Lompat ke isi

Warkah Al-Basyar Volume IX Tahun 2010; Edisi 02 Buruh Migran dan Pemiskinan Perempuan di Indramayu: Sikap Islam: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol9 (Cov2).jpg|italic title=Warkah Al-Basyar Volume IX|title_orig=Warkah Al-Basyar Volume IX|notes=[Download Vol.9 Tahun 2010; Edisi 2]}}
'''Informasi Buletin:'''
'''Informasi Buletin:'''
{|
{|
Baris 32: Baris 34:
|:
|:
|Download Warkah Al-Basyar
|Download Warkah Al-Basyar
|}{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol9 (Cov2).jpg|italic title=Warkah Al-Basyar Volume IX|title_orig=Warkah Al-Basyar Volume IX|notes=Download Al-Basyar Vol.9 Tahun 2010; Edisi 2}}Konstruksi sosial ekonomi masyarakat Indramayu terbangun lewat basis ekonomi agraris. Akan tetapi, hamparan  luas sawah dan posisi Kabupaten Indramayu sebagai penghasil 30 persen produksi beras nasional tidak terlalu  terasa bagi penduduk pinggiran. Akar persoalannya adalah kepemilikan tanah. 30 persen masyarakat adalah tuan tanah, sedangkan 70 persen lainnya adalah buruh tani. Tidak ada pilihan bagi rakyat setempat untuk memilih profesi selain menjadi buruh tani. Dengan pola setahun dua kali panen, masyarakat harus hidup dalam roda sejarah yang senantiasa berbalut kemiskinan. Lagi pula untuk sekadar menyewa lahan pun mahal. Untuk menyewa tanah seluas satu bata  (kira-kira 1.400 m2), mereka harus rela menyerahkan lima-tujuh kuintal gabah kering hasil panenan, jumlah yang terlalu tinggi.
|}Konstruksi sosial ekonomi masyarakat Indramayu terbangun lewat basis ekonomi agraris. Akan tetapi, hamparan  luas sawah dan posisi Kabupaten Indramayu sebagai penghasil 30 persen produksi beras nasional tidak terlalu  terasa bagi penduduk pinggiran. Akar persoalannya adalah kepemilikan tanah. 30 persen masyarakat adalah tuan tanah, sedangkan 70 persen lainnya adalah buruh tani. Tidak ada pilihan bagi rakyat setempat untuk memilih profesi selain menjadi buruh tani. Dengan pola setahun dua kali panen, masyarakat harus hidup dalam roda sejarah yang senantiasa berbalut kemiskinan. Lagi pula untuk sekadar menyewa lahan pun mahal. Untuk menyewa tanah seluas satu bata  (kira-kira 1.400 m2), mereka harus rela menyerahkan lima-tujuh kuintal gabah kering hasil panenan, jumlah yang terlalu tinggi.


Dari konstruksi kemiskinan masyarakat Indramayu tersebut, sudah tentu yang paling merasakan dampaknya adalah kaum perempuan.  Bagaimana tidak, di Indramayu peran perempuan masih termarjinalkan (terpinggirkan). Padahal banyak perempuan di sana menjadi penopang keluarga dan sumber kekuatan buat anak-anaknya, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Mestinya sudah sepatutnya proses membangun Indramayu kembali turut melibatkan perempuan dan posisinya setara dengan pihak laki-laki. Akibat dari modernisasi pertanian, perekonomian Indramayu mengalami kemunduran. Angka pengangguran melonjak dua kali lipat dan inflasi membuat biaya hidup meningkat drastis. Perempuan yang kemudian menjadi tulang punggung keluarga adalah kelompok yang paling merasakan dampaknya. Mereka semakin tidak berdaya ketika sulitnya mendapatkan sarana dan kesempatan yang setara untuk hidup layak. Kondisi demikian kemudian meminggirkan hak sosial dan ekonomi perempuan.
Dari konstruksi kemiskinan masyarakat Indramayu tersebut, sudah tentu yang paling merasakan dampaknya adalah kaum perempuan.  Bagaimana tidak, di Indramayu peran perempuan masih termarjinalkan (terpinggirkan). Padahal banyak perempuan di sana menjadi penopang keluarga dan sumber kekuatan buat anak-anaknya, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Mestinya sudah sepatutnya proses membangun Indramayu kembali turut melibatkan perempuan dan posisinya setara dengan pihak laki-laki. Akibat dari modernisasi pertanian, perekonomian Indramayu mengalami kemunduran. Angka pengangguran melonjak dua kali lipat dan inflasi membuat biaya hidup meningkat drastis. Perempuan yang kemudian menjadi tulang punggung keluarga adalah kelompok yang paling merasakan dampaknya. Mereka semakin tidak berdaya ketika sulitnya mendapatkan sarana dan kesempatan yang setara untuk hidup layak. Kondisi demikian kemudian meminggirkan hak sosial dan ekonomi perempuan.


Sebagai penopang ekonomi keluarga, perempuan di Indramayu mengagumkan. Mereka bukan hanya bekerja keras mengurus rumah tangga di rumah. Banyak kaum perempuan bekerja sebagai pencari [[nafkah]] utama. Mereka pergi ke luar negeri sebagai buruh migran, demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Perempuan di Indramayu memegang peranan penting dalam rumah tangga. Apalagi di antara mereka adalah janda-janda (perempuan kepala keluarga), sehingga harus bertahan hidup sendiri.
Sebagai penopang ekonomi keluarga, perempuan di Indramayu mengagumkan. Mereka bukan hanya bekerja keras mengurus rumah tangga di rumah. Banyak kaum perempuan bekerja sebagai pencari [[nafkah]] utama. Mereka pergi ke luar negeri sebagai buruh migran, demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Perempuan di Indramayu memegang peranan penting dalam rumah tangga. Apalagi di antara mereka adalah janda-janda ([[Perempuan Kepala Keluarga|perempuan kepala keluarga]]), sehingga harus bertahan hidup sendiri.


Semangat mempertahankan hidup juga telah menggurat garis sejarah perempuan Indramayu. Garis itu dibuat oleh kisah para perempuan pemberani yang rela bekerja ke luar negeri meninggalkan  anak suami. Garis kisah itu mulai menggores sejak tahun 1997, ketika seluruh negeri terkoyak oleh badai ekonomi. Banyak perempuan Indramayu melawan badai ganas sebagai TKW mengadu nasib di negeri rantau. Menjadi TKW adalah satu-satunya pilihan menuruti harapan perubahan nasib. Gelombang ingar-bingar migrasi pekerja itu kemudian meletakkan Kabupaten Indramayu sebagai pemasok devisa negara terbesar dari TKI. Risikonya memang besar, tetapi prospeknya juga besar. Konstruksi politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang patriarkis ini membuat peran perempuan tak dikenal dan menjadi pelaku pembangunan yang tidak terlihat.  
Semangat mempertahankan hidup juga telah menggurat garis sejarah perempuan Indramayu. Garis itu dibuat oleh kisah para perempuan pemberani yang rela bekerja ke luar negeri meninggalkan  anak suami. Garis kisah itu mulai menggores sejak tahun 1997, ketika seluruh negeri terkoyak oleh badai ekonomi. Banyak perempuan Indramayu melawan badai ganas sebagai TKW mengadu nasib di negeri rantau. Menjadi TKW adalah satu-satunya pilihan menuruti harapan perubahan nasib. Gelombang ingar-bingar migrasi pekerja itu kemudian meletakkan Kabupaten Indramayu sebagai pemasok devisa negara terbesar dari TKI. Risikonya memang besar, tetapi prospeknya juga besar. Konstruksi politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang patriarkis ini membuat peran perempuan tak dikenal dan menjadi pelaku pembangunan yang tidak terlihat.