Lompat ke isi

Difabel News Edisi 24; Stop Diskriminasi Terhadap Difabel: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed23.png|italic title=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|pub_date=Februari 2012|series=Th. XI  Februari 2012 Edisi 23|title_orig=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Buletin SA...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed23.png|italic title=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|pub_date=Februari 2012|series=Th. XI  Februari 2012 Edisi 23|title_orig=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Buletin SAPDA Edisi 23]}}'''<u>Informasi Buletin:</u>'''
{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed24.png|italic title=Stop Diskriminasi Terhadap Difabel|pub_date=Maret 2012|series=Th. XI  Maret 2012 Edisi 24|title_orig=Stop Diskriminasi Terhadap Difabel|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-24-stop-diskriminasi-terhadap-difabel/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-24-stop-diskriminasi-terhadap-difabel/ Buletin SAPDA Edisi 24]}}'''<u>Informasi Buletin:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ SAPDA]
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-24-stop-diskriminasi-terhadap-difabel/ SAPDA]
|-
|-
|Nama Buletin
|Nama Buletin
Baris 11: Baris 11:
|Seri
|Seri
|:
|:
|Th. XI  Februari 2012 Edisi 23
|Th. XI  Maret 2012 Edisi 24
|-
|-
|PDF
|PDF
|:
|:
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Download PDF]
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-24-stop-diskriminasi-terhadap-difabel/ Download PDF]
|}
|}
BEIT AWWA, — Hanya karena tak mau mempermalukan anak-anaknya yang sehat, sepasang suami istri warga Tepi Barat, Palestina, menyembunyikan dua anak mereka yang cacat selama 40 tahun. Hanya segelintir warga desa kecil Beit Awwa yang tahu soal Bassam Musalmeh (38) dan kakak perempuannya, Nawal (42).  Mereka berdua dikurung di dalam ruang berdinding beton yang kotor dan bau pesing di belakang rumah keluarga. Polisi menemukan mereka dalam penggerebekan pada Selasa (26/8) malam, saat memburu anggota Hamas dan sejumlah penjahat di kota itu. Otoritas Palestina membantah penggerebekan itu untuk memburu anggota Hamas.  
SAPDA ( Sentra Advokasi Perempuan, Difabel Dan Anak ) akan mengadakan sekolah disabilitas, gender dan kesehatan reproduksi, sekolah ini merupakan pengembangan program pendidikan gender dan disabilitas terkait issue difabel,gender dan kespro khususnya bagi perempuan dan perempuan difabel. Program ini SAPDA bekerjasama dengan Mama Cash.


Kepala polisi setempat, Samih Saify, mengatakan, ketika anggotanya masuk ke rumah itu, mereka mendengar suara-suara aneh dari bawah dan tergerak untuk menyelidikinya. Mereka kemudian menemukan Bassam dalam keadaan telanjang dan Nawal mengenakan daster tipis. Polisi mengambil gambar mereka. Ibrahim, ayah kedua anak itu, ditangkap meski belum jelas alasan dia mengurung anaknya atau karena terlibat dalam organisasi Hamas. Karena perhatian media sudah begitu besar, Rabu (27/8), Bassam dan Nawal dimandikan dan diberi pakaian yang pantas. Ruang penyekapan pun sudah dibersihkan dan dirapikan meski bau pesing masih menyengat. Menurut paman mereka, Mohammed Musalmeh, kedua orang itu belum pernah didiagnosis menderita gangguan mental tertentu. Mereka juga tidak bisa bicara atau mengenal orang lain. Seorang reporter Associated Press masuk ke ruangan Nawal, tempat dia duduk di ranjang besi. Tampaknya perempuan itu tidak menyadari kehadiran orang lain di ruang itu.  
Program sekolah ini salah satu pilot project SAPDA untuk pengembangan kapasitas komunitas difabel, perempuan dan masyarakat, yang terkait dengan issue-issue kecacatan ( disabilitas ). Maka untuk mewujudkan cita-cita tersebut, sekolah disabilitas, gender dan kesehatan reproduksi bagi perempuan dan perempuan difabel, rencana sekolah ini akan diadakan 2 kali periode yaitu pada April-Juli 2012 untuk Periode I dan Oktober 2012—Januari 2013 periode II dengan jumlah peserta 20 orang perempuan dan perempuan difabel dari DIY dan sekitarnya.  
 
Adapun tujuan dari sekolah Disabilitas, Gender dan Kesehatan Reproduksi ini adalah ― 1. Melakukan transformasi pemahaman secara mendalam mengenai Difabilitas, Gender dan Kespro, 2. Mendorong perluasan issue tentang Difabilitas, Gender dan Kesehatan Reproduksi kepada stakeholder atapun didalam komunitas dan diluar komunitas difabel, 3. Mendorong adanya agen perubahan dalam masyarakat yang mempunyai perspektif gender dan difabilitas.


[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]]
[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]]

Revisi per 10 April 2026 19.41

JudulStop Diskriminasi Terhadap Difabel
SeriTh. XI  Maret 2012 Edisi 24
PenerbitSAPDA
Tahun terbit
Maret 2012
Download PDF

Informasi Buletin:

Sumber : SAPDA
Nama Buletin : Difabel News
Seri : Th. XI  Maret 2012 Edisi 24
PDF : Download PDF

SAPDA ( Sentra Advokasi Perempuan, Difabel Dan Anak ) akan mengadakan sekolah disabilitas, gender dan kesehatan reproduksi, sekolah ini merupakan pengembangan program pendidikan gender dan disabilitas terkait issue difabel,gender dan kespro khususnya bagi perempuan dan perempuan difabel. Program ini SAPDA bekerjasama dengan Mama Cash.

Program sekolah ini salah satu pilot project SAPDA untuk pengembangan kapasitas komunitas difabel, perempuan dan masyarakat, yang terkait dengan issue-issue kecacatan ( disabilitas ). Maka untuk mewujudkan cita-cita tersebut, sekolah disabilitas, gender dan kesehatan reproduksi bagi perempuan dan perempuan difabel, rencana sekolah ini akan diadakan 2 kali periode yaitu pada April-Juli 2012 untuk Periode I dan Oktober 2012—Januari 2013 periode II dengan jumlah peserta 20 orang perempuan dan perempuan difabel dari DIY dan sekitarnya.

Adapun tujuan dari sekolah Disabilitas, Gender dan Kesehatan Reproduksi ini adalah ― 1. Melakukan transformasi pemahaman secara mendalam mengenai Difabilitas, Gender dan Kespro, 2. Mendorong perluasan issue tentang Difabilitas, Gender dan Kesehatan Reproduksi kepada stakeholder atapun didalam komunitas dan diluar komunitas difabel, 3. Mendorong adanya agen perubahan dalam masyarakat yang mempunyai perspektif gender dan difabilitas.