Warkah Al-Basyar Volume IX Tahun 2010; Edisi 11 Derita TKI, Pelajaran Bagi Kita Cambuk Bagi Pemerintah: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol9 (Cov11).jpg|italic title=Warkah Al-Basyar Volume IX|title_orig=Warkah Al-Basyar Volume IX|notes=[Download Vol.9 Tahun 2010; Edisi 11]}} | |||
'''Informasi Buletin:''' | '''Informasi Buletin:''' | ||
{| | {| | ||
| Baris 32: | Baris 34: | ||
|: | |: | ||
|Download Warkah Al-Basyar | |Download Warkah Al-Basyar | ||
| | |}Sepekan lalu, secara tidak sengaja di tempat yang berbeda, ada tiga ibu rumah tangga mengeluhkan nasib anak perempuannya, yang tengah bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) atau buruh migran di negeri tetangga. Dua di antaranya bekerja di Arab Saudi, dan satu di antaranya di Malaysia. Keluhan mereka sama, yakni tentang nasib puterinya yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT). Ibu pertama mengeluhkan nasib anak perempuannya yang sudah 18 bulan di Malaysia tanpa kabar berita. Ibu kedua menceritakan nasib anak perempuannya yang tengah sakit akibat dijatuhkan oleh anak majikannya di Arab Saudi dari lantai bertingkat. Ibu ketiga mengungkapkan bahwa kini anaknya tengah berada di kantor Polisi di Arab Saudi, namun tidak jelas apa masalah yang menyebabkannya berada di sana. “Anak saya sepertinya disukai oleh anak lelaki majikan. Karena anak saya tidak suka, maka dia dijebloskan ke penjara,” demikian Ibu ketiga berkeyakinan tentang anaknya. Namun, dia masih sekadar menebak-nebak. | ||
Kepada saya, mereka juga mengungkapkan hanya mampu mengandalkan upaya PJTKI. Ibu pertama kini pasrah. Ibu kedua malah berkeyakinan bahwa apa yang terjadi pada puterinya adalah karena ulah mantan suaminya. Mantan suaminya menyuruh orang pintar (paranormal) agar membuat isterinya tersebut tidak bahagia. Sementara ibu ketiga bersikukuh akan mengurusnya sendiri jika PJTKI penyalur tak kunjung menyelesaikan masalah puterinya yang masih di penjara. | Kepada saya, mereka juga mengungkapkan hanya mampu mengandalkan upaya PJTKI. Ibu pertama kini pasrah. Ibu kedua malah berkeyakinan bahwa apa yang terjadi pada puterinya adalah karena ulah mantan suaminya. Mantan suaminya menyuruh orang pintar (paranormal) agar membuat isterinya tersebut tidak bahagia. Sementara ibu ketiga bersikukuh akan mengurusnya sendiri jika PJTKI penyalur tak kunjung menyelesaikan masalah puterinya yang masih di penjara. | ||