Lompat ke isi

Majalah Swara Rahima Edisi 09; Kematian Ibu, Syahid atau Petaka?: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|publisher=[https://swararahima.com/2003/11/05/edisi-9/ Rahima]|image=Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 09.png|italic title=Majalah Swara Rahima|isbn=|cover_artist=|series=Nomor 09 Tahun III, November 2003|title_orig=|note=[https://swararahima.com/2003/11/05/edisi-9/ Download]}}Majalah Swara [[Rahima]] adalah media publikasi berkala dari Perhimpunan Rahima yang berfokus pada wacana Islam dan hak-hak perempuan, utamanya mengusung perspektif adil gender. Majalah ini menyajikan analisis, studi tafsir, dan hadis yang mendukung keadilan perempuan, serta memuat pemikiran [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] di [[komunitas]].
'''Informasi Majalah:'''
{|
|Sumber
|:
|[https://swararahima.com/2003/11/05/edisi-9/ Swara Rahima]
|-
|Nama Majalah
|:
|Majalah Swara [[Rahima]]
|-
|Tema
|:
|Kematian Ibu, Syahid atau Petaka?
|-
|Seri
|:
|Nomor 09 Tahun III, November 2003
|-
|Penerbit
|:
|Rahima
|-
|Link Download
|:
|[https://swararahima.com/2003/11/05/edisi-9/ Download]
|}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''{{Infobox book|publisher=[https://swararahima.com/2003/11/05/edisi-9/ Rahima]|image=Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 09.png|italic title=Majalah Swara Rahima|isbn=|cover_artist=|series=Nomor 09 Tahun III, November 2003|title_orig=|note=[https://swararahima.com/2003/11/05/edisi-9/ Download Majalah]}}'''''Pembaca yang budiman''''',


Majalah ini menjadi sarana dialog dan edukasi mengenai posisi perempuan dalam Islam, sering kali melibatkan pemikiran [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] sebagai pengasuh rubrik. Tulisan di dalamnya sering mengangkat tema Islam yang ramah terhadap perempuan dan menolak bias gender.
Pertama-tama seluruh redaksi majalah Swara Rahima mengucapkan ''minal ‘aidin wal Faidzin'', mohon maaf lahir dan batin kepada semua pembaca setia Swara Rahima. Tidak terasa ternyata waktu berjalan begitu cepat dan kita hampir melewati penghujung tahun 2003. Sebelum menyambut hari raya idul fitri 1424 H, kita semua telah sama-sama menjalani [[jihad]] yang menurut Nabi lebih besar dari jihad di medan perang yaitu berpuasa. Pada edisi kali ini, pemaknaan jihadpun kembali diangkat meskipun dengan penyajian yang beragam. Swara Rahima kali ini lebih khusus lagi mengajak pembaca merenungi permasalahan kematian ibu yang selama ini juga dikatakan sebagai bagian dari jihadnya kaum perempuan dan kematiannya yang merupakan mati syahid.


Kematian memang akan dijumpai setiap insan yang hidup di dunia ini akan tetapi bagi seorang ibu setiap menjelang masa persalinan, drama kesaksian perempuan mempertaruhkan kehidupan. Baik kehidupannya maupun kehidupan anaknya. Tema ini terkait pula dengan Hari Ibu yang biasanya dirayakan pada bulan Desember tiap tahunnya. Pertanyaannya berkaitan dengan kematian ibu adalah apakah makna perayaan itu jika angka kematian para ibu semakin meningkat setiap tahun? Bahkan kini setiap jam adalah waktu sabung nyawa bagi para ibu.
'''''Pembaca sekalian yang berbahagia,'''''
Kalau belakangan kita sering mendengar kata teroris, jihad, hingga kata syahid, yang ada di kepala kita pasti kata-kata itu identik dengan pasukan berani mati. Kita lupa bahwa kalaulah meninggal karena melahirkan dianggap syahid, maka sudah ratusan nyawa setiap tahunnya para perempuan menyumbang kesyahidannya. Namun, apalah arti syahid itu jika kemudian perhatian kepada para ibu tidak lebih besar dari masalah politik dan utang. Untuk itu sudah tidak ada waktu lagi untuk kita menunggu, sebab setiap jam adalah nyawa bagi ibu dan anak di negeri berumur setengah abad ini.
Pada pembahasan edisi ini, berbagai hal yang berkaitan dengan kematian ibu akan dapat anda jumpai, dari kritik tentang gerakan sayang ibu yang masing slogan semata, informasi tentang usaha mancanegara dalam menangani kematian ibu, hingga prestasi negeri mullah yaitu Iran dalam upayanya menanggulangi masalah kematian ibu terutama pasca revolusi Iran 1979.
Ada pula profil Perkumpulan [[Keluarga Berencana]] Indonesia di dalam rubrik potret, sebuah [[lembaga]] yang lahir karena keprihatinan para dokter atas tingginya kematian ibu dan anak di negeri bekas jajahan Belanda ini.
''Akhirul kalam'', hormat dan sayang ibu bukanlah dengan berkebaya di setiap bulan Desember, tetapi bagaimana selalu siap melayani dan membantu mereka hidup lebih sehat dan sejahtera. ''Wallahu A’lam''.
'''Redaksi'''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Majalah]]
[[Kategori:Majalah]]

Revisi per 21 Februari 2026 14.19

Informasi Majalah:

Sumber : Swara Rahima
Nama Majalah : Majalah Swara Rahima
Tema : Kematian Ibu, Syahid atau Petaka?
Seri : Nomor 09 Tahun III, November 2003
Penerbit : Rahima
Link Download : Download

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Majalah Swara Rahima Edisi 09; Kematian Ibu, Syahid atau Petaka?
SeriNomor 09 Tahun III, November 2003
PenerbitRahima
Download Majalah

Pembaca yang budiman,

Pertama-tama seluruh redaksi majalah Swara Rahima mengucapkan minal ‘aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin kepada semua pembaca setia Swara Rahima. Tidak terasa ternyata waktu berjalan begitu cepat dan kita hampir melewati penghujung tahun 2003. Sebelum menyambut hari raya idul fitri 1424 H, kita semua telah sama-sama menjalani jihad yang menurut Nabi lebih besar dari jihad di medan perang yaitu berpuasa. Pada edisi kali ini, pemaknaan jihadpun kembali diangkat meskipun dengan penyajian yang beragam. Swara Rahima kali ini lebih khusus lagi mengajak pembaca merenungi permasalahan kematian ibu yang selama ini juga dikatakan sebagai bagian dari jihadnya kaum perempuan dan kematiannya yang merupakan mati syahid.

Kematian memang akan dijumpai setiap insan yang hidup di dunia ini akan tetapi bagi seorang ibu setiap menjelang masa persalinan, drama kesaksian perempuan mempertaruhkan kehidupan. Baik kehidupannya maupun kehidupan anaknya. Tema ini terkait pula dengan Hari Ibu yang biasanya dirayakan pada bulan Desember tiap tahunnya. Pertanyaannya berkaitan dengan kematian ibu adalah apakah makna perayaan itu jika angka kematian para ibu semakin meningkat setiap tahun? Bahkan kini setiap jam adalah waktu sabung nyawa bagi para ibu.

Pembaca sekalian yang berbahagia,

Kalau belakangan kita sering mendengar kata teroris, jihad, hingga kata syahid, yang ada di kepala kita pasti kata-kata itu identik dengan pasukan berani mati. Kita lupa bahwa kalaulah meninggal karena melahirkan dianggap syahid, maka sudah ratusan nyawa setiap tahunnya para perempuan menyumbang kesyahidannya. Namun, apalah arti syahid itu jika kemudian perhatian kepada para ibu tidak lebih besar dari masalah politik dan utang. Untuk itu sudah tidak ada waktu lagi untuk kita menunggu, sebab setiap jam adalah nyawa bagi ibu dan anak di negeri berumur setengah abad ini.

Pada pembahasan edisi ini, berbagai hal yang berkaitan dengan kematian ibu akan dapat anda jumpai, dari kritik tentang gerakan sayang ibu yang masing slogan semata, informasi tentang usaha mancanegara dalam menangani kematian ibu, hingga prestasi negeri mullah yaitu Iran dalam upayanya menanggulangi masalah kematian ibu terutama pasca revolusi Iran 1979.

Ada pula profil Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia di dalam rubrik potret, sebuah lembaga yang lahir karena keprihatinan para dokter atas tingginya kematian ibu dan anak di negeri bekas jajahan Belanda ini.

Akhirul kalam, hormat dan sayang ibu bukanlah dengan berkebaya di setiap bulan Desember, tetapi bagaimana selalu siap melayani dan membantu mereka hidup lebih sehat dan sejahtera. Wallahu A’lam.

Redaksi