Majalah Swara Rahima Edisi 18; Risalah Kenabian dan Pembebasan Perempuan: Perbedaan antara revisi
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox book|publisher=[https://swararahima.com/2006/05/06/edisi-18/ Rahima]|image=Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 18.png|italic title=Majalah Swara Rahima|isbn=|cover_artist=|series=Nomor 18 Tahun VI, Mei 2006|title_orig=|note=[https://swararahima.com/2006/05/06/edisi-18/ Download]}} | '''Informasi Majalah:''' | ||
{| | |||
|Sumber | |||
|: | |||
|[https://swararahima.com/2006/05/06/edisi-18/ Swara Rahima] | |||
|- | |||
|Nama Majalah | |||
| : | |||
|Majalah Swara [[Rahima]] | |||
|- | |||
| Tema | |||
| : | |||
|Risalah Kenabian dan Pembebasan Perempuan | |||
|- | |||
|Seri | |||
|: | |||
|Nomor 18 Tahun VI, Mei 2006 | |||
|- | |||
|Penerbit | |||
|: | |||
|Rahima | |||
|- | |||
|Link Download | |||
|: | |||
|[https://swararahima.com/2006/05/06/edisi-18/ Download] | |||
|}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''{{Infobox book|publisher=[https://swararahima.com/2006/05/06/edisi-18/ Rahima]|image=Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 18.png|italic title=Majalah Swara Rahima|isbn=|cover_artist=|series=Nomor 18 Tahun VI, Mei 2006|title_orig=|note=[https://swararahima.com/2006/05/06/edisi-18/ Download Majalah]}}'''''Pembaca yang budiman…''''' | |||
''Alhamdullilah'', kami dapat hadir kembali ke tengah pembaca semua. Dalam bulan April tahun ini, ada dua momen besar yang selalu diperingati oleh Umat Islam dan Bangsa Indonesia secara umum. Momen tersebut adalah Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Kartini. | |||
Suatu hal yang ''Insya Allah'' membawa hikmah karena untuk kedua kalinya dua momen ini jatuh pada bulan yang sama di tahun 2005 dan 2006. Hikmah yang sangat penting adalah perlunya menegakkan keadilan dan kesetaraan kemanusiaan secara berkesinambungan. Perjuangan itulah yang dibawa oleh para Nabi. Sebuah perjuangan yang tak kan pernah usai sampai berakhirnya kehidupan itu sendiri. Selama realitas kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai bentuknya (penindasan, peminggiran peran, diskriminasi, pelecehan, dan sebagainya) masih terjadi maka tidak ada kata akhir dalam berjuang. Itulah warisan misi kenabian, mengubah zaman dari gelap menuju cahaya (''min al-dzulumat ila al-nur'') dengan landasan cinta (''rahmatan lil ‘alamin''). Nabi pun mengubah nasib “gelap” yang dialami perempuan masa itu dengan “cahaya terang” berupa kemerdekaan kemanusiaan dan kesederajatan antara perempuan dan laki-laki. | |||
Misi kenabian inilah yang pada urutannya diwarisi oleh sejumlah [[tokoh]] perempuan sepanjang zaman. Di Indonesia sendiri tokoh perempuan pengubah zaman sangatlah banyak, sekadar menyebut beberapa nama besar, antara lain: Laksamana Malahayati, Cut Nyak Din, Cut Nyak Meutia, Dewi Sartika, RA. Kartini, Rahmah elYunusiyah, Nyai Walidah, dan masih banyak lagi. Seperti juga Sang Nabi, Kartini (salah satu dari tokoh perempuan Indonesia) adalah seorang anak manu sia yang peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan, utamanya perempuan yang seringkali menjadi korban kesewenang-wenangan. Apa yang diperjuangkan olehnya, selaras dengan misi kenabian yang membebaskan perempuan dari segala bentuk diskriminasi. | |||
'''''Pembaca yang baik...''''' | |||
Berangkat dari sisi ini, bukan hal yang berlebihan jika ''Swara Rahima'' edisi 18 ini, menyandingkan kedua momen tersebut dalam sebuah tema: Misi Kenabian dan Cita-cita Perempuan: Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Kartini. Kami sangat berharap dengan kedua momen ini, nilainilai universal yang menjadi misi kenabian Muhammad SAW serta cita perjuangan perempuan, dapat dijadikan acuan untuk memperjuangkan nilai-nilai yang sama pada hari ini dan esok yang lebih baik. | |||
Kita sadar bahwa nilai-nilai tersebut harus lebih kita perjuangkan dalam aksi nyata sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Begitu pula ketika kita memperingati Hari Kartini, apakah hanya akan diisi dengan sekadar beramai-ramai memakai kebaya, berpawai, dan lomba masak? Di sinilah perlunya kita menangkap pesan yang sesungguhnya untuk kemudian bersama bergerak menentang ketidakadilan. | |||
Akhirnya, segenap Redaksi mengucapkan Selamat Hari Maulid Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal 1427) dan Selamat Hari Kartini (21 April 2006) dengan harapan kita semua dapat menggali nilai-nilai luhur dari kehidupannya. Semoga sajian ini bermanfaat. Selamat Membaca. | |||
[[Kategori:Khazanah]] | [[Kategori:Khazanah]] | ||
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]] | [[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]] | ||
[[Kategori:Majalah]] | [[Kategori:Majalah]] | ||
Revisi per 21 Februari 2026 15.49
Informasi Majalah:
| Sumber | : | Swara Rahima |
| Nama Majalah | : | Majalah Swara Rahima |
| Tema | : | Risalah Kenabian dan Pembebasan Perempuan |
| Seri | : | Nomor 18 Tahun VI, Mei 2006 |
| Penerbit | : | Rahima |
| Link Download | : | Download |
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
| Seri | Nomor 18 Tahun VI, Mei 2006 |
|---|---|
| Penerbit | Rahima |
| Download Majalah | |
Pembaca yang budiman…
Alhamdullilah, kami dapat hadir kembali ke tengah pembaca semua. Dalam bulan April tahun ini, ada dua momen besar yang selalu diperingati oleh Umat Islam dan Bangsa Indonesia secara umum. Momen tersebut adalah Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Kartini.
Suatu hal yang Insya Allah membawa hikmah karena untuk kedua kalinya dua momen ini jatuh pada bulan yang sama di tahun 2005 dan 2006. Hikmah yang sangat penting adalah perlunya menegakkan keadilan dan kesetaraan kemanusiaan secara berkesinambungan. Perjuangan itulah yang dibawa oleh para Nabi. Sebuah perjuangan yang tak kan pernah usai sampai berakhirnya kehidupan itu sendiri. Selama realitas kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai bentuknya (penindasan, peminggiran peran, diskriminasi, pelecehan, dan sebagainya) masih terjadi maka tidak ada kata akhir dalam berjuang. Itulah warisan misi kenabian, mengubah zaman dari gelap menuju cahaya (min al-dzulumat ila al-nur) dengan landasan cinta (rahmatan lil ‘alamin). Nabi pun mengubah nasib “gelap” yang dialami perempuan masa itu dengan “cahaya terang” berupa kemerdekaan kemanusiaan dan kesederajatan antara perempuan dan laki-laki.
Misi kenabian inilah yang pada urutannya diwarisi oleh sejumlah tokoh perempuan sepanjang zaman. Di Indonesia sendiri tokoh perempuan pengubah zaman sangatlah banyak, sekadar menyebut beberapa nama besar, antara lain: Laksamana Malahayati, Cut Nyak Din, Cut Nyak Meutia, Dewi Sartika, RA. Kartini, Rahmah elYunusiyah, Nyai Walidah, dan masih banyak lagi. Seperti juga Sang Nabi, Kartini (salah satu dari tokoh perempuan Indonesia) adalah seorang anak manu sia yang peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan, utamanya perempuan yang seringkali menjadi korban kesewenang-wenangan. Apa yang diperjuangkan olehnya, selaras dengan misi kenabian yang membebaskan perempuan dari segala bentuk diskriminasi.
Pembaca yang baik...
Berangkat dari sisi ini, bukan hal yang berlebihan jika Swara Rahima edisi 18 ini, menyandingkan kedua momen tersebut dalam sebuah tema: Misi Kenabian dan Cita-cita Perempuan: Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Kartini. Kami sangat berharap dengan kedua momen ini, nilainilai universal yang menjadi misi kenabian Muhammad SAW serta cita perjuangan perempuan, dapat dijadikan acuan untuk memperjuangkan nilai-nilai yang sama pada hari ini dan esok yang lebih baik.
Kita sadar bahwa nilai-nilai tersebut harus lebih kita perjuangkan dalam aksi nyata sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Begitu pula ketika kita memperingati Hari Kartini, apakah hanya akan diisi dengan sekadar beramai-ramai memakai kebaya, berpawai, dan lomba masak? Di sinilah perlunya kita menangkap pesan yang sesungguhnya untuk kemudian bersama bergerak menentang ketidakadilan.
Akhirnya, segenap Redaksi mengucapkan Selamat Hari Maulid Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal 1427) dan Selamat Hari Kartini (21 April 2006) dengan harapan kita semua dapat menggali nilai-nilai luhur dari kehidupannya. Semoga sajian ini bermanfaat. Selamat Membaca.