada makhluk (laki-laki) kepada kebersandaran kepada Allah SWT yang hakiki.


Masa-masa itu menjadi masa yang kelam baginya. Hidup dalam keterpurukan yang akhirnya membuat ia sadar bahwa hanya Sang Mahakuasalah yang dapat menolongnya. Perlahan, tapi pasti Masriyah Amva mampu membawa pesantrennya bangkit dalam keterpurukan. Bahkan kini Pondok Kebon Jambu menjadi salah satu tempat pembelajaran agama favorit.
Marsiyah berharap dari pesantren yang ia pemimpin akan lahir para laki-laki dan perempuan yang berpihak pada perempuan dalam berfatwa. “Ini sebenarnya ajaran yang tertinggi dalam Islam. Allah, Rasul, dan Islam mengharuskan seluruh manusia untuk bersandar kekuatan Allah, Allah tempat kita bersandar,” pungkasnya (M-1)
 
Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan Nyai Masriyah Amva memimpin Pesantren Kebon Jambu yang mayoritas santrinya didominasi oleh pria? Lalu bagaimana respons dirinya terhadap anggapan jika seorang wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin?
 
Cerita sang Nyai dirangkum dalam film dokumenter berjudul Pesan dari sang Nyai yang tayang dalam program Melihat Indonesia di Metro TV pada Minggu, 25 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB. (RO/H-1)
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]

Revisi terkini sejak 15 Juli 2025 08.30

Info Artikel

Sumber Original : Media Indonesia
Penulis : Devi Harahap
Tanggal Publikasi : 01/5/2022 08:30
Artikel Lengkap : Nyai Hj. Masriyah, Melahirkan Santri Pejuang Kesetaraan

MESKI mungkin belum sering terdengar, nyatanya para perempuan Indonesia juga mampu mengemban tugas sentral di pondok pesantren. Seperti yang telah dijalankan  perempuan bernama Nyai Hj. Masriyah yang mengasuh dan memimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy di Cirebon.

Nyai Masiryah menggantikan posisi almarhum suaminya sejak 2007 sehingga tanggung jawab pesantren dengan 350 santri kala itu sepenuhnya dibebankan kepada dirinya. Hadir sebagai bintang tamu Kick Andy yang tayang 1 Mei 2022 di Metro TV, ia mnuturkan jika awalnya tidak sedikit orang yang memandangnya sebelah mata kemampuannya. Hal itu membuat hampir 50 persen santrinya keluar karena ketidakpercayaan keluarga, masyarakat, bahkan ulama-ulama untuk membuat seorang wanita menjadi pemimpin sebuah pesantren.

“Saat mengambil alih peran kepemimpinan saya mendapatkan banyak tantangan luar biasa dari laki-laki, para wali santri, dan alumni-alumni karena perempuan ini tidak layak memimpin di pesantren yang masih patriarki. Hal seperti ini dianggap tidak biasa dan tidak lumrah, perempuan dianggap tidak layak untuk berdiri di depan banyak laki-laki.” jelasnya.

Saat dirinya merasa ditinggal oleh semua orang, Nyai tidak menyerah pada keadaan. Dengan keyakinannya pada pertolongan ALLAH SWT, ia bisa memimpin dan bahkan mengembangkan pesantren hingga kini membina 1.800 santri. Bangunan pesantren yang semula dari anyaman bambu sekarang pun sudah menjadi gedung-gedung dan bahkan memiliki perguruan tinggi.

Terlahir sebagai anak seorang kiyai yang tak memiliki keturunan laki-laki membuat pola pikir Masriyah berubah dalam memandang kesetaraan. “Orang tua saya selalu mendengungkan kepada saya bahwa kamu jangan kawin dulu sampai kamu pinter, sampai kamu menjadi ulama seperti seorang laki-laki,” kenangnya.

Perempuan yang sudah menulis 20 buku ini percaya bahwa wanita harus mandiri tidak bergantung kepada siapapun dan hanya menyandarkan hidupnya kepada Allah SWT.  Kesetaraan gender itu pula yang ia tanamkan di pesantrennya.  “Saya ingin mengubah cara berpikir perempuan dan saya ingin para perempuan berhijrah dari kebersandaran kepada makhluk (laki-laki) kepada kebersandaran kepada Allah SWT yang hakiki.”

Marsiyah berharap dari pesantren yang ia pemimpin akan lahir para laki-laki dan perempuan yang berpihak pada perempuan dalam berfatwa. “Ini sebenarnya ajaran yang tertinggi dalam Islam. Allah, Rasul, dan Islam mengharuskan seluruh manusia untuk bersandar kekuatan Allah, Allah tempat kita bersandar,” pungkasnya (M-1)