Lompat ke isi

Difabel News Edisi 26; Mengembangkan Potensi Difabel: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed23.png|italic title=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|pub_date=Februari 2012|series=Th. XI  Februari 2012 Edisi 23|title_orig=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Buletin SA...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed23.png|italic title=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|pub_date=Februari 2012|series=Th. XI  Februari 2012 Edisi 23|title_orig=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Buletin SAPDA Edisi 23]}}'''<u>Informasi Buletin:</u>'''
{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed26.png|italic title=Mengembangkan Potensi Difabel|pub_date=Mei 2012|series=Th. XII  Mei 2012 Edisi 26|title_orig=Mengembangkan Potensi Difabel|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-26-mengembangkan-potensi-difabel/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-26-mengembangkan-potensi-difabel/ Buletin SAPDA Edisi 26]}}'''<u>Informasi Buletin:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ SAPDA]
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-26-mengembangkan-potensi-difabel/ SAPDA]
|-
|-
|Nama Buletin
|Nama Buletin
Baris 11: Baris 11:
|Seri
|Seri
|:
|:
|Th. XI  Februari 2012 Edisi 23
|Th. XII  Mei 2012 Edisi 26
|-
|-
|PDF
|PDF
|:
|:
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Download PDF]
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-26-mengembangkan-potensi-difabel/ Download PDF]
|}
|}
BEIT AWWA, — Hanya karena tak mau mempermalukan anak-anaknya yang sehat, sepasang suami istri warga Tepi Barat, Palestina, menyembunyikan dua anak mereka yang cacat selama 40 tahun. Hanya segelintir warga desa kecil Beit Awwa yang tahu soal Bassam Musalmeh (38) dan kakak perempuannya, Nawal (42).  Mereka berdua dikurung di dalam ruang berdinding beton yang kotor dan bau pesing di belakang rumah keluarga. Polisi menemukan mereka dalam penggerebekan pada Selasa (26/8) malam, saat memburu anggota Hamas dan sejumlah penjahat di kota itu. Otoritas Palestina membantah penggerebekan itu untuk memburu anggota Hamas.
Berbagai persoalan yang di alami oleh difabel di mata masyarakat misalnya penolakan dan ketidaksetujuan penyamarataan kehidupan ditingkat masyarakat kian bertambah. Sering dijumpai sejumlah perusahaan yang menolak menerima difabel sebagai karyawan mereka. Sampai dengan saat ini baru beberapa perusahan yang secara optimal berusaha mengembangkan potensi yang dimiliki oleh mereka. Sebagian besar masyarakat menganggap difabel termasuk kelompok yang mempunyai keterbatasan potensi untuk dikembangkan. Sehingga Mereka tidak dioptimalkan sesuai potensi yang mereka miliki.  
 
Kepala polisi setempat, Samih Saify, mengatakan, ketika anggotanya masuk ke rumah itu, mereka mendengar suara-suara aneh dari bawah dan tergerak untuk menyelidikinya. Mereka kemudian menemukan Bassam dalam keadaan telanjang dan Nawal mengenakan daster tipis. Polisi mengambil gambar mereka. Ibrahim, ayah kedua anak itu, ditangkap meski belum jelas alasan dia mengurung anaknya atau karena terlibat dalam organisasi Hamas. Karena perhatian media sudah begitu besar, Rabu (27/8), Bassam dan Nawal dimandikan dan diberi pakaian yang pantas. Ruang penyekapan pun sudah dibersihkan dan dirapikan meski bau pesing masih menyengat. Menurut paman mereka, Mohammed Musalmeh, kedua orang itu belum pernah didiagnosis menderita gangguan mental tertentu. Mereka juga tidak bisa bicara atau mengenal orang lain. Seorang reporter Associated Press masuk ke ruangan Nawal, tempat dia duduk di ranjang besi. Tampaknya perempuan itu tidak menyadari kehadiran orang lain di ruang itu.  


Melihat persoalan di atas maka hal utama yang harus dilakukan untuk memaksimalkan potensi difabel adalah: Pertama: Menyemangati diri mereka bahwa mereka bisa seperti manusia lainnya. Kemauan dan Usahalah yang dapat menentukan kehidupan mereka sendiri. Kedua, Menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan tidak diskriminatif bagi difabel. Ketiga memberikan pemahaman terhadap orangtua terhadap potensi anak, hal ini terlihat bahwa Selama ini orangtua yang memiliki anak difabel seringkali memilih untuk tidak menyekolahkan mereka. Karena mereka menganggap bahwa difabel tidak mempunyai potensi atau menyusahkan keluarga.  
[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]]
[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]]
[[Kategori:Majalah, Buletin dan Sumplemen Kupibilitas]]
[[Kategori:Majalah, Buletin dan Sumplemen Kupibilitas]]
[[Kategori:Buletin Kupibilitas]]
[[Kategori:Buletin Kupibilitas]]
[[Kategori:Buletin SAPDA]]
[[Kategori:Buletin SAPDA]]