Lompat ke isi

Berproses Melalui Panas-Dingin Kupi: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi 'Tim Paduan Suara IAIN Syekh Nurdjati Cirebon mulai berbaris rapi. Wajah para mahasiswi ini seakan mengisyaratkan bahwa generasi muda siap mengawal cita-cita KUPI untuk...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 8: Baris 8:




'''Dunia aktivis kumulai dengan terlibat di Program Jaringan Islam Emansipatoris'''
'''Dunia aktivis kumulai dengan terlibat di Program [[Jaringan]] Islam Emansipatoris'''


Jaringan Islam Emansipatoris (JIE) Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Tiga tahun berproses di sini memunculkan kesadaran tentang pentingnya memahami Realitas Kehidupan dalam berinteraksi dengan ''nash'' agama agar pemberdayaan manusia yang menjiwainya tidak hilang. Rahima menjadi stasiun berikutnya yang mempertemukanku dengan suhu-suhu kajian perempuan, analisis sosial, dan kajian Islam perspektif kesetaraan. Lahirlah kesadaran baru tentang pentingnya memahami realitas kehidupan dalam berinteraksi dengan ''nash'' agama sehingga pemberdayaan perempuan yang menjiwainya tidak hilang. Stasiun berikutnya adalah Alimat, sebuah gerakan kesetaraan dan keadilan keluarga Indonesia dalam perspektif Islam. Pertemuanku dengan para sarjana lintas disiplin ilmu dan pengalaman di sini semakin membuatku menyadari gap antara Islam dan realitas kehidupan. Islam mengajarkan bahwa laki-laki adalah kepala keluarga yang wajib memberi nafkah. Namun teman-teman Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) menunjukkan fakta sebaliknya tentang begitu banyaknya perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga termasuk pencari nafkah tunggal. Bahkan ratusan ribu perempuan kita bekerja di luar negeri untuk menafkahi ayah atau suaminya di tanah air. Hal ini menumbuhkan kesadaran lain tentang pentingnya memahami realitas kehidupan dalam berinteraksi dengan ''nash'' agama, sehingga pemberdayaan perempuan yang menjiwainya tidak hilang, termasuk dalam konteks perkawinan dan keluarga.   
Jaringan Islam Emansipatoris (JIE) Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Tiga tahun berproses di sini memunculkan kesadaran tentang pentingnya memahami Realitas Kehidupan dalam berinteraksi dengan ''nash'' agama agar pemberdayaan manusia yang menjiwainya tidak hilang. Rahima menjadi stasiun berikutnya yang mempertemukanku dengan suhu-suhu kajian perempuan, analisis sosial, dan kajian Islam perspektif kesetaraan. Lahirlah kesadaran baru tentang pentingnya memahami realitas kehidupan dalam berinteraksi dengan ''nash'' agama sehingga pemberdayaan perempuan yang menjiwainya tidak hilang. Stasiun berikutnya adalah Alimat, sebuah gerakan kesetaraan dan keadilan keluarga Indonesia dalam perspektif Islam. Pertemuanku dengan para sarjana lintas disiplin ilmu dan pengalaman di sini semakin membuatku menyadari gap antara Islam dan realitas kehidupan. Islam mengajarkan bahwa laki-laki adalah kepala keluarga yang wajib memberi [[nafkah]]. Namun teman-teman Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) menunjukkan fakta sebaliknya tentang begitu banyaknya perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga termasuk pencari nafkah tunggal. Bahkan ratusan ribu perempuan kita bekerja di luar negeri untuk menafkahi ayah atau suaminya di tanah air. Hal ini menumbuhkan kesadaran lain tentang pentingnya memahami realitas kehidupan dalam berinteraksi dengan ''nash'' agama, sehingga pemberdayaan perempuan yang menjiwainya tidak hilang, termasuk dalam konteks perkawinan dan keluarga.   


Kesadaran ini kubawa kemana pun melangkah. Fakta-fakta di lapangan kubawa ke Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) tempatku mengajar. Sebaliknya, hasil diskusi dengan mahasiswa di kampus kubawa ke lapangan. Beberapa mahasiswa kadang menunjukkan resistensi. Sama persis dengan sebagian tokoh agama yang menjadi peserta dalam pelatihan-pelatihan. Menurutku ini bukan soal penolakan. Namun, sebagian orang kadang hanya perlu waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan pemikiran baru. Nyatanya, keyakinan yang sama bahwa Islam mesti adil juga pada perempuan menjadi landasan kuat bagi keberlanjutan proses penerimaan gagasan ini.
Kesadaran ini kubawa kemana pun melangkah. Fakta-fakta di lapangan kubawa ke Perguruan Tinggi Ilmu [[al-Qur’an]] (PTIQ) tempatku mengajar. Sebaliknya, hasil diskusi dengan mahasiswa di kampus kubawa ke lapangan. Beberapa mahasiswa kadang menunjukkan resistensi. Sama persis dengan sebagian tokoh agama yang menjadi peserta dalam pelatihan-pelatihan. Menurutku ini bukan soal penolakan. Namun, sebagian orang kadang hanya perlu waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan pemikiran baru. Nyatanya, keyakinan yang sama bahwa Islam mesti adil juga pada perempuan menjadi landasan kuat bagi keberlanjutan proses penerimaan gagasan ini.


Pengalaman resistensi ini yang sempat memunculkan keraguan dalam mengawal KUPI. Meskipun banyak orang yang sudah berproses hingga menerima nilai kesetaraan dan keadilan gender Islam, bukankah jauh lebih banyak mereka yang belum berproses? Apakah mereka yang selesai berproses otomatis menerima otoritas keulamaan perempuan? Keraguan ini semakin kuat ketika tidak seorang pun di antara penyelenggara KUPI yang menerima disebut ulama perempuan. Jika kita sendiri tidak ada yang mau, lalu bagaimana dengan orang lain? Workshop Pra-KUPI di Padang pun diwarnai dengan keraguan ini, padahal waktu Kongres semakin dekat. Bagaimana jika Kongres dipaksa bubar oleh kelompok garis keras? Bagaimana jika peserta tiba-tiba memboikot Kongres karena peserta yang hadir dipandang tidak representatif sebagai ulama perempuan?
Pengalaman resistensi ini yang sempat memunculkan keraguan dalam mengawal KUPI. Meskipun banyak orang yang sudah berproses hingga menerima nilai kesetaraan dan keadilan gender Islam, bukankah jauh lebih banyak mereka yang belum berproses? Apakah mereka yang selesai berproses otomatis menerima otoritas keulamaan perempuan? Keraguan ini semakin kuat ketika tidak seorang pun di antara penyelenggara KUPI yang menerima disebut ulama perempuan. Jika kita sendiri tidak ada yang mau, lalu bagaimana dengan orang lain? Workshop Pra-KUPI di Padang pun diwarnai dengan keraguan ini, padahal waktu Kongres semakin dekat. Bagaimana jika Kongres dipaksa bubar oleh kelompok garis keras? Bagaimana jika peserta tiba-tiba memboikot Kongres karena peserta yang hadir dipandang tidak representatif sebagai ulama perempuan?
Baris 20: Baris 20:
Seminar Internasional menandai dimulainya perhelatan KUPI. Kutahu sebagian narasumber adalah Muslimah melotot gender, karena telah bertahun-tahun menggeluti isu Islam dan Perempuan, baik di negaranya sendiri, maupun di level gobal sehingga terbiasa ''gaspol''. Benar saja, statemen super tegas bermunculan dari mereka yang merefleksikan betapa seriusnya masalah perempuan yang mereka lihat dan hadapi. Sambil panas dingin, kudekati Mbak Nyai Ketua SC KUPI yang duduk sendiri di barisan depan dan kubisikkan, “Kita hanya bisa mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan. Selebihnya tinggal bagaimana menyikapinya dengan arif.” Ah….mestinya kubisikkan saja kalimat itu di telingaku sendiri, karena kutahu Mbak Nyai satu ini sudah sangat arif.  
Seminar Internasional menandai dimulainya perhelatan KUPI. Kutahu sebagian narasumber adalah Muslimah melotot gender, karena telah bertahun-tahun menggeluti isu Islam dan Perempuan, baik di negaranya sendiri, maupun di level gobal sehingga terbiasa ''gaspol''. Benar saja, statemen super tegas bermunculan dari mereka yang merefleksikan betapa seriusnya masalah perempuan yang mereka lihat dan hadapi. Sambil panas dingin, kudekati Mbak Nyai Ketua SC KUPI yang duduk sendiri di barisan depan dan kubisikkan, “Kita hanya bisa mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan. Selebihnya tinggal bagaimana menyikapinya dengan arif.” Ah….mestinya kubisikkan saja kalimat itu di telingaku sendiri, karena kutahu Mbak Nyai satu ini sudah sangat arif.  


Aku mendengar di acara silaturahim ulama perempuan yang waktunya bersamaan dengan Seminar Internasional sesi siang tadi, masih banyak peserta yang ragu-ragu tentang keulamaan perempuan. Bahkan ada yang mengusulkan untuk mengubah nama menjadi Kongres Muslimah Indonesia. Hemmm...., panas dingin lagi hingga acara pembukaan Kongres pun dimulai. Inilah pertama kalinya kulihat Mbak Nyai SC pidato di podium. Tak kusangka suaranya menggelegar. Bagaikan tanpa bernafas ia menegaskan eksistensi ulama perempuan sepanjang sejarah Islam dan Indonesia. Kesadaranku seperti digedor-gedor tanpa ampun bahwa keulamaan perempuan itu ada sejak dulu sehingga kehadiran mereka sekarang ini merupakan keterpanggilan iman dan keniscayaan sejarah. Kembali air mataku tumpah ruah. Hatiku berbisik, “''Balaa, wa ana ‘ala dzaalika minasy-syahidiin''”/Betul, dan aku adalah bagian dari orang-orang yang bersaksi (bahwa informasi ini benar adanya)”. Sambutan Bu Nyai Masriyah Amva tak kalah meyakinkan. Meskipun deg-degan karena bermunculan istilah-istilah yang terus terang kami hindari demi menjaga psikologi peserta, akhirnya berakhir manis karena pendekatan tasawuf yang beliau gunakan.
Aku mendengar di acara silaturahim ulama perempuan yang waktunya bersamaan dengan Seminar Internasional sesi siang tadi, masih banyak peserta yang ragu-ragu tentang keulamaan perempuan. Bahkan ada yang mengusulkan untuk mengubah nama menjadi Kongres Muslimah Indonesia. Hemmm...., panas dingin lagi hingga acara pembukaan Kongres pun dimulai. Inilah pertama kalinya kulihat Mbak Nyai SC pidato di podium. Tak kusangka suaranya menggelegar. Bagaikan tanpa bernafas ia menegaskan eksistensi ulama perempuan sepanjang sejarah Islam dan Indonesia. Kesadaranku seperti digedor-gedor tanpa ampun bahwa keulamaan perempuan itu ada sejak dulu sehingga kehadiran mereka sekarang ini merupakan keterpanggilan iman dan keniscayaan sejarah. Kembali air mataku tumpah ruah. Hatiku berbisik, “''Balaa, wa ana ‘ala dzaalika minasy-syahidiin''”/Betul, dan aku adalah bagian dari orang-orang yang bersaksi (bahwa informasi ini benar adanya)”. Sambutan Bu Nyai [[Masriyah Amva]] tak kalah meyakinkan. Meskipun deg-degan karena bermunculan istilah-istilah yang terus terang kami hindari demi menjaga psikologi peserta, akhirnya berakhir manis karena pendekatan tasawuf yang beliau gunakan.


Kesuksesan Duo Nyai dalam meyakinkan peserta, ternyata memberi beban tersendiri buatku yang keesokan harinya bertugas menjelaskan perspektif keadilan hakiki bagi perempuan dalam studi Islam, yaitu keadilan yang mempertimbangkan kondisi khas perempuan secara biologis dan sosial. Bagaimana nanti kalau peserta malah ragu-ragu kembali gara-gara presentasiku dianggap terlalu berani? Atau sebaliknya dianggap terlalu datar sehingga tidak ada sedikit pun sesuatu yang baru mereka peroleh? Akhirnya waktu presentasi pun tiba dan bersyukur semua poin penting bisa tersampaikan walau tersisa beberapa slide. Adakah yang lebih melegakan daripada mendengar pengakuan langsung beberapa peserta bahwa mereka tidak ragu lagi dengan keulamaan perempuan, bahkan menegaskan ingin mengambil peran semampu mereka?
Kesuksesan Duo Nyai dalam meyakinkan peserta, ternyata memberi beban tersendiri buatku yang keesokan harinya bertugas menjelaskan perspektif keadilan hakiki bagi perempuan dalam studi Islam, yaitu keadilan yang mempertimbangkan kondisi khas perempuan secara biologis dan sosial. Bagaimana nanti kalau peserta malah ragu-ragu kembali gara-gara presentasiku dianggap terlalu berani? Atau sebaliknya dianggap terlalu datar sehingga tidak ada sedikit pun sesuatu yang baru mereka peroleh? Akhirnya waktu presentasi pun tiba dan bersyukur semua poin penting bisa tersampaikan walau tersisa beberapa slide. Adakah yang lebih melegakan daripada mendengar pengakuan langsung beberapa peserta bahwa mereka tidak ragu lagi dengan keulamaan perempuan, bahkan menegaskan ingin mengambil peran semampu mereka?


Panas dingin ternyata kembali menghampiri di sesi Musyawarah Keagamaan. Selama sesi ini berlangsung tugasku adalah keliling mengamati tiga forum secara bergantian. Aku tahu tidak semua kawan mengikuti keseluruhan proses dan memahami kompromi-kompromi terkait dengan musyawarah ini. Namun demikian, aku cukup tenang karena meyakini bahwa setidaknya kita sama-sama memandang bahwa musyawarah bukanlah sebuah proses yang berdiri sendiri. Walhasil, aku kaget ''binti'' panik ketika menyadari keyakinanku ini ternyata salah. Syukurlah akhirnya semua bisa menerima dengan lapang dada segala keterbatasan yang ada.
Panas dingin ternyata kembali menghampiri di sesi [[Musyawarah]] Keagamaan. Selama sesi ini berlangsung tugasku adalah keliling mengamati tiga forum secara bergantian. Aku tahu tidak semua kawan mengikuti keseluruhan proses dan memahami kompromi-kompromi terkait dengan musyawarah ini. Namun demikian, aku cukup tenang karena meyakini bahwa setidaknya kita sama-sama memandang bahwa musyawarah bukanlah sebuah proses yang berdiri sendiri. Walhasil, aku kaget ''binti'' panik ketika menyadari keyakinanku ini ternyata salah. Syukurlah akhirnya semua bisa menerima dengan lapang dada segala keterbatasan yang ada.


Salah satu pelajaran dari KUPI buatku adalah berusaha melihat segala sesuatu sebagai proses. Ini cukup membantuku setiap melihat kenyataan yang belum sesuai harapan.  
Salah satu pelajaran dari KUPI buatku adalah berusaha melihat segala sesuatu sebagai proses. Ini cukup membantuku setiap melihat kenyataan yang belum sesuai harapan.  
Baris 37: Baris 37:


''(Pengurus Alimat Bidang Pendidikan dan Peningkatan Kapasitas/Anggota Badan Pengurus Rahima/Ketua I KUPI)''
''(Pengurus Alimat Bidang Pendidikan dan Peningkatan Kapasitas/Anggota Badan Pengurus Rahima/Ketua I KUPI)''
[[Kategori:Refleksi]]
 
[[Kategori:Refleksi Kongres]]
[[Kategori:Refleksi Kongres1]]