Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 24; Perempuan dan Penyelamatan Perempuan: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 49: Baris 49:


[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen Swara Rahima]]

Revisi terkini sejak 12 Maret 2026 12.57

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Perempuan dan Penyelamatan Perempuan
Penulis : Husnul Khatimah
Editor : Helmi Ali
Seri : Edisi 24, April 2008
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 24; Perempuan dan Penyelamatan Perempuan
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 24
SeriEdisi 24, April 2008
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur ke hadirat yang terbentang di muka Bumi ini. Edisi ke 24, menghadirkan Suplemen dengan tema Ilahi Rabbi, atas anugerah kehidupan Perempuan Penyelamatan Lingkungan. Lingkungan kini rusak parah terkena dampak global warming (pemanasan global). Ini terjadi akibat ulah tangan dan kelalaian manusia sendiri. Berabad-abad lalu Tuhan dan Rasul-Nya telah memperingatkan untuk tidak berbuat kerusakan. Namun manusia seringkali membantah-Nya. Sebagaimana firman Allah swt:

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di Bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan”. (QS. 2: 11)

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. 30: 41)

Nampaknya manusia terlampau serakah, tidak lagi memperhatikan petunjuk Tuhan dalam mengelola Bumi. Maka terjadilah bencana alam, kerusakan Bumi dan atmosfer, yang menimbulkan pemanasan global. Pemanasan global ini membuat cuaca kian bertambah panas dan tidak menentu. Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil, seperti gas Bumi, minyak Bumi dan batu bara, juga mengakibatkan pencemaran udara dan menimbulkan hujan asam. Hujan asam tersebut memusnahkan organisme air sungai, dan danau, serta membuat hutan dan bangunan rusak. Kondisi ini semakin parah oleh penyusutan luas hutan yang ditebang secara liar, dan pengerukan hasil alam yang tak terkendali.

Mata rantai penyebab kerusakan alam tersebut, sesungguhnya erat kaitannya dengan perempuan. Ibu-ibu rumah tangga, buruh tani, atau buruh di pabrik-pabrik, mereka rentan terkena pencemaran zat-zat kimia dan pestisida. Namun demikian, perempuan pada dasarnya mampu melakukan penyelamatan diri dan lingkungannya. Hanya yang terjadi, modernitas telah menggeser keikutsertaaan mereka mengelola alam. Keterampilannya mengolah lingkungan secara alami, digantikan peralatan mesin dan teknologi. Kapasitasnya sebagai perempuan dianggap tak mampu “menghasilkan” secara maksimal. Inilah cara pandang bias terhadap perempuan yang melahirkan diskriminasi, terutama untuk perempuan perdesaan. Mereka didesak meninggalkan “lahannya”, dan menyerahkannya kepada teknologi yang eksploitatif, dan cenderung patriarkhis. Perempuan tidak dilibatkan dalam mengambil kebijakan pengelolaan lingkungan yang tidak mempertimbangkan ekosistem, sehingga terjadi eksploitasi besarbesaran terhadap alam.

“Tuhan Maha Bijaksana”. Sepantasnya manusia introspeksi diri. Mudah-mudahan ini tidak sekadar ungkapan, namun motivasi untuk berlomba-lomba berbuat baik bagi kesetaraan dan segenap alam. Selamat membaca!

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Jakarta, Maret 2008

Redaksi