Lompat ke isi

2002 Haidh, Nifas dan Istihadhah: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
Secara biologis menstruasi merupakan siklus reproduksi yang menandai sehat dan berfungsinya organ-organ reproduksi perempuan. Menstruasi menandakan kematangan seksual seorang perempuan dalam arti ia mempunyai ovum yang siap dibuahi, bisa hamil, dan melahirkan anak. Dalam bahasa agama kita menyebut siklus ini dengan haidh.
'''Informasi Artikel:'''
{|
|Sumber
|:
| -
|-
|Penulis
|:
|[[Badriyah Fayumi]]
|-
|Tahun
|:
|2002
|-
|Keterangan
|:
| ''Tulisan ini sudah pernah diterbitkan [[Rahima]] dalam buku bunga rampai berjudul "Tubuh, Seksualitas, dan Kedaulatan Perempuan" tahun 2002''
|}Secara biologis menstruasi merupakan siklus reproduksi yang menandai sehat dan berfungsinya organ-organ reproduksi perempuan. Menstruasi menandakan kematangan seksual seorang perempuan dalam arti ia mempunyai ovum yang siap dibuahi, bisa hamil, dan melahirkan anak. Dalam bahasa agama kita menyebut siklus ini dengan haidh.


Nifas atau darah yang keluar setelah perempuan mengalami persalinan juga merupakan siklus biologis normal yang dialami perempuan. Istilah nifas itu sendiri, seperti haidh, adalah bahasa agama yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia.
Nifas atau darah yang keluar setelah perempuan mengalami persalinan juga merupakan siklus biologis normal yang dialami perempuan. Istilah nifas itu sendiri, seperti haidh, adalah bahasa agama yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia.
Baris 7: Baris 24:
Haidh, nifas, dan istihadhah secara spesifik memperoleh perhatian dalam Islam karena di samping merupakan bagian dari perhatian Islam terhadap persoalan reproduksi perempuan juga berimplikasi terhadap banyak ketentuan agama mengenai perempuan baik dalam aspek ibadah, mu’amalah, maupun munakahah.
Haidh, nifas, dan istihadhah secara spesifik memperoleh perhatian dalam Islam karena di samping merupakan bagian dari perhatian Islam terhadap persoalan reproduksi perempuan juga berimplikasi terhadap banyak ketentuan agama mengenai perempuan baik dalam aspek ibadah, mu’amalah, maupun munakahah.


Dalam al-Qur’an persoalan haidh tidak dibahas secara mendalam melainkan lebih ditekankan pada aspek filosofis dan teologisnya. Dalam hadits persoalan haidh, nifas, dan istihadhah sudah memasuki area yang lebih operasional. Dalam [[fiqh]], persoalan ini, terutama istihadhah, memperoleh porsi pembahasan yang lebih detail dan dalam batas-batas tertentu mengandung bias gender.
Dalam [[al-Qur’an]] persoalan haidh tidak dibahas secara mendalam melainkan lebih ditekankan pada aspek filosofis dan teologisnya. Dalam [[hadits]] persoalan haidh, nifas, dan istihadhah sudah memasuki area yang lebih operasional. Dalam [[fiqh]], persoalan ini, terutama istihadhah, memperoleh porsi pembahasan yang lebih detail dan dalam batas-batas tertentu mengandung bias gender.


Tulisan berikut ini mencoba melihat persoalan haidh, nifas dan istihadhah ini dalam perspektif Al-Qur’an, al-Hadits, dan sekaligus fiqh.
Tulisan berikut ini mencoba melihat persoalan haidh, nifas dan istihadhah ini dalam perspektif Al-Qur’an, al-Hadits, dan sekaligus fiqh.