Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 39; Kaum Perempuan dan Reproduksi Manusia: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi ''''Informasi Suplemen:''' {| |Sumber |: |[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima] |- |Tema |: |Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempua...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 3: Baris 3:
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima]
|[https://swararahima.com/2012/07/07/edisi-39-2/ Swara Rahima]
|-
|-
|Tema
|Tema
|:
|:
|Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempuan
|Kaum Perempuan dan Reproduksi Manusia
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Irma Riyani, MA
|Agustriani Muzayanah
|-
|-
|Editor
|Editor
|:
|:
| A. Dicky Sofyan
| ''AD Kusumaningtyas''
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
|Edisi 29, Desember 2009
|Edisi 39, Juli 2012
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 27: Baris 27:
|Link Download
|Link Download
| :
| :
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download]
|[https://swararahima.com/2012/07/07/edisi-39-2/ Download]
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 29.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 29, Desember 2009|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|note=[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 39.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 39|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 39, Juli 2012|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 39|note=[https://swararahima.com/2012/07/07/edisi-39-2/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''


Syukur ''Alhamdulillah,'' ke hadirat ''Ilahi Rabbi'' yang mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menyemai upaya pembebasan bagi seluruh umat manusia, lelaki dan perempuan. ''Swara Rahima'' edisi ke-29, hadir kembali dengan Suplemen bertema ''Kajian Kronologis Ayat-ayat Alquran tentang Perempuan.'' 
''Alhamdulillah'', puji syukur senantiasa kita lantunkan ke hadirat Allah swt. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, hingga saat ini kita masih diperkenankan-Nya untuk melaksanakan berbagai ibadah dan amal saleh, menjalankan tugas kemanusiaan sehari-hari, maupun berbagi dengan sesama; termasuk di antaranya berbagi informasi dan pengetahuan.


Menarik ketika di awal bahasan tulisan ini, kita disuguhi pertanyaan ringan yang wajar dilontarkan masyarakat di sekitar kita. Katanya, bila seseorang ditanya, “sudah punya anak? Laki-laki atau perempuan?” Biasanya bila jawaban yang keluar “Sudah, anakku laki-laki,” maka respon penanya adalah “Alhamdulillah”. Tapi bila jawabnya “Anakku perempuan,” maka respon penanya akan biasabiasa saja; manggut-manggut, atau sekedar berkata “ooh”.
Shalawat dan salam semoga terlimpah ke hadirat beliau, Baginda Rasulullah saw. yang telah mengantarkan kita untuk setia dalam ber-Islam, menebar kasih sayang di muka bumi, dan menegaskan penghormatan kita kepada kaum Ibu, kaum perempuan, melalui berbagai hadis yang disampaikannya. Di antaranya adalah ketegasan jawaban ketika salah seorang sahabat bertanya tentang siapa yang paling berhak untuk terlebih dahulu kita hormati. Dan beliau menjawab “''Ibumu, ibumu, ibumu''(mengulang penyebutan itu 3 kali), dan melanjutkannya dengan “''baru kemudian ayahmu''. Rasulullah saw. juga bersabda, “''Tidak memuliakan kaum perempuan kecuali orang yang mulia. Dan tidak menghinakan kaum perempuan kecuali orang yang hina''.


Memiliki anak laki-laki dianggap keistimewaan tersendiri bagi sebagian masyarakat. Sedang punya anak perempuan, dirasa biasa saja, biar lengkap, katanya. Meski dianggap wajar, persepsi yang kadung melekat dalam pemahaman masyarakat ini butuh diluruskan. Sebab, baik lelaki maupun perempuan sama-sama sempurna harga dirinya, dan sama-sama berpotensi mengembangkan diri. Sebagai penegasan tentang kesetaraan lelaki-perempuan ini, Alquran menyatakan Tuhan memberi kesempatan dan balasan sama bagi siapa saja yang berbuat kebajikan, tanpa melihat laki-laki atau perempuan (QS. ''Al-Nahl:'' 97).
Beragam hadis di atas sangat kontekstual dengan pembahasan Suplemen Edisi ke-39 ini yang hendak membahas tema seputar peran kaum perempuan dalam reproduksi manusia. Perempuan sebagai ’pemilik rahim’ memang mendapatkan amanah yang sangat berat sekaligus mulia dari Allah swt. Untuk menyandang titah reproduksi itu dalam tubuhnya. Kandungan yang dimilikinya menjadi tempat persemaian kehidupan dimana sel telur perempuan (''ovum'') dan sel telur lakilaki (''sperma'') dipertemukan sehingga menjelma menjadi sebuah kehidupan. Kurang lebih selama 9 bulan reproduksi itu berproses, yang menghendaki kesehatan yang prima mengingat tubuh seorang ibu hamil cenderung ’lemah dan bertambah lemah’.


Alquran, dalam memberi ketetapan-ketetapan tersebut tentang laki-laki dan perempuan, tidaklah terlepas dari konteks sosial yang melatarbelakangi, sebagaimana yang terkaji dalam ilmu ''Asbab al-Nuzul.'' Dengan memperhatikan teks sekaligus konteks, seorang ''mufassir'' diharapkan dapat menangkap makna yang terkandung dalam Alquran, tidak jauh berbeda dengan apa yang dimaksudkan Tuhan dan Rasul-Nya. Alasannya, sebuah konteks peristiwa akan memberi nuansa psikologi sosial yang berlaku pada saat teks diturunkan. Terlebih saat ini, Islam telah meluas ke seluruh penjuru dunia, dengan situasi dan pengalaman yang berbeda, maka penafsiran yang memperhatikan konteks sangat perlu agar semangat ajaran Alquran tetap dapat diaplikasikan di manapun dan kapanpun. Inilah yang diresapi sebagai ''Alquran shalihun likulli zaman wa makan''.
Selain itu, ketika seorang jabang bayi telah siap dilahirkan dari gua garba Sang Ibu, Sang Ibu juga harus rela bertaruh nyawa untuk mengantarkan sang bayi melihat dunia. Setelah itu, karena kekhususan fungsi tubuhnya dimana perempuan memiliki payudara dengan kelenjar menyusui, tugas reproduksi itu terus berlangsung dengan menyusui sang bayi hingga tiba masa penyapihan ketika bayi tersebut berusia 2 tahun atau 30 bulan. ''Subhanallah''. Belum cukup tentang hal itu, masyarakat juga cenderung membebankan tugas ’pengasuhan dan pendidikan’ anak di pundak ibu. Sungguh pun, semestinya proses reproduksi, pengasuhan dan pendidikan itu memerlukan keterlibatan aktif dari ibu dan ayah sebagai orang tua.


Dalam pembacaan Alquran ini, salah satu aspek kontekstualisasi yang dikaji dalam tulisan ini adalah pembacaan secara kronologis, yang dimulai dari periode Mekah dan dilanjutkan dengan periode Madinah. Pembacaan ini dipandang penulis, sebagai salah satu “cara baca baru” yang dapat dijadikan alternatif untuk mengkaji ayat-ayat Alquran secara lebih tepat, terutama terkait ayat-ayat yang memberi advokasi terhadap eksistensi jenis kelamin perempuan.
Secara komprehensif, proses penciptaan manusia itu diterangkan secara detail dalam suplemen ini. Mulai dari fitrah kenapa manusia itu perlu berpasangan, bagaimana Alquran menerangkan tahapan-tahapan penciptaan manusia, yang diterangkan melalui penjelasan-penjelasan secara medis tentang beragam komponen maupun tahapan-tahapan reproduksi.


Pembacaan seperti ini perlu dikembangkan, terlebih saat ini, permasalahan yang dihadapi manusia, lelaki dan perempuan, telah semakin kompleks. Kesadaran akan konteks sosial yang berbeda kini, dengan saat Alquran diturunkan, harus disertai pendekatan yang lebih ramah terhadap semua, tanpa membedakan jenis kelamin. Apalagi, selama ini, kecenderungan pemahaman yang bias atas teks-teks agama, telah menjadikan perempuan sebagai ‘subordinat’. Karenanya, mengambil langkah re-evaluasi dan bersikap kritis terhadap penafsiran dan penggunaan ayat-ayat Alquran, dan sumber-sumber ajaran Islam, dibutuhkan untuk membangun kesetaraan di antara lelaki dan perempuan.
''Agustriyani Muzayyanah,'' salah satu peserta program Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) Rahima Angkatan ke-2 Jawa Barat menganggap bahwa proses penciptaan manusia merupakan tema yang menarik untuk diangkat. Ulasan-ulasannya dalam tulisan ini membuat kita semakin memahami bahwa antara teks dan konteks, bukanlah pembahasan yang terpisah. Ayat-ayat Alquran tentang reproduksi pada hakikatnya merupakan teori yang berbicara tentang asal-usul perkembangan manusia. Dan teori tersebut dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah, selain dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.


Selanjutnya, bagaimana sesungguhnya kita harus mengkaji Alquran terutama ayat-ayat tentang hak-hak perempuan ini dengan lebih mendalami konteks sosial di mana ayat-ayat tersebut turun? Kembali salah satu Peserta Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) RAHIMA angkatan II Jawa Barat, 2009, Irma Riyani MA., akan mengurai hal tersebut. Pemaparannya tentang kajian kronologis ayat-ayat Alquran berperspektif perempuan ini'','' akan menambah [[khazanah]] pengetahuan kita dalam mengupayakan pemberdayaan untuk hak-hak perempuan. ''Selamat membaca!''
Selain itu, yang paling penting Any mengingatkan bahwa reproduksi bukan sekedar persoalan ‘takdir’ semata yang akhirnya menjadi beban salah satu pihak, lelaki atau perempuan. Reproduksi, sejatinya memerlukan upaya kerjasama di antara keduanya, untuk melahirkan generasi Rabbani. Generasi yang sehat, cerdas, shalih dan shalihah, serta senantiasa berguna bagi umat manusia sebagai bukti kecintaan mereka kepada Tuhannya.


''Wassalamu’alikum Wr. Wb.''
Akhir kata, marilah kita simak ulasan penulis dalam sajiannya di Suplemen edisi ke-39 yang bejudul “Kaum Perempuan dan Reproduksi Manusia” ini. Semoga karya ini bermanfaat untuk Anda. Selamat membaca!


Jakarta, November 2009
''Ramadhan 1433 H/ Juli 2012 M''


'''''Redaksi'''''
'''Redaksi'''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]