Lompat ke isi

Majalah Swara Rahima Edisi 04; Jihad dan Kaum Perempuan: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 46: Baris 46:
'''''Redaksi'''''
'''''Redaksi'''''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Majalah]]
[[Kategori:Majalah]]
[[Kategori:Majalah Swara Rahima]]

Revisi per 12 Maret 2026 12.21

Informasi Majalah:

Sumber : Swara Rahima
Nama Majalah : Majalah Swara Rahima
Tema : Jihad dan Kaum Perempuan
Seri : Nomor 04 Tahun II, Februari 2002
Penerbit : Rahima
Link Download : Download

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Majalah Swara Rahima Edisi 04; Jihad dan Kaum Perempuan
JudulMajalah Swara Rahima Edisi 04
SeriNomor 04 Tahun II, Februari 2002
PenerbitRahima
Download Majalah

Pembaca yang kami hormati,

Selamat berjumpa kembali. Kali ini Swara Rahima hadir diapit oleh dua momen besar dalam tradisi Islam, Hari Raya ‘Idul Adha 1422 H dan Tahun Baru 1423 Hijriah. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari dua peristiwa besar itu. Kedua peristiwa itu telah menggambarkan dengan cemerlang sebuah usaha yang bersungguh-sungguh untuk entas dari kegelapan menuju cahaya (min al-dzulumat ila al-nuur). Ke dua peristiwa besar ini juga telah mencuatkan betapa berartinya nilainilai perjuangan yang dilandasi keikhlasan.

Bagi kami, Idul Adha dan Tahun Baru Hijriyah bukan “sekadar” peristiwa keagamaan yang secara rutin datang tiap tahun. Idul Adha dan Tahun Baru Hijriyah lebih kami pahami sebagai peristiwa simbolik yang di dalamnya banyak menyimpan beragam makna luhur. Idul Adha adalah simbolisasi dari sebuah “perayaan” atas kemenangan Ibrahim, Hajar dan Ismail dalam meraih tangga ketaqwaan sejati setelah sukses melampaui ujian untuk rela berkorban secara total. Sedangkan Tahun Baru Hijriyah adalah simbolisasi dari semangat transformasi ketika Nabi dan segenap ummat Islam awal, lelaki maupun perempuan, mengambil keputusan untuk berpindah guna melakukan perubahan dan transformasi sosial menuju tata kehidupan baru yang lebih adil dan egaliter.

Pembaca yang budiman,

Kami ingin menggaris bawahi kedua peristiwa besar ini sebagai titik berangkat untuk rethinking jihad. Sebuah terma yang akhir-akhir ini begitu mendominasi wacana dunia. Kita semua tahu bahwa semua itu tak terlepas dari pusaran spiral kekerasan yang terjadi setelah ledakan peristiwa 11 September di New York dan serangkaian akibat yang mengikutinya. Secara khusus kita harus menyebut Afganistan, sebuah lokus utam dimana telah terjadi pertarungan berbagai kuasa.

Dari gemebyar wacana maupun praktik jihad tampaknya ada banyak distorsi yang mencuat. Jihad telah “dikerangkeng”. Ia seolah-olah hanyalah berwujud jika ada pembakaran bendera, sebaran pamflet, rapat atau tabligh akbar, propaganda melalui radio, khutbah yang berapi-api, berjubelnya demonstran, turunnya pasukan “jilbab”, dentuman meriam, ceceran darah dan kematian. Pertanyaannya adalah apakah jihad semata itu? Lalu bagaimana dengan dimensi lain kehidupan yang di dalamnya terkandung sebuah bukti perjuangan suci? Bersungguh-sungguh menuntut ilmu, melahirkan dan membesarkan anak, upaya mencari nafkah dan berbagai rona kehidupan feminin yang lainnya?

Pembaca yang berbahagia,

Untuk membuka cakrawala kita tentang jihad yang bersifat multi dimensi maka Swara Rahima kali ini mengajak pembaca untuk membaca ulang jihad dari perspektif perempuan. Mengapa harus demikian? Karena kami berhasrat untuk memberikan alternatif pemaknaan jihad yang mudahmudahan lebih bernuansa perdamaian. Tidak saja jihad berani mati tetapi jihad berani hidup. Selama ini kita telah mengebiri makna holistik jihad, persis ketika kita telah menyingkirkan keberadaan para mujahidah dari pentas sejarah. Siti Hajar, Ummu Salama, Rabi’atul Adawiyah, Rahma el Yunusiah, bu Sofiah, mak Ijah dan masih banyak lagi. Peran mereka telah direduksi besar-besaran hingga tidak tidak muncul dan dicatat dalam memori sejarah secara proposional. Yah, sekali lagi: kita telah mereduksi peran mereka sebagai mujahidah. Jika muncul pertanyaan mengapa demikian? Ada sebuah jawaban yang patut dikemukakan. Semua itu karena jihad telah diidentikkan dengan lelaki, bedil, darah, perang setidaknya ekspressi kemarahan. Wal hasil sesuatu yang berbau kekerasan.

Pembaca yang mulia

Akhirul kalam, kami berharap, Swara Rahima edisi ini dapat memberikan alternatif wacana yang mencerahkan di tengah “suasana spiritual” yang dihembuskan oleh momentum Idul Qurban dan Tahun Baru Hijriyah. Semoga ikhtiar kecil ini akan memberikan sejumput sumbangan untuk merumuskan jihad masa depan. Jihad yang tidak identik dengan laki-laki dan maskulinitas semata. Jihad yang lebih mencakup. Sebuah upaya transformasi dari dzulumat (kegelapan) menuju ke annuur (pencerahan). Dan ini dapat dipraktekkan oleh siapa saja, perempuan maupun lelaki.

Redaksi