Lompat ke isi

Review Dokumenter ‘Pesantren’: Membongkar Stigma Buruk Pesantren: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia]
|[https://magdalene.co/story/review-dokumenter-pesantren-membongkar-stigma-buruk-pesantren/ magdalene.co]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
Baris 15: Baris 15:
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|Review Dokumenter ‘Pesantren’: Membongkar Stigma Buruk Pesantren
|[https://magdalene.co/story/review-dokumenter-pesantren-membongkar-stigma-buruk-pesantren/ Review Dokumenter ‘Pesantren’: Membongkar Stigma Buruk Pesantren]
|}PESANTREN menjadi salah satu [[lembaga]] pendidikan, khusus agama Islam. Tidak heran jika satu pesantren terkadang memiliki ratusan hingga ribuan santri yang rela mondok untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.  
|}Alunan suara orang sedang mengaji membuka film ''Pesantren'' di bioskop. Merdunya suara santri yang sedang mengaji diganti dengan kesunyian di kamar santri lain yang sedang terlelap, lalu terbangun demi sholat subuh.  


Jika pada umumnya pesantren identik dengan penokohan seorang kiai, beda halnya dengan Pesantren Kebon Jambu yang berada di kawasan kampung
Pondok pesantren yang menjadi subyek dalam film ini adalah Pondok [[Kebon Jambu Al-Islamy]] yang terletak di Cirebon, Jawa Barat. Mungkin dari luarnya terlihat sama seperti pondok pesantren lainnya, tetapi pondok pesantren dengan 2.000 santri ini memiliki keunikan. Ia dipimpin seorang perempuan,Nyai Hj. [[Masriyah Amva]].


Suasana pesantren yang sederhana, tempat belajar agama, kental di setiap adegan yang ditunjukan dalam layar lebar. Film ini bisa menjadi opsi perkenalan terhadap Islam kepada [[komunitas]] yang bukan Muslim, terlebih kepada dunia. Terutama, orang-orang yang selama ini mengenal Islam lewat lensa negara barat. Bingkai yang biasanya menyerempeti ekstremisme, radikalisme, dan fanatisme Islam dalam pondok pesantren.
Mungkin begitu, buat penonton global di ''International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA),'' festival film dokumen terbesar di dunia. Sebab sebelum tayang luas di bioskop Indonesia tahun ini, Pesantren telah lebih dulu tayang di sana, pada 2019 lalu. . . . .
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]

Revisi terkini sejak 15 Juli 2025 12.13

Info Artikel

Sumber Original : magdalene.co
Penulis : Theresia Amadea
Tanggal Publikasi : August 3, 2022
Artikel Lengkap : Review Dokumenter ‘Pesantren’: Membongkar Stigma Buruk Pesantren

Alunan suara orang sedang mengaji membuka film Pesantren di bioskop. Merdunya suara santri yang sedang mengaji diganti dengan kesunyian di kamar santri lain yang sedang terlelap, lalu terbangun demi sholat subuh.

Pondok pesantren yang menjadi subyek dalam film ini adalah Pondok Kebon Jambu Al-Islamy yang terletak di Cirebon, Jawa Barat. Mungkin dari luarnya terlihat sama seperti pondok pesantren lainnya, tetapi pondok pesantren dengan 2.000 santri ini memiliki keunikan. Ia dipimpin seorang perempuan,Nyai Hj. Masriyah Amva.

Suasana pesantren yang sederhana, tempat belajar agama, kental di setiap adegan yang ditunjukan dalam layar lebar. Film ini bisa menjadi opsi perkenalan terhadap Islam kepada komunitas yang bukan Muslim, terlebih kepada dunia. Terutama, orang-orang yang selama ini mengenal Islam lewat lensa negara barat. Bingkai yang biasanya menyerempeti ekstremisme, radikalisme, dan fanatisme Islam dalam pondok pesantren.

Mungkin begitu, buat penonton global di International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA), festival film dokumen terbesar di dunia. Sebab sebelum tayang luas di bioskop Indonesia tahun ini, Pesantren telah lebih dulu tayang di sana, pada 2019 lalu. . . . .