Lompat ke isi

Majalah Swara Rahima Edisi 13; Qurban untuk Pembelaan Korban: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 7: Baris 7:
|Nama Majalah
|Nama Majalah
| :
| :
|Majalah Swara Rahima
|Majalah Swara [[Rahima]]
|-
|-
| Tema
| Tema
Baris 24: Baris 24:
|:
|:
|[https://swararahima.com/2005/01/06/edisi-13/ Download]
|[https://swararahima.com/2005/01/06/edisi-13/ Download]
|}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''{{Infobox book|publisher=[https://swararahima.com/2005/01/06/edisi-13/ Rahima]|image=Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 13.png|italic title=Majalah Swara Rahima|isbn=|cover_artist=|series=Nomor 13 Tahun V, Januari 2005|title_orig=|note=[https://swararahima.com/2005/01/06/edisi-13/ Download Majalah]}}Majalah Swara [[Rahima]] adalah media publikasi berkala dari Perhimpunan Rahima yang berfokus pada wacana Islam dan hak-hak perempuan, utamanya mengusung perspektif adil gender. Majalah ini menyajikan analisis, studi tafsir, dan hadis yang mendukung keadilan perempuan, serta memuat pemikiran [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] di [[komunitas]].
|}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''{{Infobox book|publisher=[https://swararahima.com/2005/01/06/edisi-13/ Rahima]|image=Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 13.png|italic title=Majalah Swara Rahima|isbn=|cover_artist=|series=Nomor 13 Tahun V, Januari 2005|title_orig=|note=[https://swararahima.com/2005/01/06/edisi-13/ Download Majalah]}}'''''Pembaca yang setia…'''''


Majalah ini menjadi sarana dialog dan edukasi mengenai posisi perempuan dalam Islam, sering kali melibatkan pemikiran [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] sebagai pengasuh rubrik. Tulisan di dalamnya sering mengangkat tema Islam yang ramah terhadap perempuan dan menolak bias gender.
Seluruh redaksi Majalah ''Swara Rahima'' mengucapkan selamat tahun baru 2005. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat dan kita sudah berada dalam lembaran baru di tahun 2005. Mudah-mudahan di awal tahun baru ini, dengan semangat baru, langkah kita akan semakin ringan untuk terus mengentaskan setiap penindasan dan kedzaliman di muka bumi ini. Sehingga tidak banyak lagi korban berjatuhan karena penindasan tersebut sehingga ketentraman menjadi sahabat sehari-hari.


''Swara Rahima'' seperti biasanya akan menjadi teman setia pembaca untuk membahas persoalan yang berkaitan dengan isu perempuan dan Islam. Pada edisi kali ini redaksi menyuguhkan tema ''Qurban''. Bagaimana ''qurban'' dimaknai dengan mengambil sudut pandang perempuan? Juga dalam hal ini redaksi mencoba menyanding istilah ''qurban'' (dengan huruf “qu”) dan istilah korban (dengan “ko”). Hal ini berkaitan dengan kondisi yang sampai detik ini, kaum perempuan masih menjadi pihak yang selalu menjadi korban, dituntut untuk berkorban, dan menjadi pihak yang selalu dikorbankan terus.
'''''Pembaca yang berbahagia…'''''
Ritual ibadah ''qurban'' merupakan pengulangan dari rekaman peristiwa yang terjadi ribuan tahun lampau atas diri Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Peristiwa itu dimulai dari sebuah mimpi yang dialami oleh Nabi Ibrahim selama tiga hari berturut-turut. Mimpi seorang nabi tentu berbeda dengan mimpinya orang biasa. Mimpi nabi tersebut adalah wahyu Ilahi. Hanya saja, banyak orang lupa (atau melupakan) bahwa selain Ismail dan Ibrahim sebagai [[tokoh]] sejarah dalam peristiwa tersebut, di sana juga ada Hajar dan Sarah. Perempuan-perempuan yang turut berperan bahkan berkorban sebagai perempuan, sebagai istri dan ibu. Sehingga ritual ''qurban'' sesungguhnya bukan hanya bagian dari peringatan terhadap pengorbanan Ismail dan Ibrahim tetapi juga pengorbanan Hajar dan Sarah.
'''''Pembaca yang budiman...'''''
Lepas dari ''qurban'', korban dan pengorbanan perempuan, apa yang ingin diungkap dalam lembaran-lembaran berikut adalah bagian dari refleksi kehidupan kita. Dari situ pula diharapkan tumbuh sebuah kesadaran baru bahwa tidak seharusnya selalu ada manusia “korban” atau yang dikorbankan bagi sebuah misi kehidupan yang mencita-citakan tatanan kehidupan yang penuh dengan keadilan dan kesederajatan. Peristiwa ritual ''qurban'' sudah saatnya dibaca dan dimaknai melalui perspektif yang lebih manusiawi dan adil, bagi perempuan dan laki-laki.
Selamat Membaca!
'''Redaksi'''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Majalah]]
[[Kategori:Majalah]]

Revisi per 21 Februari 2026 15.44

Informasi Majalah:

Sumber : Swara Rahima
Nama Majalah : Majalah Swara Rahima
Tema : Qurban untuk Pembelaan Korban
Seri : Nomor 13 Tahun V, Januari 2005
Penerbit : Rahima
Link Download : Download

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Majalah Swara Rahima Edisi 13; Qurban untuk Pembelaan Korban
SeriNomor 13 Tahun V, Januari 2005
PenerbitRahima
Download Majalah

Pembaca yang setia…

Seluruh redaksi Majalah Swara Rahima mengucapkan selamat tahun baru 2005. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat dan kita sudah berada dalam lembaran baru di tahun 2005. Mudah-mudahan di awal tahun baru ini, dengan semangat baru, langkah kita akan semakin ringan untuk terus mengentaskan setiap penindasan dan kedzaliman di muka bumi ini. Sehingga tidak banyak lagi korban berjatuhan karena penindasan tersebut sehingga ketentraman menjadi sahabat sehari-hari.

Swara Rahima seperti biasanya akan menjadi teman setia pembaca untuk membahas persoalan yang berkaitan dengan isu perempuan dan Islam. Pada edisi kali ini redaksi menyuguhkan tema Qurban. Bagaimana qurban dimaknai dengan mengambil sudut pandang perempuan? Juga dalam hal ini redaksi mencoba menyanding istilah qurban (dengan huruf “qu”) dan istilah korban (dengan “ko”). Hal ini berkaitan dengan kondisi yang sampai detik ini, kaum perempuan masih menjadi pihak yang selalu menjadi korban, dituntut untuk berkorban, dan menjadi pihak yang selalu dikorbankan terus.

Pembaca yang berbahagia…

Ritual ibadah qurban merupakan pengulangan dari rekaman peristiwa yang terjadi ribuan tahun lampau atas diri Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Peristiwa itu dimulai dari sebuah mimpi yang dialami oleh Nabi Ibrahim selama tiga hari berturut-turut. Mimpi seorang nabi tentu berbeda dengan mimpinya orang biasa. Mimpi nabi tersebut adalah wahyu Ilahi. Hanya saja, banyak orang lupa (atau melupakan) bahwa selain Ismail dan Ibrahim sebagai tokoh sejarah dalam peristiwa tersebut, di sana juga ada Hajar dan Sarah. Perempuan-perempuan yang turut berperan bahkan berkorban sebagai perempuan, sebagai istri dan ibu. Sehingga ritual qurban sesungguhnya bukan hanya bagian dari peringatan terhadap pengorbanan Ismail dan Ibrahim tetapi juga pengorbanan Hajar dan Sarah.

Pembaca yang budiman...

Lepas dari qurban, korban dan pengorbanan perempuan, apa yang ingin diungkap dalam lembaran-lembaran berikut adalah bagian dari refleksi kehidupan kita. Dari situ pula diharapkan tumbuh sebuah kesadaran baru bahwa tidak seharusnya selalu ada manusia “korban” atau yang dikorbankan bagi sebuah misi kehidupan yang mencita-citakan tatanan kehidupan yang penuh dengan keadilan dan kesederajatan. Peristiwa ritual qurban sudah saatnya dibaca dan dimaknai melalui perspektif yang lebih manusiawi dan adil, bagi perempuan dan laki-laki.

Selamat Membaca!

Redaksi