Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 37; Tradisi Mahar: “Pemberian” ataukah “Pembelian”?: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 54: Baris 54:
Padahal, peran-peran gender bukanlah sesuatu yang absolut. “Hidup adalah kompromikompromi,” begitulah ungkap seorang sahabat. Baginya, tidak ada kekuasaan yang absolut, semua adalah relatif, semua bisa didiskusikan, bisa dikomunikasikan dan bisa didialogkan. Sayangnya, ketika sebagian orang menganggap tak ada kompromi, karena konstruksi gender dianggap berasal dari teks agama, maka hal tersebut tak dapat dibantah ataupun digugat (dikritisi), dan tak ada dialog ataupun diskusi. Dalam hal ini, penempatan relasi laki-laki dan perempuan dibangun berdasarkan oposisi ''binner'' (saling berhadap-hadapan).
Padahal, peran-peran gender bukanlah sesuatu yang absolut. “Hidup adalah kompromikompromi,” begitulah ungkap seorang sahabat. Baginya, tidak ada kekuasaan yang absolut, semua adalah relatif, semua bisa didiskusikan, bisa dikomunikasikan dan bisa didialogkan. Sayangnya, ketika sebagian orang menganggap tak ada kompromi, karena konstruksi gender dianggap berasal dari teks agama, maka hal tersebut tak dapat dibantah ataupun digugat (dikritisi), dan tak ada dialog ataupun diskusi. Dalam hal ini, penempatan relasi laki-laki dan perempuan dibangun berdasarkan oposisi ''binner'' (saling berhadap-hadapan).
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen Swara Rahima]]

Revisi terkini sejak 12 Maret 2026 13.06

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Tradisi Mahar: “Pemberian” ataukah “Pembelian”?
Penulis : Ipah Jahrotunasipah, S.Pd
Editor : -
Seri : Edisi 37
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 37; Tradisi Mahar: “Pemberian” ataukah “Pembelian”?
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 37
SeriEdisi 37, Desember 2009
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Di dalam masyarakat Indonesia, perni-kahan adalah sebuah proses yang agung, yang diimpikan oleh banyak orang, dan bahkan terkesan sakral. Pestanya menjadi harapan bagi semua orang, baik dari keluarga kurang mampu, sampai mereka yang konglomerat. “Saya paling senang datang ke pesta pernikahan, melihat banyak orang bahagia, berdoa untuk sebuah kelangsungan generasi, oh bahagianya!” tutur Maria Ulfah, seorang alumnus IAIN Semarang.

Pernikahan adalah pintu masuk bagi kedua mempelai untuk membangun rumah tangga. Darmanto Yt, dalam sajaknya, seperti dikutip oleh Kris Budiman, bertutur:

Rumah itu, omah,

Omah itu dari Om dan Mah,

Om artinya O, maknanya langit, mak-sudnya ruang bersifat jantan

Mah artinya menghadap ke atas, makna-nya bumi, maksudnya tanah bersifat betina,

jadi rumah adalah ruang pertemuan anta-ra laki dan rabinya.

Sajak tersebut, menurut analisis Kris, menggambarkan bahwa di dalam rumah terdapat komponen-komponen semantis (makna yang lebih luas dari rumah tangga) yang saling beroposisi (berhadap hadapan), bahkan bersifat hirarkhis (tangga), yaitu atas (pemimpin/pengatur) bawah (yang dipimpin/yang diatur); luar (publik) dalam (domestik); jantan (maskulin) betina (feminin). Pasangan laki-laki dan perempuan dalam sebuah pernikahan selanjutnya akan menempati posisi-posisi tersebut, yaitu siapa di atas dan siapa di bawah; siapa yang mengatur dan siapa yang di atur; siapa yang bertanggung jawab urusan luar (publik) dan siapa yang bertanggung jawab atas urusan domestik. Berdasarkan pembagian tersebut, secara sosiologis, laki-laki dikontruksi untuk menempati posisi yang pertama, lebih tinggi dan perempuan di posisi yang kedua. Penempatan ruang-ruang tersebut, di sebagian masyarakat bersifat absolut, namun pada sebagian masyarakat lain bersifat relatif.

Untuk mengukuhkan posisi-posisi tersebut, secara turun-temurun, disosialisasikanlah tentang peran dan status laki-laki dan perempuan di dalam rumah tangga, dimana laki-laki ditempatkan sebagai the firts class (kelas sosial yang pertama) dan perempuan sebagai the second class (kelas sosial yang kedua). Semakin kuat laki-laki menempatkan diri di posisi yang pertama, maka dalam struktur sosial ia akan semakin menyingkirkan peran perempuan. Dampaknya, laki-laki memiliki banyak priviledge; akan selalu dianggap sebagai penanggung jawab, keputusannya akan selalu didengar, pendapatannya dianggap sebagai nafkah, selalu mengatur, boleh memukul kalau istrinya membantah, dapat menjatuhkan talak kapan pun dia mau, menjadi wali yang menikahkan perempuan, menjadi imam, menjadi saksi penuh atas dirinya, dan seterusnya.

Namun, kontruksi sosiologis ini berdampak sebaliknya bagi perempuan; perempuan dianggap sebagai mahluk yang lemah, perempuan bukan yang utama, perempuan boleh dipoligami, perempuan boleh dipukul, perempuan akan dianggap nusyuz ketika tidak taat pada suaminya, pendapat perempuan tidak penting (tidak mengandung kekuatan hukum), perempuan tidak dapat menjadi saksi (kecuali dua orang), bagian hak waris perempuan separoh dari laki-laki, pendapatan perempuan hanya sebagai pelengkap saja, perempuan tidak bisa menjadi imam bagi laki-laki, perempuan tidak bisa menjadi wali, perempuan harus selalu dijaga (oleh muhrimnya), perempuan baru bisa menikah jika mendapat persetujuan walinya, dan seterusnya.

Relasi gender yang timpang ini menimbulkan beban psikologis baik bagi laki-laki maupun perempuan. Sebagai contoh, ketika seseorang karena suatu hambatan tidak dapat memenuhi konstruksi gender di atas, maka ia seringkali mendapatkan stigma atau pelabelan tidak baik. Misalnya, seorang laki-laki yang terkena korban PHK kemudian memilih di rumah dan melakukan beberapa pekerjaan rumah, oleh masyarakat dipandang sebelah mata, menjadi sumber gosip, direndahkan, dan sebagainya. Demikian juga jika ada seorang perempuan yang bekerja di luar rumah dan sukses, gajinya tinggi, sedangkan suaminya di rumah, maka ia sering digosipkan sebagai perempuan yang “menguasai’ laki-laki.

Padahal, peran-peran gender bukanlah sesuatu yang absolut. “Hidup adalah kompromikompromi,” begitulah ungkap seorang sahabat. Baginya, tidak ada kekuasaan yang absolut, semua adalah relatif, semua bisa didiskusikan, bisa dikomunikasikan dan bisa didialogkan. Sayangnya, ketika sebagian orang menganggap tak ada kompromi, karena konstruksi gender dianggap berasal dari teks agama, maka hal tersebut tak dapat dibantah ataupun digugat (dikritisi), dan tak ada dialog ataupun diskusi. Dalam hal ini, penempatan relasi laki-laki dan perempuan dibangun berdasarkan oposisi binner (saling berhadap-hadapan).