Lompat ke isi

Warkah Al-Basyar Volume VII Tahun 2008; Edisi 06 Meneguhkan Kemanusiaan Menjaga NKRI: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 28: Baris 28:
|:
|:
|[https://drive.google.com/file/d/1EwG6uwjhmbGTG7sGh2WbOHOJpVoVgpmf/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|[https://drive.google.com/file/d/1EwG6uwjhmbGTG7sGh2WbOHOJpVoVgpmf/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|}{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol7 (Cov6).jpg|italic title=Volume VII Tahun 2008; Edisi 06|title_orig=|notes=[https://drive.google.com/file/d/1EwG6uwjhmbGTG7sGh2WbOHOJpVoVgpmf/view?usp=drive_link Download Al-Basyar Vol.7 Tahun 2008; Edisi 6]}}Akhir-akhir ini, perkembangan kehidupan umat beragama di Indonesia, menampakkan gejala menguatnya kekerasan yang mengatasnamakan agama. Kekerasan belakangan ini seolah-olah menjadi representasi dari pemahaman kebenaran tunggal individu ataupun beberapa golongan. Namun demikian, pemahaman kebenaran tunggal tersebut seakan dipandang sebagai pemenuhan ajaran Tuhan, kesalehan dianggap bisa dicapai dengan tindakan-tindakan kekerasan yang berimplikasi meniadakan perbedaan pandangan dan bahkan menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.
|}{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol7 (Cov6).jpg|italic title=Warkah Al-Basyar Volume VII|title_orig=Warkah Al-Basyar Volume VII|notes=[https://drive.google.com/file/d/1EwG6uwjhmbGTG7sGh2WbOHOJpVoVgpmf/view?usp=drive_link Download Al-Basyar Vol.7 Tahun 2008; Edisi 6]}}Akhir-akhir ini, perkembangan kehidupan umat beragama di Indonesia, menampakkan gejala menguatnya kekerasan yang mengatasnamakan agama. Kekerasan belakangan ini seolah-olah menjadi representasi dari pemahaman kebenaran tunggal individu ataupun beberapa golongan. Namun demikian, pemahaman kebenaran tunggal tersebut seakan dipandang sebagai pemenuhan ajaran Tuhan, kesalehan dianggap bisa dicapai dengan tindakan-tindakan kekerasan yang berimplikasi meniadakan perbedaan pandangan dan bahkan menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.


Sikap dan tindakan kelompok “anti kemanusiaan” ini cenderung melibatkan Tuhan dalam dimensi sosial, ekonomi dan politik. Klaim-klaim teologis yang ditumbuh-kembangkan oleh kelompok ini sebenarnya mendangkalkan agama menjadi hanya bersifat keyakinan yang ekslusif dan alienatif, dan semakin membenarkan doktrin “aku ada, yang lain tidak ada”. Jelas kiranya pemikiran dan gerakan kelompok yang sering melakukan kekerasan ini berlawanan dengan nilai-nilai kemanusiaan, meniadakan relevansi nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin, yang sudah lama terbentuk dari perjalanan dan proses sejarah.
Sikap dan tindakan kelompok “anti kemanusiaan” ini cenderung melibatkan Tuhan dalam dimensi sosial, ekonomi dan politik. Klaim-klaim teologis yang ditumbuh-kembangkan oleh kelompok ini sebenarnya mendangkalkan agama menjadi hanya bersifat keyakinan yang ekslusif dan alienatif, dan semakin membenarkan doktrin “aku ada, yang lain tidak ada”. Jelas kiranya pemikiran dan gerakan kelompok yang sering melakukan kekerasan ini berlawanan dengan nilai-nilai kemanusiaan, meniadakan relevansi nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin, yang sudah lama terbentuk dari perjalanan dan proses sejarah.