Kongres Ulama Perempuan: Modalitas Perempuan Dalam Kontestasi Global: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 6: | Baris 6: | ||
Gagasan baru, pemikiran, kepercayaan, budaya, ekonomi, bahkan kerjasama menembus batas Negara atau lokalitas tertentu (Inda, Jonathan Xavier, and Renato Rosaldo: 2002, 1-34). Globalisasi yang tidak mengenal batas memunculkan pemaknaan baru tentang ruang dan waktu. Dunia yang saling terkoneksi dan tanpa batas merubah pemahaman orang tentang ruang dan waktu: dunia dialami dan dirasakan menjadi sempit, mengecil dan jarak menjadi dekat. | Gagasan baru, pemikiran, kepercayaan, budaya, ekonomi, bahkan kerjasama menembus batas Negara atau lokalitas tertentu (Inda, Jonathan Xavier, and Renato Rosaldo: 2002, 1-34). Globalisasi yang tidak mengenal batas memunculkan pemaknaan baru tentang ruang dan waktu. Dunia yang saling terkoneksi dan tanpa batas merubah pemahaman orang tentang ruang dan waktu: dunia dialami dan dirasakan menjadi sempit, mengecil dan jarak menjadi dekat. | ||
Ulama perempuan dalam era globalisasi menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan untuk dapat diakui keberadaannya. Tantangan interkoneksitas menuntut perempuan untuk memiliki kemampuan, kemauan dan kesiapan untuk ber-interkoneksi secara global. Interkoneksi secara global menuntut seseorang untuk memiliki pemikiran yang terbuka (''open minded'') dan kesiapan menghadapi segala perbedaan yang ada. Selain itu, untuk dapat berinteraksi dengan dunia global maka perempuan dituntut untuk memiliki kemampuan bahasa dan kemampuan berkomunikasi serta ''soft skills'' lainnya. Kemajuan teknologi juga menuntut perempuan untuk menguasai teknologi. Kenyataan dunia tanpa batas juga menuntut perempuan untuk memiliki komitmen perjuangan kuat, kesiapan menerima dan menyebarkan nilai-nilai yang dipegang ke dunia global, berkompetisi dengan ragam ideologi, masyarakat dan model Pemerintahan, serta berkompetisi dalam mempertahankan/ membangun identitas, mempengaruhi kolektif, atau mendapatkan ''power''. Selain itu, konsep baru ruang dan waktu menuntut kesiapan untuk mengubah cara pandang tentang dunia, bahwa dunia bukan hanya “saya,” dan baik menurut “saya” belum tentu “baik menurut “orang lain, banyak “membaca” karena perkembangan dunia sangat pesat dan menolak Pemutlakan dan tidak berpretensi menjadi MICRO THEOS (tuhan tuhan kecil). Tantangan kompleks ini tentu tidak dapat dipisahkan dari tujuan diselenggarakannya | Ulama perempuan dalam era globalisasi menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan untuk dapat diakui keberadaannya. Tantangan interkoneksitas menuntut perempuan untuk memiliki kemampuan, kemauan dan kesiapan untuk ber-interkoneksi secara global. Interkoneksi secara global menuntut seseorang untuk memiliki pemikiran yang terbuka (''open minded'') dan kesiapan menghadapi segala perbedaan yang ada. Selain itu, untuk dapat berinteraksi dengan dunia global maka perempuan dituntut untuk memiliki kemampuan bahasa dan kemampuan berkomunikasi serta ''soft skills'' lainnya. Kemajuan teknologi juga menuntut perempuan untuk menguasai teknologi. Kenyataan dunia tanpa batas juga menuntut perempuan untuk memiliki komitmen perjuangan kuat, kesiapan menerima dan menyebarkan nilai-nilai yang dipegang ke dunia global, berkompetisi dengan ragam ideologi, masyarakat dan model Pemerintahan, serta berkompetisi dalam mempertahankan/ membangun identitas, mempengaruhi kolektif, atau mendapatkan ''power''. Selain itu, konsep baru ruang dan waktu menuntut kesiapan untuk mengubah cara pandang tentang dunia, bahwa dunia bukan hanya “saya,” dan baik menurut “saya” belum tentu “baik menurut “orang lain, banyak “membaca” karena perkembangan dunia sangat pesat dan menolak Pemutlakan dan tidak berpretensi menjadi MICRO THEOS (tuhan tuhan kecil). Tantangan kompleks ini tentu tidak dapat dipisahkan dari tujuan diselenggarakannya Kongres Ulama Perempuan. | ||
=== Urgensi Kongres Ulama Perempuan Sebagai Narasi Tandingan === | === Urgensi Kongres Ulama Perempuan Sebagai Narasi Tandingan === | ||