Lompat ke isi

Warkah Al-Basyar Volume VI Tahun 2007; Edisi 22 Haji Mabrur; Berdampak Secara Sosial: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 15: Baris 15:
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|23 November 2007 (13 Dzulqo'dah 1428H)
|23 November 2007 M
|-
|
|
|''(13 Dzulqo'dah 1428 H)''
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 28: Baris 32:
|:
|:
|[https://drive.google.com/file/d/16vkINyA0HntRIGqMCpni3x123RcunnLv/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|[https://drive.google.com/file/d/16vkINyA0HntRIGqMCpni3x123RcunnLv/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|}
|}{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol6 (Cov22).jpg|italic title=Warkah Al-Basyar Volume VI|title_orig=Warkah Al-Basyar Volume VI|notes=[https://drive.google.com/file/d/16vkINyA0HntRIGqMCpni3x123RcunnLv/view?usp=drive_link Download Al-Basyar Vol.6 Tahun 2007; Edisi 22]}}Suatu ketika, saya berkunjung ke beberapa ustadz di kampung. Saya mendapati suasana yang memprihatinkan, di mana gedung-gedung sekolah dan madrasah terlihat rapuh, bahkan beberapa diantaranya ambruk. Setelah ngobrol-ngobrol, saya jadi tahu bahwa di sana angka pengangguran begitu tinggi, anak terlantar, baik karena yatim-piatu atau karena yang lain, juga tidak sedikit jumlahnya. Perekonomian pedesaaan pun bertumpu pada pertanian, perdagangan tradisional dan kebanyakan penduduknya, kerja serabutan. Sampai di sini perasaan saya hanya terenyuh, seperti biasanya ketika mendengar penderitaan rakyat, memang kita hanya bisa terenyuh.
Suatu ketika, saya berkunjung ke beberapa ustadz di kampung. Saya mendapati suasana yang memprihatinkan, di mana gedung-gedung sekolah dan madrasah terlihat rapuh, bahkan beberapa diantaranya ambruk. Setelah ngobrol-ngobrol, saya jadi tahu bahwa di sana angka pengangguran begitu tinggi, anak terlantar, baik karena yatim-piatu atau karena yang lain, juga tidak sedikit jumlahnya. Perekonomian pedesaaan pun bertumpu pada pertanian, perdagangan tradisional dan kebanyakan penduduknya, kerja serabutan. Sampai di sini perasaan saya hanya terenyuh, seperti biasanya ketika mendengar penderitaan rakyat, memang kita hanya bisa terenyuh.


Tetapi ketika dikabari bahwa di desa itu tiap tahun selalu ada, bahkan banyak yang berangkat haji ke ''Baitullah'', baru saya kaget. Kok? Sejauh yang saya tahu ibadah haji memang hukumnya wajib dilaksanakan, tetapi tentu bagi yang mampu ''(man istatha’a ilaihi sabila).'' Jadi jika di satu desa banyak yang berhaji, tentu tingkat ekonomi penduduk juga tidak dapat dikatakan lemah sama sekali. Tetapi kenapa madrasah, masjid, tetap memprihatinkan? Kenapa di sana masih banyak pengangguran? Kenapa di sana masih banyak anak terlantar dan putus sekolah?
Tetapi ketika dikabari bahwa di desa itu tiap tahun selalu ada, bahkan banyak yang berangkat haji ke ''Baitullah'', baru saya kaget. Kok? Sejauh yang saya tahu ibadah haji memang hukumnya wajib dilaksanakan, tetapi tentu bagi yang mampu ''(man istatha’a ilaihi sabila).'' Jadi jika di satu desa banyak yang berhaji, tentu tingkat ekonomi penduduk juga tidak dapat dikatakan lemah sama sekali. Tetapi kenapa madrasah, masjid, tetap memprihatinkan? Kenapa di sana masih banyak pengangguran? Kenapa di sana masih banyak anak terlantar dan putus sekolah?