Lompat ke isi

Ulama Perempuan Tangkal Radikalisme: Perbedaan antara revisi

 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 6: Baris 6:
“Karena itu, ketika kita turun ke [[komunitas]], maka dakwahnya atau ayat-ayat yang kita sampaikan harus tentang pemberdayaan dan pembebasan,” demikian Aisyah menuturkan pentingnya ulama perempuan untuk menghapus persoalan seperti nikah di bawah umur, nikah siri, keharusan pencatatatan atas perceraian dan isu-isu lainnya agar jelas posisi pemihakan terhadap perempuan.
“Karena itu, ketika kita turun ke [[komunitas]], maka dakwahnya atau ayat-ayat yang kita sampaikan harus tentang pemberdayaan dan pembebasan,” demikian Aisyah menuturkan pentingnya ulama perempuan untuk menghapus persoalan seperti nikah di bawah umur, nikah siri, keharusan pencatatatan atas perceraian dan isu-isu lainnya agar jelas posisi pemihakan terhadap perempuan.


Sementara Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ) Jakarta Dr. Nur Rofiah menegaskan bahwa ulama perempuan adalah ulama yang mempunyai kesadaran bahwa keadilan hakiki terhadap perempuan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Islam.
Sementara Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ) Jakarta Dr. [[Nur Rofiah]] menegaskan bahwa ulama perempuan adalah ulama yang mempunyai kesadaran bahwa keadilan hakiki terhadap perempuan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Islam.


“Khalaqah-khalaqah yang selama ini dilakukan ulama perempuan adalah penegasan atas keadilan yang mempertimbangkan kondisi teologis sekaligus sosiologis perempuan. Jadi lebih pada perspektif perempuan, bukan hanya isunya,” ujar intelektual perempuan yang menjadi pengurus [[Alimat]] dan [[Rahima]] ini.
“Khalaqah-khalaqah yang selama ini dilakukan ulama perempuan adalah penegasan atas keadilan yang mempertimbangkan kondisi teologis sekaligus sosiologis perempuan. Jadi lebih pada perspektif perempuan, bukan hanya isunya,” ujar intelektual perempuan yang menjadi pengurus [[Alimat]] dan [[Rahima]] ini.
Baris 16: Baris 16:
“Sebab, ideologi ulama perempuan adalah menguatkan perempuan atas dasar keimanan,” tegasnya.
“Sebab, ideologi ulama perempuan adalah menguatkan perempuan atas dasar keimanan,” tegasnya.


Di tengah merebaknya intoleransi di mana masyarakat kita mudah menerima ajaran radikalisme yang dibungkus agama, maka menurut Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr. Machasin, ulama perempuan lebih punya kesempatan di keluarga dan masyarakat untuk meluruskan situasi tersebut.
Di tengah merebaknya intoleransi di mana masyarakat kita mudah menerima ajaran radikalisme yang dibungkus agama, maka menurut Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr. [[Machasin]], ulama perempuan lebih punya kesempatan di keluarga dan masyarakat untuk meluruskan situasi tersebut.


“Ulama perempuan perlu memberikan pemahaman terhadap perempuan-perempuan dan masyarakat bahwa tidak semua yang dibungkus agama itu baik dan benar. Sehingga jangan mudah diterima begitu saja. Jangan melihat segala sesuatu dari bungkusnya atau tampilan luarnya saja,” kata Machasin.
“Ulama perempuan perlu memberikan pemahaman terhadap perempuan-perempuan dan masyarakat bahwa tidak semua yang dibungkus agama itu baik dan benar. Sehingga jangan mudah diterima begitu saja. Jangan melihat segala sesuatu dari bungkusnya atau tampilan luarnya saja,” kata Machasin.
Baris 37: Baris 37:
''Sumber: http://sejuk.org/2017/04/26/ulama-perempuan-tangkal-radikalisme/''
''Sumber: http://sejuk.org/2017/04/26/ulama-perempuan-tangkal-radikalisme/''
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita KUPI 1]]