Difabel dalam Masyarakat Indonesia: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox berita, opini|italic title=Difabel dalam Masyarakat Indonesia|sumber=[https://mubadalah.id/difabel-dalam-masyarakat-indonesia/ Mubadalah.id]|name=|author=Zahra Amin|title_orig=Difabel dalam Masyarakat Indonesia|pub_date=28 Februari 2026|image=Berkas:Mubadalah.id.png|note=}}'''[[Mubadalah]].id -''' Pada edisi sebelumnya, saya telah menuliskan sejarah disabilitas di era Romawi, Yunani hingga Barat modern, dan melalui artikel kali ini akan melanjutkan dengan difabel dalam masyarakat Indonesia. Adapun sumber referensi masih dari Jurnal Perempuan No. 65 tahun 2010 dengan tema Mencari Ruang untuk Difabel. | |||
{| | |||
|[https://mubadalah.id/difabel-dalam-masyarakat-indonesia/ Mubadalah.id] | |||
| | |||
| | |||
| | |||
|28 Februari 2026 | |||
|: | |||
|} | |||
'''[[Mubadalah]].id -''' Pada edisi sebelumnya, saya telah menuliskan sejarah disabilitas di era Romawi, Yunani hingga Barat modern, dan melalui artikel kali ini akan melanjutkan dengan difabel dalam masyarakat Indonesia. Adapun sumber referensi masih dari Jurnal Perempuan No. 65 tahun 2010 dengan tema Mencari Ruang untuk Difabel. | |||
Slamet Thohari melalui artikel “Menormalkan yang Dianggap tidak Normal, Difabel dalam Lintas Sejarah”, menyatakan bahwa Barat biarlah menjadi dirinya sendiri. Masyarakat Jawa mempunyai perspektif kosmologis yang berbeda. | Slamet Thohari melalui artikel “Menormalkan yang Dianggap tidak Normal, Difabel dalam Lintas Sejarah”, menyatakan bahwa Barat biarlah menjadi dirinya sendiri. Masyarakat Jawa mempunyai perspektif kosmologis yang berbeda. | ||
| Baris 21: | Baris 7: | ||
Demikian pula dengan difabel, menjadi salah satu bagian penting dalam keseimbangan kosmologis. Wayang merupakan salah satu dari kosmologi Jawa yang sangat berarti, di sana dapat kita telusuri berbagai decak imaji tentang tubuh dan “kecacatan.” | Demikian pula dengan difabel, menjadi salah satu bagian penting dalam keseimbangan kosmologis. Wayang merupakan salah satu dari kosmologi Jawa yang sangat berarti, di sana dapat kita telusuri berbagai decak imaji tentang tubuh dan “kecacatan.” | ||
== Simbol Difabelitas dalam Wayang == | |||
Dalam alam pewayangan, banyak sekali simbol difabelitas. Menjadi difabel sepertinya merupakan hal lumrah dan biasa, bukan sebagai sebuah keburukan. Durgandini atau terkenal dengan Dewi Lara Amis, putri dari Wirata adalah salah satu nenek moyang “masyarakat pewayangan.” | Dalam alam pewayangan, banyak sekali simbol difabelitas. Menjadi difabel sepertinya merupakan hal lumrah dan biasa, bukan sebagai sebuah keburukan. Durgandini atau terkenal dengan Dewi Lara Amis, putri dari Wirata adalah salah satu nenek moyang “masyarakat pewayangan.” | ||
| Baris 33: | Baris 18: | ||
Destarata buta, dan Pandu dengan wajah pucat aneh, tidak sebagaimana biasa orang. Dari Destarata kemudian muncul 100 orang putra sebagai kutub “jahat”, yakni Kurawa. Sedangkan Pandu menurunkan lima orang putra sebagai kutub “kebaikan”, yaitu Pandawa. | Destarata buta, dan Pandu dengan wajah pucat aneh, tidak sebagaimana biasa orang. Dari Destarata kemudian muncul 100 orang putra sebagai kutub “jahat”, yakni Kurawa. Sedangkan Pandu menurunkan lima orang putra sebagai kutub “kebaikan”, yaitu Pandawa. | ||
== Sosok Punakawan dalam Pewayangan Jawa == | |||
Selain [[tokoh]] wayang di atas, terdapat beberapa orang yang konon ini merupakan produk asli masyarakat Jawa, yaitu para Punakawan. Gareng yang pincang, Petruk yang dungu, Bagong yang gendut dan bermulut lebar, atau Semar yang bungkuk, bermuka jelek. | Selain [[tokoh]] wayang di atas, terdapat beberapa orang yang konon ini merupakan produk asli masyarakat Jawa, yaitu para Punakawan. Gareng yang pincang, Petruk yang dungu, Bagong yang gendut dan bermulut lebar, atau Semar yang bungkuk, bermuka jelek. | ||
| Baris 45: | Baris 29: | ||
Mereka juga hadir sejak zaman Pandawa hingga zaman Parikesit anak dari Abimanyu dan cucu dari Arjuna. Sampai di sini kita akan menemukan bagaimana orang-orang difabel dalam masyarakat Jawa bukanlah orang yang dicemooh sedememikian rupa, akan tetapi orang yang mempunyai kesaktian tinggi. | Mereka juga hadir sejak zaman Pandawa hingga zaman Parikesit anak dari Abimanyu dan cucu dari Arjuna. Sampai di sini kita akan menemukan bagaimana orang-orang difabel dalam masyarakat Jawa bukanlah orang yang dicemooh sedememikian rupa, akan tetapi orang yang mempunyai kesaktian tinggi. | ||
== Penjaga Sistem Harmoni Kehidupan == | |||
Sekalipun sebagai wong cilik, para Punakawan tetap saja mempunyai andil yang luar biasa, yakni sebagai orang-orang sakti dan penjaga keseimbangan dari sistem harmoni kehidupan. “Kecacatan” sebagai pasekten juga banyak kita jumpai dalam kehidupan orang-orang Jawa yang lain. | Sekalipun sebagai wong cilik, para Punakawan tetap saja mempunyai andil yang luar biasa, yakni sebagai orang-orang sakti dan penjaga keseimbangan dari sistem harmoni kehidupan. “Kecacatan” sebagai pasekten juga banyak kita jumpai dalam kehidupan orang-orang Jawa yang lain. | ||