Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 42; Mengurai Konflik, Merangkai Peradaban: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Informasi Suplemen:''' {| |Sumber |: |[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima] |- |Tema |: |Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempua...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 3: Baris 3:
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima]
|[https://swararahima.com/2013/07/07/edisi-42/ Swara Rahima]
|-
|-
|Tema
|Tema
|:
|:
|Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempuan
|Mengurai Konflik, Merangkai Peradaban
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Irma Riyani, MA
|[[Yulianti Muthmainnah]]
|-
|-
|Editor
|Editor
|:
|:
| A. Dicky Sofyan
| -
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
|Edisi 29, Desember 2009
|Edisi 42, Juli 2013
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 27: Baris 27:
|Link Download
|Link Download
| :
| :
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download]
|[https://swararahima.com/2013/07/07/edisi-42/ Download]
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 29.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 29, Desember 2009|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|note=[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 42|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 42, Juli 2013|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 42|note=[https://swararahima.com/2013/07/07/edisi-42/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''


Syukur ''Alhamdulillah,'' ke hadirat ''Ilahi Rabbi'' yang mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menyemai upaya pembebasan bagi seluruh umat manusia, lelaki dan perempuan. ''Swara Rahima'' edisi ke-29, hadir kembali dengan Suplemen bertema ''Kajian Kronologis Ayat-ayat Alquran tentang Perempuan.'' 
Puji syukur kita lantunkan ke hadirat Allah swt., Sang Maha Rahman dan Rahima, Penguasa jagat raya. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kita masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan tahun ini dan mengisinya dengan amal ibadah dan berbagai amal kebajikan. Shalawat dan salam, semoga selalu tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad saw. yang telah mengajarkan makna ‘salam’, untuk membangun perdamaian demi kemakmuran peradaban umat manusia. Dalam berbagai inti ajaran maupun perjalanan hidupnya, Nabi Muhammad senantiasa mengajak umatnya untuk menjaga kerukunan, menjauhi permusuhan, dan saling tolong menolong dalam kebaikan.


Menarik ketika di awal bahasan tulisan ini, kita disuguhi pertanyaan ringan yang wajar dilontarkan masyarakat di sekitar kita. Katanya, bila seseorang ditanya, “sudah punya anak? Laki-laki atau perempuan?” Biasanya bila jawaban yang keluar “Sudah, anakku laki-laki,” maka respon penanya adalah “Alhamdulillah”. Tapi bila jawabnya “Anakku perempuan,” maka respon penanya akan biasabiasa saja; manggut-manggut, atau sekedar berkata “ooh”.
'''''Pembaca setia Swara Rahima dimanapun Anda berada,'''''


Memiliki anak laki-laki dianggap keistimewaan tersendiri bagi sebagian masyarakat. Sedang punya anak perempuan, dirasa biasa saja, biar lengkap, katanya. Meski dianggap wajar, persepsi yang kadung melekat dalam pemahaman masyarakat ini butuh diluruskan. Sebab, baik lelaki maupun perempuan sama-sama sempurna harga dirinya, dan sama-sama berpotensi mengembangkan diri. Sebagai penegasan tentang kesetaraan lelaki-perempuan ini, Alquran menyatakan Tuhan memberi kesempatan dan balasan sama bagi siapa saja yang berbuat kebajikan, tanpa melihat laki-laki atau perempuan (QS. ''Al-Nahl:'' 97).
Kali ini Suplemen Edisi 42 Swara Rahima mengangkat topik “Mengurai Konflik, Merajut Peradaban”. Ditulis oleh Yulianti Muthmainnah, peserta program Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) Rahima Angkatan I Wilayah Jawa Barat yang kini bekerja di Komnas Perempuan, sebuah [[lembaga]] negara yang berkonsentrasi pada penegakan HAM dan penghapusan berbagai bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan. Pengalamannya selama bekerja melakukan pemantauan atas berbagai pelanggaran HAM dan kekerasan terhadap perempuan, menemukan bahwa perempuan dan anak-anaklah korban terbesar bagi setiap konflik atas nama apa saja, termasuk konflik bernuansakan agama.


Alquran, dalam memberi ketetapan-ketetapan tersebut tentang laki-laki dan perempuan, tidaklah terlepas dari konteks sosial yang melatarbelakangi, sebagaimana yang terkaji dalam ilmu ''Asbab al-Nuzul.'' Dengan memperhatikan teks sekaligus konteks, seorang ''mufassir'' diharapkan dapat menangkap makna yang terkandung dalam Alquran, tidak jauh berbeda dengan apa yang dimaksudkan Tuhan dan Rasul-Nya. Alasannya, sebuah konteks peristiwa akan memberi nuansa psikologi sosial yang berlaku pada saat teks diturunkan. Terlebih saat ini, Islam telah meluas ke seluruh penjuru dunia, dengan situasi dan pengalaman yang berbeda, maka penafsiran yang memperhatikan konteks sangat perlu agar semangat ajaran Alquran tetap dapat diaplikasikan di manapun dan kapanpun. Inilah yang diresapi sebagai ''Alquran shalihun likulli zaman wa makan''.
Secara panjang lebar tulisannya mengulas bagaimana perempuan berupaya untuk membangun memorabilia atas peristiwa-peristiwa konflik yang terjadi dan belajar untuk keluar dari situasi itu dengan merajut upaya perdamaian di atas tanah tempat tinggal mereka. Mereka menggunakan berbagai media budaya seperti ‘menganyam noken’, seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu di tanah Papua untuk merajut kembali perdamaian atas konflik yang mengakibatkan keluarga, sanak saudara, dan orang-orang mereka cintai tercerai berai.


Dalam pembacaan Alquran ini, salah satu aspek kontekstualisasi yang dikaji dalam tulisan ini adalah pembacaan secara kronologis, yang dimulai dari periode Mekah dan dilanjutkan dengan periode Madinah. Pembacaan ini dipandang penulis, sebagai salah satu “cara baca baru” yang dapat dijadikan alternatif untuk mengkaji ayat-ayat Alquran secara lebih tepat, terutama terkait ayat-ayat yang memberi advokasi terhadap eksistensi jenis kelamin perempuan.
'''''Para pembaca Swara Rahima yang budiman,'''''


Pembacaan seperti ini perlu dikembangkan, terlebih saat ini, permasalahan yang dihadapi manusia, lelaki dan perempuan, telah semakin kompleks. Kesadaran akan konteks sosial yang berbeda kini, dengan saat Alquran diturunkan, harus disertai pendekatan yang lebih ramah terhadap semua, tanpa membedakan jenis kelamin. Apalagi, selama ini, kecenderungan pemahaman yang bias atas teks-teks agama, telah menjadikan perempuan sebagai ‘subordinat’. Karenanya, mengambil langkah re-evaluasi dan bersikap kritis terhadap penafsiran dan penggunaan ayat-ayat Alquran, dan sumber-sumber ajaran Islam, dibutuhkan untuk membangun kesetaraan di antara lelaki dan perempuan.
Dalam tulisannya Yuli juga mengulas bagaimana PBB telah menerbitkan Resolusi 1325 untuk mengakhiri konflik yang terjadi. Ia juga menerangkan bahwa dalam Islam, juga cukup banyak teks-teks yang mengajarkan setiap manusia untuk menghindari konflik pertikaian dan permusuhan; serta mengedepankan bagaimana untuk selalu mendapatkan solusi damai untuk mengantisipasi setiap perbedaan.


Selanjutnya, bagaimana sesungguhnya kita harus mengkaji Alquran terutama ayat-ayat tentang hak-hak perempuan ini dengan lebih mendalami konteks sosial di mana ayat-ayat tersebut turun? Kembali salah satu Peserta Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) RAHIMA angkatan II Jawa Barat, 2009, Irma Riyani MA., akan mengurai hal tersebut. Pemaparannya tentang kajian kronologis ayat-ayat Alquran berperspektif perempuan ini'','' akan menambah [[khazanah]] pengetahuan kita dalam mengupayakan pemberdayaan untuk hak-hak perempuan. ''Selamat membaca!''
Yuli juga akan berbagi pengalamannya, ketika sempat berkunjung ke Afrika Selatan. Ke negeri dimana pejuang Anti Apartheid Nelson Mandela, mengeja kata damai, dan merefleksikan bahwa momen-momen pertempuran, konflik, dan peperangan senantiasa membawa kesengsaraan dalam kehidupan masyarakat, terutama anak-anak dan perempuan. Mereka mengabadikan beragam peristiwa melalui monumen-monumen yang dapat bercerita bagaimana upaya mereka mengakhiri penindasan.


''Wassalamu’alikum Wr. Wb.''
Harapan kami, dengan membaca tulisan ini, kita selalu terinspirasi untuk jadi ‘peace maker’ bagi lingkungan sekitar kita. Selain itu, mudah-mudahan sebagai umat manusia dan Khalifah Tuhan di muka bumi, kita semakin sadar akan tugas kita untuk menjaga pwerdamaian dan membangun peradaban.


Jakarta, November 2009
Mudah-mudahan banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan dari suplemen Swara Rahima edisi 42 ini. Akhirnya kami ucapkan Selamat membaca!


'''''Redaksi'''''
Jakarta, Juli 2013
 
'''Redaksi'''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]

Revisi per 24 Februari 2026 12.21

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Mengurai Konflik, Merangkai Peradaban
Penulis : Yulianti Muthmainnah
Editor : -
Seri : Edisi 42, Juli 2013
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 42; Mengurai Konflik, Merangkai Peradaban
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 42
SeriEdisi 42, Juli 2013
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur kita lantunkan ke hadirat Allah swt., Sang Maha Rahman dan Rahima, Penguasa jagat raya. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kita masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan tahun ini dan mengisinya dengan amal ibadah dan berbagai amal kebajikan. Shalawat dan salam, semoga selalu tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad saw. yang telah mengajarkan makna ‘salam’, untuk membangun perdamaian demi kemakmuran peradaban umat manusia. Dalam berbagai inti ajaran maupun perjalanan hidupnya, Nabi Muhammad senantiasa mengajak umatnya untuk menjaga kerukunan, menjauhi permusuhan, dan saling tolong menolong dalam kebaikan.

Pembaca setia Swara Rahima dimanapun Anda berada,

Kali ini Suplemen Edisi 42 Swara Rahima mengangkat topik “Mengurai Konflik, Merajut Peradaban”. Ditulis oleh Yulianti Muthmainnah, peserta program Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) Rahima Angkatan I Wilayah Jawa Barat yang kini bekerja di Komnas Perempuan, sebuah lembaga negara yang berkonsentrasi pada penegakan HAM dan penghapusan berbagai bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan. Pengalamannya selama bekerja melakukan pemantauan atas berbagai pelanggaran HAM dan kekerasan terhadap perempuan, menemukan bahwa perempuan dan anak-anaklah korban terbesar bagi setiap konflik atas nama apa saja, termasuk konflik bernuansakan agama.

Secara panjang lebar tulisannya mengulas bagaimana perempuan berupaya untuk membangun memorabilia atas peristiwa-peristiwa konflik yang terjadi dan belajar untuk keluar dari situasi itu dengan merajut upaya perdamaian di atas tanah tempat tinggal mereka. Mereka menggunakan berbagai media budaya seperti ‘menganyam noken’, seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu di tanah Papua untuk merajut kembali perdamaian atas konflik yang mengakibatkan keluarga, sanak saudara, dan orang-orang mereka cintai tercerai berai.

Para pembaca Swara Rahima yang budiman,

Dalam tulisannya Yuli juga mengulas bagaimana PBB telah menerbitkan Resolusi 1325 untuk mengakhiri konflik yang terjadi. Ia juga menerangkan bahwa dalam Islam, juga cukup banyak teks-teks yang mengajarkan setiap manusia untuk menghindari konflik pertikaian dan permusuhan; serta mengedepankan bagaimana untuk selalu mendapatkan solusi damai untuk mengantisipasi setiap perbedaan.

Yuli juga akan berbagi pengalamannya, ketika sempat berkunjung ke Afrika Selatan. Ke negeri dimana pejuang Anti Apartheid Nelson Mandela, mengeja kata damai, dan merefleksikan bahwa momen-momen pertempuran, konflik, dan peperangan senantiasa membawa kesengsaraan dalam kehidupan masyarakat, terutama anak-anak dan perempuan. Mereka mengabadikan beragam peristiwa melalui monumen-monumen yang dapat bercerita bagaimana upaya mereka mengakhiri penindasan.

Harapan kami, dengan membaca tulisan ini, kita selalu terinspirasi untuk jadi ‘peace maker’ bagi lingkungan sekitar kita. Selain itu, mudah-mudahan sebagai umat manusia dan Khalifah Tuhan di muka bumi, kita semakin sadar akan tugas kita untuk menjaga pwerdamaian dan membangun peradaban.

Mudah-mudahan banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan dari suplemen Swara Rahima edisi 42 ini. Akhirnya kami ucapkan Selamat membaca!

Jakarta, Juli 2013

Redaksi