Lompat ke isi

Bangun Jejaring Lawan Radikalisme: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi 'Islam mengajarkan keadilan dan kesetaraan di antara sesama manusia dalam kehidupan berbangsa. Akan tetapi, banyak ketiakadilan terjadi atas nama agama, dan menempatkan...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 5: Baris 5:
Demikian antara lain pemikiran yang mengemuka dalam Seminar Internasional [[Ulama Perempuan]] bertema “Menguatkan Suara Ulama Perempuan, Menegaskan Nilai-nilai Islam, Kebangsaan, dan Kemanusiaan” di Cirebon, Jawa Barat, Selasa (25/4). Seminar yang menghadirkan pembicara dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, Arab Saudi, Nigeria, Kenya, dan Afganistan itu menjadi bagian dari Kongres [[Ulama Perempuan Indonesia]] ([[KUPI]]) di IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, dan Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Cirebon, 25-27 April 2017. KUPI diikuti oleh lebih dari 500 peserta dari 15 negara.
Demikian antara lain pemikiran yang mengemuka dalam Seminar Internasional [[Ulama Perempuan]] bertema “Menguatkan Suara Ulama Perempuan, Menegaskan Nilai-nilai Islam, Kebangsaan, dan Kemanusiaan” di Cirebon, Jawa Barat, Selasa (25/4). Seminar yang menghadirkan pembicara dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, Arab Saudi, Nigeria, Kenya, dan Afganistan itu menjadi bagian dari Kongres [[Ulama Perempuan Indonesia]] ([[KUPI]]) di IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, dan Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Cirebon, 25-27 April 2017. KUPI diikuti oleh lebih dari 500 peserta dari 15 negara.


Pengalaman paling ekstrem tentang perempuan sebagai korban radikalisasi diceritakan Bushra Qadhim Hyder dari PAIMAN, Alumni Trust Pakistan. Ia mengatakan, banyak kaum perempuan di Pakistan dieksploitasi atas nama agama, lalu disuruh berperang oleh kelompok radikal. “Kaum perempuan sering dipaksa menjadi pelaku bom bunuh diri dan diperlakukan tidak manusiawi. Mereka menangkap pandangan jihad yang tidak tepat, kemudian masuk ke gerakan ekstrem,” katanya.
Pengalaman paling ekstrem tentang perempuan sebagai korban radikalisasi diceritakan Bushra Qadhim Hyder dari PAIMAN, Alumni Trust Pakistan. Ia mengatakan, banyak kaum perempuan di Pakistan dieksploitasi atas nama agama, lalu disuruh berperang oleh kelompok radikal. “Kaum perempuan sering dipaksa menjadi pelaku bom bunuh diri dan diperlakukan tidak manusiawi. Mereka menangkap pandangan [[jihad]] yang tidak tepat, kemudian masuk ke gerakan ekstrem,” katanya.


Ekstremisme kerap memutarbalikkan ajaran agama dengan mengutip ayat-ayat kitab suci untuk kepentingan gerakannya, dan memanfaatkan perempuan. Seperti dikatakan peneliti senior Universitas Qatar asal Arab Saudi, Hatoon al-Fasi, pemikiran-pemikiran radikal muncul dan dimonopoli laki-laki, yang kemudian menyudutkan para pemikir perempuan. Padahal, hal-hal yang dibicarakan itu menyangkut kepentingan perempuan.
Ekstremisme kerap memutarbalikkan ajaran agama dengan mengutip ayat-ayat kitab suci untuk kepentingan gerakannya, dan memanfaatkan perempuan. Seperti dikatakan peneliti senior Universitas Qatar asal Arab Saudi, Hatoon al-Fasi, pemikiran-pemikiran radikal muncul dan dimonopoli laki-laki, yang kemudian menyudutkan para pemikir perempuan. Padahal, hal-hal yang dibicarakan itu menyangkut kepentingan perempuan.
Baris 14: Baris 14:


=== Ruang Perjumpaan ===
=== Ruang Perjumpaan ===
Ketua Panitia Pengarah KUPI Badriyah Fayumi mengatakan, KUPI menjadi ruang perjumpaan para perempuan ulama tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia untuk memikirkan persoalan kebangsaan dan kemanusiaan. Ulama tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Kata ulama adalah bentuk jamak atau majemuk dari alim atau orang yang berilmu. Ulama secara terminologis adalah orang yang berilmu mendalam, yang memiliki rasa takut kepada Allah (berintegritas), berkepribadian mulia, mengamalkan, menyampaikan, menegakkan keadilan, dan memberikan kemaslahatan kepada semesta.
Ketua Panitia Pengarah KUPI [[Badriyah Fayumi]] mengatakan, KUPI menjadi ruang perjumpaan para perempuan ulama tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia untuk memikirkan persoalan kebangsaan dan kemanusiaan. Ulama tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Kata ulama adalah bentuk jamak atau majemuk dari alim atau orang yang berilmu. Ulama secara terminologis adalah orang yang berilmu mendalam, yang memiliki rasa takut kepada Allah (berintegritas), berkepribadian mulia, mengamalkan, menyampaikan, menegakkan keadilan, dan memberikan kemaslahatan kepada semesta.


Perempuan ulama di dunia sejak dulu telah berjuang dan menjadi bagian dari setiap perkembangan peradaban Islam. Keberadaan perempuan ulama di sepanjang zaman di Indonesia merupakan ciri sekaligus pembeda nyata dari wajah Islam Indonesia dibandingkan dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Islam lain. Perempuan berperan penting dalam dua organisasi keislaman besar, yakni NU dan Muhammadiyah. Hal ini memastikan Islam Indonesia yang moderat, yang telah berlangsung sejak era kolonialisme.
Perempuan ulama di dunia sejak dulu telah berjuang dan menjadi bagian dari setiap perkembangan peradaban Islam. Keberadaan perempuan ulama di sepanjang zaman di Indonesia merupakan ciri sekaligus pembeda nyata dari wajah Islam Indonesia dibandingkan dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Islam lain. Perempuan berperan penting dalam dua organisasi keislaman besar, yakni NU dan Muhammadiyah. Hal ini memastikan Islam Indonesia yang moderat, yang telah berlangsung sejak era kolonialisme.
Baris 20: Baris 20:
Ulfat Hussein Masibo, pegiat gerakan perempuan dari Kenya, menuturkan, perempuan ulama di negaranya turut serta di parlemen untuk menolak kekerasan yang dilakukan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) serta turut menegakkan kebangsaan.
Ulfat Hussein Masibo, pegiat gerakan perempuan dari Kenya, menuturkan, perempuan ulama di negaranya turut serta di parlemen untuk menolak kekerasan yang dilakukan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) serta turut menegakkan kebangsaan.


Hatoon al-Fasi menekankan, banyak perempuan ulama di Arab Saudi dan dunia Arab yang memiliki ilmu pengetahuan luas. Mereka ahli dalam studi agama dan berkemampuan memberikan fatwa serta berijtihad. Mereka mampu memberikan pandangan mengenai halal dan haram, baik dan buruk, melalui ilmu yang juga dipelajari oleh laki-laki.
Hatoon al-Fasi menekankan, banyak perempuan ulama di Arab Saudi dan dunia Arab yang memiliki ilmu pengetahuan luas. Mereka ahli dalam studi agama dan berkemampuan memberikan [[fatwa]] serta berijtihad. Mereka mampu memberikan pandangan mengenai halal dan haram, baik dan buruk, melalui ilmu yang juga dipelajari oleh laki-laki.


“Perempuan ulama ini memiliki kekuatan untuk menggerakkan. Harus ada gerakan untuk melawan ekstremisme. Ini memang tugas berat istri, ibu, dan perempuan. Oleh karena itu perlu untuk membangun hubungan sesama perempuan, sesama [[komunitas]], antar [[tokoh]] agama. Kita membangun dialog-dialog perdamaian,” ujar Hatoon.
“Perempuan ulama ini memiliki kekuatan untuk menggerakkan. Harus ada gerakan untuk melawan ekstremisme. Ini memang tugas berat istri, ibu, dan perempuan. Oleh karena itu perlu untuk membangun hubungan sesama perempuan, sesama [[komunitas]], antar [[tokoh]] agama. Kita membangun dialog-dialog perdamaian,” ujar Hatoon.
Baris 33: Baris 33:
''Sumber: Harian KOMPAS, 26 April 2017''
''Sumber: Harian KOMPAS, 26 April 2017''
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita KUPI 1]]