Lompat ke isi

Warkah Al-Basyar Volume I Tahun 2002; Edisi 06 Rumah Sakit:Rumah Yang Menyakitkan?: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Tag: Dikembalikan VisualEditor
Baris 34: Baris 34:
|[https://drive.google.com/file/d/1UZ3BQ_FPiDdf_f717hrFLp1usskczJ3W/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|[https://drive.google.com/file/d/1UZ3BQ_FPiDdf_f717hrFLp1usskczJ3W/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|}
|}
Sekretaris Daerah Kota Cirebon Drs. H. Ahmad Mulia kini telah tiada, meninggal dunia setelah sempat koma akibat terserang stroke hebat dan dirawat selama empat hari di RS Hasan Sadikin Bandung. ''Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.''
Namun ada yang masih terasa mengganggu pikiran kita sebelum Sekda menghembuskan nafas penghabisan di Bandung, yakni penanganan dan pelayanan yang diterima Sekda dari salah satu rumah sakit di Kota Cirebon setelah Sekda pingsan saat memimpin rapat perubahan anggaran 2002 yang dihadiri oleh pejabat Pemkot-DPRD. Kita tentu masih ingat betul berita di Radar Cirebon 31 Agustus 2002 yang menurunkan kabar "Sempat terlantar di ...". Salah satu bagian yang jelas kita tangkap adalah bahwa untuk menunggu ambulance saja dibutuhkan waktu sekitar dua jam.
Menanggapi kasus terlantarnya almarhum masih dari surat kabar dan pada tanggal yang sama, banyak tanggapan yang hampir seragam, yakni menyayangkan terjadinya hal ini. Agus Alwafier -wakil ketua DPRD Kota Cirebon menanggapi kalau pasien sekelas Sekda saja diperlakukan seperti itu maka. apalagi rakyat biasa, yang tak berkelas? Apa yang disinyalir oleh Agus Alwafier agaknya memang benar adanya karena banyak sekali keluhan-keluhan dan kasus-kasus yang pernah dialami oleh para pasien yang justru mencerminkan rumah sakit sebagai sosok yang kurang mengedepankan rasa kemanusiaan dan lebih menjadi institusi bisnis.
Kita rasanya tak pantas jika seolah kebakaran jenggot ketika ada 'orang besar' yang teraniya. Padahal selama ini kita diam ketika lebih yang banyak sekali 'orang-orang kecil' dari sekadar teraniaya, oleh institusi bernama rumah sakit. Tapi, ada baiknya musibah yang menimba Sekda kita jadikan momentum untuk membenahi rumah sakit secaramendasar. Yaitu dengan mengembalikan fungsinya sebagai tempat menyembuhkan orang sakit dan bukannya seperti saat-saat ini, menjadi tempat yang menyakitkan, atau setidaknya, membuat orang bertambah penyakitnya. Jika semula cuma sakit fisik, setelah ke rumah sakit malah bertambah sakit hati.
Ada banyak peristiwa lain yang pantas membuat kita mengurut dada menyaksikan kiprah rumah sakit. Semisal peristiwa menggelikan ketika seorang perawar berinisiatif untuk merontgen pasien padahal dokter -setelah memeriksa dan melakukan diagnosa, sudah wanti-wanti agar pasien tidak diberi tindakan apa-apa sampai keesokan harinya. Termasuk meminta pasien berpuasa. Maksud dokter adalah untuk lebih memberikan kesempatan pada reaksi obat. Tetapi perawat tersebut justru mencoba membujuk keluarga pasien agar segera melakukan rontgen terhadap pasien, dengan dalih pemeriksaan rontgen lebih baik secepatnya supaya pemeriksaan dan penanganan dokter lebih mudah. Tentu saja proses rontgen itu dia yang akan menangani. Agaknya jelas bagi kita kemana arah bujukan rontgen tersebut.
'''Keterbukaan Administrasi'''
Selain itu, ada satu hal yang agaknya sudah menjadi rahasia umum dan kerap terjadi (pada hampir setiap [[lembaga]] pelayanan publik). Yaitu masalah tidak transparannya pelayanan seperti yang dialami salah seorang pasien yang memeriksakan paru-parunya di balai pengobatan spesialis. Awalnya tidak begitu masalah ketika baru membayar pendaftaran. Masalah muncul ketika pada langkah-langkah berikutnya ia harus membayar tes darah, tes urine, tes dahak, hingga rontgen yang tanpa bukti pembayaran Agaknya kita semua paham bahwa seyogyanya semua penerimaan lembaga pelayanan publik harus disertai bukti/kuitansi. Kalau tidak, maka indikasi untuk masuk kantong pribadi menjadi lebih kuat. Kitapun bertanya-tanya benarkah yang kita bayar itu sesuai dengan ketentuan, atau justru sengaja diada-adakan untuk memanfaatkan ketidak tahuan dan kebutuhan pasien yang ingin segera sembuh.
Banyak juga kasus-kasus lain yang bernuansa bisnis oriented, mengedepankan keuntungan material daapada etika kemanusiaan. Sepera frekuensi pemeriksaan dokter yang kurang intensif bagi pasien kelas bawah. Juga senyum perawat agak menghilang dan kurang menghibur kaum bawah yang meronta-ronta menahan sakit.
Profesionalisme juga patut kita pertanyakan kepada personil rumah sakit ketika seorang pasien yang hendak bersalin di sebuah rumah sakit, justru penanganannya dilakukan oleh suaminya sendiri dan dibantu oleh perawat pria? Akankah optimal penanganan yang diberikan itu? Bahkan ada sebuah cerita, seorang ibu mesti kehilangan nyawanya karena terlambat ditangani. Dan persoalannya sederhana, ketika ibu itu ke rumah sakit, ia tak didampingi suami yang sedang ada urusan lain.
Kasus-kasus tersebut membuat kita lalu bertanya, sebenarnya sejauh mana komitmen rumah sakit untuk menolong rakyat. Bukankah pasien mendatangi rumah sakit karena memang membutuhkan pertolongan yang wajar dia terima sebagai warga negara, siapapun dia, baik miskin atau kaya. Bukankah kita semua sepakat bahwa nilai kemanusiaan adalah universal dan tidak memandang kekayaan atau status sosial? Ataukah karena setiap hari bergaul dengan berbagai macam penyakit, rintihan pasien sampai tangisan keluarga yang tertinggalkan oleh pasien yang meninggal dunia, lalu membuat personil rumah sakit kehilangan kepekaan? Lantas menganggap bahwa penderitaan, rasa sakit dan kematian adalah hal yang amat sangat biasa hingga tidak perlu memunculkan empati dan lekas-lekas untuk meminimalisimya?
'''Pelayan Masyarakat'''
Sesungguhnya para personal rumah sakit (perawat, dokter hingga birokratnya) adalah menusia-manusia yang dididik khusus untuk mengusung nilai-nilai tinggi kemanusiaan. Karenanya, mereka dituntut mengerti betul akan penderitaan yang dirasakan oleh pasien dan kemudian berjuang keras membantu pasien agar segera pulih dari sakit. Maka perlakuan yang lemah lembut, pengertian, proporsional dan memanusiakan adalah suatu keharusan. Setiap pasien maupun keluarga nya jelas tak mengharapkan pedakuan yang asal-asalan, apalagi sampai melakukan manuver (kebohongan) tertentu hanya untuk keuntungan materi pribadi. Baik dengan memanfaatkan kebutuhan pasien terhadap pengobatan, maupun ketidak tahuan pasien terhadap aturan dan prosedur. Sebuah sikap buruk yang sering diungkapkan dengan bahasa "memancing di air keruh". Betapa tidak manusiawinya manakala kemampuan dan kepandaian yang dimiliki justru dipakai untuk memanfaatkan ketidakmampuan dan kebodohan orang lain.
Maka rasanya perlu kembali ditumbuh kembangkan penyadaran sikap dan rasa kemanusiaan dan para personil rumah sakit, juga penyadaran bahwa tugas yang diembannya sesungguhnya adalah amanah (titipan/kepercayaan) yang amat sangat mulia dan memiliki nilai tinggi baik di mata manusia maupun agama apabila dilaksanakan dengan penuh rasa kemanusiaan tanpa kepentingan yang menyesatkan. Apalagi mereka semua mendapatkan bayaran yang relatif memadai. Dalam al-Quran, Tuhan menegaskan, ''"Barangsiapa yang menghidupkan (satu) jiwa, maka seakan-akan dia menghidupkan manusia seluruhnya. "(5:32)''. Artinya nilai untuk mempertahankan kehidupan satu jiwa dengan berusalia menghindari kematiannya adalah sama halnya dengan mempertahankan kehidupan seluruh manusia di muka bumi. Dan disitulah sesungguhnya terdapat lai [[jihad]] yang sesungguhnya.
Akhirnya, pederitaan rasa sakit dan kematian setiap saat dapat mengiringi setiap mahluk Tuhan. Termasuk di dalamnya manusia-manusia yang kini tengah mendapat amanah (kepercayaan) untuk menjadi personi rumah sakit. Maka adakah kita akan berkenan apabila ketika sakit, kita justru ''disakiti'' dengan pedakuan yang lebih ''menyakitkan'' dari pada penyakit itu sendiri? Semoga kita terbiasa untuk ''berbahagia'' manakala mampu membahagiakan orang-orang yang ''kebahagiaannya'' terkurangi, karena suatu penyakit misalnya.
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Buletin]]
[[Kategori:Buletin]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol1]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol1]]

Revisi per 19 Maret 2026 05.43

Informasi Buletin:

Sumber : Yayasan Fahmina
Nama Buletin : Warkah Al-Basyar
Seri : Volume I Tahun 2002; Edisi 06
Tanggal Terbit : 09 Agustus 2002 M
(29 Jumadil Ula 1423 H)
Penerbit : Fahmina Institute
Penulis : Asep SJ.
Link Download : Download Warkah Al-Basyar

Sekretaris Daerah Kota Cirebon Drs. H. Ahmad Mulia kini telah tiada, meninggal dunia setelah sempat koma akibat terserang stroke hebat dan dirawat selama empat hari di RS Hasan Sadikin Bandung. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Namun ada yang masih terasa mengganggu pikiran kita sebelum Sekda menghembuskan nafas penghabisan di Bandung, yakni penanganan dan pelayanan yang diterima Sekda dari salah satu rumah sakit di Kota Cirebon setelah Sekda pingsan saat memimpin rapat perubahan anggaran 2002 yang dihadiri oleh pejabat Pemkot-DPRD. Kita tentu masih ingat betul berita di Radar Cirebon 31 Agustus 2002 yang menurunkan kabar "Sempat terlantar di ...". Salah satu bagian yang jelas kita tangkap adalah bahwa untuk menunggu ambulance saja dibutuhkan waktu sekitar dua jam.

Menanggapi kasus terlantarnya almarhum masih dari surat kabar dan pada tanggal yang sama, banyak tanggapan yang hampir seragam, yakni menyayangkan terjadinya hal ini. Agus Alwafier -wakil ketua DPRD Kota Cirebon menanggapi kalau pasien sekelas Sekda saja diperlakukan seperti itu maka. apalagi rakyat biasa, yang tak berkelas? Apa yang disinyalir oleh Agus Alwafier agaknya memang benar adanya karena banyak sekali keluhan-keluhan dan kasus-kasus yang pernah dialami oleh para pasien yang justru mencerminkan rumah sakit sebagai sosok yang kurang mengedepankan rasa kemanusiaan dan lebih menjadi institusi bisnis.

Kita rasanya tak pantas jika seolah kebakaran jenggot ketika ada 'orang besar' yang teraniya. Padahal selama ini kita diam ketika lebih yang banyak sekali 'orang-orang kecil' dari sekadar teraniaya, oleh institusi bernama rumah sakit. Tapi, ada baiknya musibah yang menimba Sekda kita jadikan momentum untuk membenahi rumah sakit secaramendasar. Yaitu dengan mengembalikan fungsinya sebagai tempat menyembuhkan orang sakit dan bukannya seperti saat-saat ini, menjadi tempat yang menyakitkan, atau setidaknya, membuat orang bertambah penyakitnya. Jika semula cuma sakit fisik, setelah ke rumah sakit malah bertambah sakit hati.

Ada banyak peristiwa lain yang pantas membuat kita mengurut dada menyaksikan kiprah rumah sakit. Semisal peristiwa menggelikan ketika seorang perawar berinisiatif untuk merontgen pasien padahal dokter -setelah memeriksa dan melakukan diagnosa, sudah wanti-wanti agar pasien tidak diberi tindakan apa-apa sampai keesokan harinya. Termasuk meminta pasien berpuasa. Maksud dokter adalah untuk lebih memberikan kesempatan pada reaksi obat. Tetapi perawat tersebut justru mencoba membujuk keluarga pasien agar segera melakukan rontgen terhadap pasien, dengan dalih pemeriksaan rontgen lebih baik secepatnya supaya pemeriksaan dan penanganan dokter lebih mudah. Tentu saja proses rontgen itu dia yang akan menangani. Agaknya jelas bagi kita kemana arah bujukan rontgen tersebut.

Keterbukaan Administrasi

Selain itu, ada satu hal yang agaknya sudah menjadi rahasia umum dan kerap terjadi (pada hampir setiap lembaga pelayanan publik). Yaitu masalah tidak transparannya pelayanan seperti yang dialami salah seorang pasien yang memeriksakan paru-parunya di balai pengobatan spesialis. Awalnya tidak begitu masalah ketika baru membayar pendaftaran. Masalah muncul ketika pada langkah-langkah berikutnya ia harus membayar tes darah, tes urine, tes dahak, hingga rontgen yang tanpa bukti pembayaran Agaknya kita semua paham bahwa seyogyanya semua penerimaan lembaga pelayanan publik harus disertai bukti/kuitansi. Kalau tidak, maka indikasi untuk masuk kantong pribadi menjadi lebih kuat. Kitapun bertanya-tanya benarkah yang kita bayar itu sesuai dengan ketentuan, atau justru sengaja diada-adakan untuk memanfaatkan ketidak tahuan dan kebutuhan pasien yang ingin segera sembuh.

Banyak juga kasus-kasus lain yang bernuansa bisnis oriented, mengedepankan keuntungan material daapada etika kemanusiaan. Sepera frekuensi pemeriksaan dokter yang kurang intensif bagi pasien kelas bawah. Juga senyum perawat agak menghilang dan kurang menghibur kaum bawah yang meronta-ronta menahan sakit.

Profesionalisme juga patut kita pertanyakan kepada personil rumah sakit ketika seorang pasien yang hendak bersalin di sebuah rumah sakit, justru penanganannya dilakukan oleh suaminya sendiri dan dibantu oleh perawat pria? Akankah optimal penanganan yang diberikan itu? Bahkan ada sebuah cerita, seorang ibu mesti kehilangan nyawanya karena terlambat ditangani. Dan persoalannya sederhana, ketika ibu itu ke rumah sakit, ia tak didampingi suami yang sedang ada urusan lain.

Kasus-kasus tersebut membuat kita lalu bertanya, sebenarnya sejauh mana komitmen rumah sakit untuk menolong rakyat. Bukankah pasien mendatangi rumah sakit karena memang membutuhkan pertolongan yang wajar dia terima sebagai warga negara, siapapun dia, baik miskin atau kaya. Bukankah kita semua sepakat bahwa nilai kemanusiaan adalah universal dan tidak memandang kekayaan atau status sosial? Ataukah karena setiap hari bergaul dengan berbagai macam penyakit, rintihan pasien sampai tangisan keluarga yang tertinggalkan oleh pasien yang meninggal dunia, lalu membuat personil rumah sakit kehilangan kepekaan? Lantas menganggap bahwa penderitaan, rasa sakit dan kematian adalah hal yang amat sangat biasa hingga tidak perlu memunculkan empati dan lekas-lekas untuk meminimalisimya?

Pelayan Masyarakat

Sesungguhnya para personal rumah sakit (perawat, dokter hingga birokratnya) adalah menusia-manusia yang dididik khusus untuk mengusung nilai-nilai tinggi kemanusiaan. Karenanya, mereka dituntut mengerti betul akan penderitaan yang dirasakan oleh pasien dan kemudian berjuang keras membantu pasien agar segera pulih dari sakit. Maka perlakuan yang lemah lembut, pengertian, proporsional dan memanusiakan adalah suatu keharusan. Setiap pasien maupun keluarga nya jelas tak mengharapkan pedakuan yang asal-asalan, apalagi sampai melakukan manuver (kebohongan) tertentu hanya untuk keuntungan materi pribadi. Baik dengan memanfaatkan kebutuhan pasien terhadap pengobatan, maupun ketidak tahuan pasien terhadap aturan dan prosedur. Sebuah sikap buruk yang sering diungkapkan dengan bahasa "memancing di air keruh". Betapa tidak manusiawinya manakala kemampuan dan kepandaian yang dimiliki justru dipakai untuk memanfaatkan ketidakmampuan dan kebodohan orang lain.

Maka rasanya perlu kembali ditumbuh kembangkan penyadaran sikap dan rasa kemanusiaan dan para personil rumah sakit, juga penyadaran bahwa tugas yang diembannya sesungguhnya adalah amanah (titipan/kepercayaan) yang amat sangat mulia dan memiliki nilai tinggi baik di mata manusia maupun agama apabila dilaksanakan dengan penuh rasa kemanusiaan tanpa kepentingan yang menyesatkan. Apalagi mereka semua mendapatkan bayaran yang relatif memadai. Dalam al-Quran, Tuhan menegaskan, "Barangsiapa yang menghidupkan (satu) jiwa, maka seakan-akan dia menghidupkan manusia seluruhnya. "(5:32). Artinya nilai untuk mempertahankan kehidupan satu jiwa dengan berusalia menghindari kematiannya adalah sama halnya dengan mempertahankan kehidupan seluruh manusia di muka bumi. Dan disitulah sesungguhnya terdapat lai jihad yang sesungguhnya.

Akhirnya, pederitaan rasa sakit dan kematian setiap saat dapat mengiringi setiap mahluk Tuhan. Termasuk di dalamnya manusia-manusia yang kini tengah mendapat amanah (kepercayaan) untuk menjadi personi rumah sakit. Maka adakah kita akan berkenan apabila ketika sakit, kita justru disakiti dengan pedakuan yang lebih menyakitkan dari pada penyakit itu sendiri? Semoga kita terbiasa untuk berbahagia manakala mampu membahagiakan orang-orang yang kebahagiaannya terkurangi, karena suatu penyakit misalnya.