2025-07-06 Menulis Ulang Sejarah Ulama Perempuan: Samia Kotele Usung Penelitian Relasional, Bukan Ekstraktif: Perbedaan antara revisi
Tidak ada ringkasan suntingan |
k Agus Munawir memindahkan halaman Menulis Ulang Sejarah Ulama Perempuan: Samia Kotele Usung Penelitian Relasional, Bukan Ekstraktif ke 2025-07-06 Menulis Ulang Sejarah Ulama Perempuan: Samia Kotele Usung Penelitian Relasional, Bukan Ekstraktif |
(Tidak ada perbedaan)
| |
Revisi terkini sejak 26 Januari 2026 14.41
Info Artikel
| Sumber Original | : | mubadalah.id |
| Penulis | : | Redaksi |
| Tanggal Terbit | : | 06/07/2025 |
| Artikel Lengkap | : | Menulis Ulang Sejarah Ulama Perempuan: Samia Kotele Usung Penelitian Relasional, Bukan Ekstraktif |
Mubadalah.id – Penelitian tentang sejarah ulama perempuan Indonesia tak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara lama yang hanya mengekstraksi data dari komunitas tanpa memberi timbal balik.
Hal itu ditegaskan oleh Samia Kotele, MA., Ph.D., peneliti sejarah asal Lyon University, Prancis, dalam Halaqoh Nasional bertajuk “Menulis Ulang Sejarah Ulama Perempuan Indonesia: Sebuah Pendekatan Dekolonial” yang digelar di Kampus Transformatif ISIF, Majasem, Kota Cirebon, Ahad (6/7/2025).
“Penelitian saya harus bersifat relasional, bukan ekstraktif,” ujar Samia, tegas. “Ia harus memberi manfaat nyata bagi komunitas yang saya teliti. Kita harus memandang masyarakat bukan sekadar objek informasi, tetapi sebagai mitra dalam penciptaan pengetahuan.”
Menurut Samia, pendekatan seperti ini penting untuk meruntuhkan warisan kolonial dalam dunia riset, yang selama ratusan tahun telah memposisikan masyarakat lokal sekadar sebagai sumber data, bukan subjek yang punya otoritas atas narasi mereka sendiri.
“Saya selalu mendukung konsep kemitraan dalam riset. Karena kita juga harus mengakui suara-suara perempuan: mereka yang selama ini tidak terdengar. Bahkan sebagai bagian penting dalam perkembangan ilmu,” tuturnya. . . . . . .