Husein Muhammad: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox person|name=Dr. (Hc). KH. Husein Muhammad|birth_date=Cirebon, 9 Mei 1953|image=Berkas:Husein Muhammad.jpg|imagesize=220px|known for=*Islam Agama Ramah Perempuan | {{Infobox person|name=Dr. (Hc). KH. Husein Muhammad|birth_date=Cirebon, 9 Mei 1953|image=Berkas:Husein Muhammad.jpg|imagesize=220px|known for=*Islam Agama Ramah Perempuan | ||
*Pendiri Yayasan Fahmina|occupation=*Komisioner Komnas Perempuan Periode 2007-2009 dan 2009-2012}}'''Dr. (Hc) KH. Husein Muhammad''' atau yang akrab disapa Buya Husein adalah salah satu [[tokoh]] yang aktif mengampanyekan pesan-pesan kesetaraan gender dalam Islam. Ia lahir di Cirebon pada tanggal 9 Mei 1953, putera pasangan Kiai Muhammad Asyarofuddin dan Ibu Nyai Ummu Salma Syatori. Ia adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Secara berurutan mereka adalah: (1) Hasan Thuba Muhammad, (2) Husein Muhammad, (3) Ahsin Sakho Muhammad, (4) Ubaidah Muhammad, (5) Mahsun Muhammad, (6) Azzah Nurlaila Muhammad, (7) Salman al-Faries, (8) Elok Faiqoh. | *Pendiri Yayasan Fahmina|occupation=*Komisioner Komnas Perempuan Periode 2007-2009 dan 2009-2012. | ||
*Ketua Yayasan Fahmina Hingga saat ini. | |||
*Salah satu pendiri Yayasan Fahmina. | |||
*Pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Fikr Cirebon.}}'''Dr. (Hc) KH. Husein Muhammad''' atau yang akrab disapa Buya Husein adalah salah satu [[tokoh]] yang aktif mengampanyekan pesan-pesan kesetaraan gender dalam Islam. Ia lahir di Cirebon pada tanggal 9 Mei 1953, putera pasangan Kiai Muhammad Asyarofuddin dan Ibu Nyai Ummu Salma Syatori. Ia adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Secara berurutan mereka adalah: (1) Hasan Thuba Muhammad, (2) Husein Muhammad, (3) Ahsin Sakho Muhammad, (4) Ubaidah Muhammad, (5) Mahsun Muhammad, (6) Azzah Nurlaila Muhammad, (7) Salman al-Faries, (8) Elok Faiqoh. | |||
Dalam Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]), Buya Husein termasuk tokoh kunci yang memiliki keterkaitan dengan tiga organisasi pelaksana KUPI, yaitu [[Rahima]], [[Fahmina]], dan [[Alimat]]. Dalam pandangan salah satu muridnya, Kiai Faqih Abdul Kodir, Buya Muhammad adalah jangkar dari semua gerakan ini. Ia juga magnet yang bisa menarik semua pihak, dari berbagai kalangan. | Dalam Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]), Buya Husein termasuk tokoh kunci yang memiliki keterkaitan dengan tiga organisasi pelaksana KUPI, yaitu [[Rahima]], [[Fahmina]], dan [[Alimat]]. Dalam pandangan salah satu muridnya, Kiai Faqih Abdul Kodir, Buya Muhammad adalah jangkar dari semua gerakan ini. Ia juga magnet yang bisa menarik semua pihak, dari berbagai kalangan. | ||
Pasca perhelatan akbar KUPI, Buya Husein mendapat amanah untuk menjadi ketua dewan penasihat yang anggotanya adalah beberapa tokoh seperti K.H. Mustofa Bisri, Ibu Nyai [[Sinta Nuriyah]] Abdurrahman Wahid, dan Prof. Dr. [[Nasaruddin Umar]]. | Pasca perhelatan akbar KUPI, Buya Husein mendapat amanah untuk menjadi ketua dewan penasihat yang anggotanya adalah beberapa tokoh seperti K.H. [[Mustofa Bisri]], Ibu Nyai [[Sinta Nuriyah]] Abdurrahman Wahid, dan Prof. Dr. [[Nasaruddin Umar]]. | ||
Terkait KUPI, Buya Husein mengatakan: “KUPI dipandang publik dan Pemerintah sebagai [[lembaga]] sosial keagamaan yang memiliki posisi strategis bagi perubahan sosial sebagaimana MUI atau PBNU, tetapi dengan misi khusus: mewujudkan kesetaraaan dan keadilan gender. Pandangan-pandangannya dijadikan referensi publik dan pemerintah.” | Terkait KUPI, Buya Husein mengatakan: “KUPI dipandang publik dan Pemerintah sebagai [[lembaga]] sosial keagamaan yang memiliki posisi strategis bagi perubahan sosial sebagaimana MUI atau PBNU, tetapi dengan misi khusus: mewujudkan kesetaraaan dan keadilan gender. Pandangan-pandangannya dijadikan referensi publik dan pemerintah.” | ||