Lompat ke isi

Difabel News Edisi 23; Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed27.png|italic title=Peran Perempuan Difabel dalam Masyarakat|pub_date=Juni 2012|series=Th. XII  Juni 2012 Edisi 27|title_orig=Peran Perempuan Difabel dalam Masyarakat|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-27-peran-perempuan-difabel-dalam-masyarakat/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-27-peran-perempuan-difabel-dalam-masyarakat/ Bulet...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed27.png|italic title=Peran Perempuan Difabel dalam Masyarakat|pub_date=Juni 2012|series=Th. XII  Juni 2012 Edisi 27|title_orig=Peran Perempuan Difabel dalam Masyarakat|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-27-peran-perempuan-difabel-dalam-masyarakat/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-27-peran-perempuan-difabel-dalam-masyarakat/ Buletin SAPDA Edisi 27: Peran Perempuan Difabel dalam Masyarakat]}}'''<u>Informasi Buletin:</u>'''
{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed23.png|italic title=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|pub_date=Februari 2012|series=Th. XI  Februari 2012 Edisi 23|title_orig=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Buletin SAPDA Edisi 23]}}'''<u>Informasi Buletin:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-27-peran-perempuan-difabel-dalam-masyarakat/ SAPDA]
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ SAPDA]
|-
|-
|Nama Buletin
|Nama Buletin
Baris 11: Baris 11:
|Seri
|Seri
|:
|:
|Th. XII  Juni 2012 Edisi 27
|Th. XI  Februari 2012 Edisi 23
|-
|-
|PDF
|PDF
|:
|:
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-27-peran-perempuan-difabel-dalam-masyarakat/ Download PDF]
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Download PDF]
|}
|}
Dalam satu dekade terakhir isu perempuan seolah menjadi bintang dalam upaya peningkatan peran dalam kehidupan sosial yang selama ini masih di tempatkan dalam subordinat dari peran laki-laki. Hal tersebut tidak lepas dari kontruksi sosial yang selama ini terbangun didalam masyarakat juga struktur budaya yang sering kali menciptakan perbedaan kapasitas antara laki-laki dan perempuan. Kondisi riil di masyarakat menunjukkan masih banyaknya perempuan apalagi difabel yang hidup di bawah garis kemiskinan yang memerlukan perhatian dan perlakuan khusus. Gambaran paling mudah adalah dua dari delapan orang Indonesia dikategorikan sebagai miskin. Karena, dengan total jumlah penduduk di Indonesia sebesar 237  juta jiwa di tahun 2010 namun menginjak tahun 2012 kepadatan penduduk di Indonesia semakin bertambah sekitar 257, termasuk di dalamnya penduduk miskin sebanyak 30,5 juta jiwa, maka benarlah jika dikatakan bahwa satu dari delapan penduduk Indonesia dikategorikan miskin.Di tengahtengah kondisi yang demikian yang paling dirugikan adalah kelompok-kelompok minoritas yang termarginal salah satunya adalah kelompok difabel yang secara sosial masih dililit persoalan stigma negative di dalam masyarakat terlebih lagi bagi perempuan difabel yang harus mengalami diskriminasi bukan lagi ganda tapi triple yaitu sebagai seorang perempuan, miskin sekaligus difabel.
BEIT AWWA, — Hanya karena tak mau mempermalukan anak-anaknya yang sehat, sepasang suami istri warga Tepi Barat, Palestina, menyembunyikan dua anak mereka yang cacat selama 40 tahun. Hanya segelintir warga desa kecil Beit Awwa yang tahu soal Bassam Musalmeh (38) dan kakak perempuannya, Nawal (42). Mereka berdua dikurung di dalam ruang berdinding beton yang kotor dan bau pesing di belakang rumah keluarga. Polisi menemukan mereka dalam penggerebekan pada Selasa (26/8) malam, saat memburu anggota Hamas dan sejumlah penjahat di kota itu. Otoritas Palestina membantah penggerebekan itu untuk memburu anggota Hamas.  


Namun dalam satu dekade terakhir peran perempuan difabel dalam mensosialisasikan, mengadvokasi hak-hak difabel begitu menonjol, begitu banyak lembaga yang di motori oleh pendekar perempuan difabel seperti di Solo ada Pamikatsih direktur Interaksi, di Jogja ada Nuning direktur CIQAL, Nurul direktur SAPDA, Risna Direktur UCP UPRUK  di Bandung ada Cucu direktur BILiC Bandung, Mimi direktur Mimi Institut Jakarta, Di Jawa Timur ada Wuri yang mendobrak ketidak adilan atas haknya untuk bekerja selain itu banyak tokoh perempuan difabel  yang hampir separuh hidup mereka diabdikan untuk memperjuangkan hak-hak difabel.
Kepala polisi setempat, Samih Saify, mengatakan, ketika anggotanya masuk ke rumah itu, mereka mendengar suara-suara aneh dari bawah dan tergerak untuk menyelidikinya. Mereka kemudian menemukan Bassam dalam keadaan telanjang dan Nawal mengenakan daster tipis. Polisi mengambil gambar mereka. Ibrahim, ayah kedua anak itu, ditangkap meski belum jelas alasan dia mengurung anaknya atau karena terlibat dalam organisasi Hamas. Karena perhatian media sudah begitu besar, Rabu (27/8), Bassam dan Nawal dimandikan dan diberi pakaian yang pantas. Ruang penyekapan pun sudah dibersihkan dan dirapikan meski bau pesing masih menyengat. Menurut paman mereka, Mohammed Musalmeh, kedua orang itu belum pernah didiagnosis menderita gangguan mental tertentu. Mereka juga tidak bisa bicara atau mengenal orang lain. Seorang reporter Associated Press masuk ke ruangan Nawal, tempat dia duduk di ranjang besi. Tampaknya perempuan itu tidak menyadari kehadiran orang lain di ruang itu.  
 
Dampak dari peran perempuan difabelpun kini bisa dinikmati oleh difabel yang lain yang tentunya tidak mengsampingkan peran difabel laki-laki, seperti di Jogja yang difabel memperoleh Jaminan Kesehatan melalui Jamkesos Propinsi Jogja dan kemudahan memperoleh kursi roda yang adaptif bahkan hal ini tidak hanya untuk Jogja dan  Jawa tengah namun sudah sampai luar Jawa, di Solo Raya isu difabelitas begitu popular di masyarakat dan terutama di Kabupaten/kota, Di Bandung maupun Jakarta kesadaran akan kebutuhan aksesbilitas di fasiltas umum semakin tinggi bagi stakeholder. Saat ini pula perempuan difabel di gross root mulai bangkit menunjukan partisiapasinya dalam membangun kesadaran bahkan melakukan advokasi atas hak mereka, setelah beberapa lama mereka tidak berdaya menghadapi stigma negative yang ditujukan kepada mereka. Saat ini di kabupaten Sukoharjo ada beberapa Perempuan yang menjadi ketua Kelompok Usaha Bersama ( KUBE) anatara lain ; Suyanti KUBE Alaska Sejahtera kecamatan Polokarto, Sajiyem KUBE Warna Sari kecamatan Baki dan di Tawangsari ada Wiji Lestari ketua KUBE Lestari.  


[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]]
[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]]