Lompat ke isi

2025 Eksistensi Kenabian Perempuan Perspektif Faqihuddin Abdul Kodir dan Implikasinya pada Keulamaan Perempuan: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Reinterpretation of the Nusyūz Verse in the Al-Taḥrīr wa Tanwīr Exegesis from a Mubadalah Perspective|author=*Mufida Ulfa (UIN KHAS Jember, Indonesia) *Muhammad Masruri (Universiti Tun Hussein Onn Malaysia)|title_orig=Reinterpretation of the Nusyūz Verse in the Al-Taḥrīr wa Tanwīr Exegesis from a Mubadalah Perspective|name=|issn=2527-8711|note=[https://ejournal.uas.ac.id/index.php/falasifa/article/view/2558/1243 (Dow...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Reinterpretation of the Nusyūz Verse in the Al-Taḥrīr wa Tanwīr Exegesis from a Mubadalah Perspective|author=*Mufida Ulfa (UIN KHAS Jember, Indonesia)
{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Eksistensi Kenabian Perempuan Perspektif Faqihuddin Abdul Kodir dan Implikasinya pada Keulamaan Perempuan|author=Abdannisa Az-Zalfa Halid (IAIN Manado)|title_orig=Eksistensi Kenabian Perempuan Perspektif Faqihuddin Abdul Kodir dan Implikasinya pada Keulamaan Perempuan|name=|issn=2986-0342|note=[https://ejournal.iain-manado.ac.id/mustafid/article/view/1496/858 (Download Original)]|pub_date=2025-06-30|series=Vol 4 No 1 (2025): June|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|image_caption=|sumber=[https://ejournal.iain-manado.ac.id/mustafid/article/view/1496 AL-MUSTAFID; Journal of Qur'an and Hadith Studies]|doi=[https://doi.org/10.30984/mustafid.v4i1.1496 doi.org/10.30984/mustafid.v4i1.1496]}}'''Abstrak:''' Fenomena pemaknaan ayat nusyūz dalam masyarakat selama ini masih bias gender, karena label nusyūz lebih sering dilekatkan pada istri dibanding suami, padahal al-Qur'an menegaskan  bahwa  potensi  nusyūz  dapat  terjadi  pada  keduanya.  Bias  tafsir  ini dipengaruhi  oleh  dominasi  pemikiran  klasik  yang  kurang  memberikan  keseimbangan dalam  membahas  relasi  suami-istri.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengkaji  ulang penafsiran  Ibn  'Āsyūr  terhadap  ayat-ayat  nusyūz  dalam Tafsīr  al-Taḥrīr  wa  al-Tanwīr dengan    menggunakan    perspektif mubādalah yang    menekankan    prinsip kesetaraan  dan  resiprositas  gender.  Penelitian  ini  menggunakan  metode library research dengan pendekatan analisis kualitatif dan teknik analisis isi terhadap teks tafsir  primer  serta  sumber-sumber  sekunder  yang  relevan.  Hasil  penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Ibn 'Āsyūr terhadap ayat nusyūz masih sejalan dengan mufassir  klasik,  meskipun  ia menawarkan  perbedaan  penting  dalam  memahami  tiga tahapan penyelesaian nusyūz. Menurut Ibn 'Āsyūr, tiga langkah penyelesaian—nasihat, pisah  ranjang,  dan  pemukulan—tidak  harus  dilakukan  secara  berurutan,  melainkan dipilih sesuai tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh nusyūz. Ia juga menegaskan perlunya  intervensi  pemerintah  bila  suami  melampaui  batas  dalam  tindakan  fisik terhadap  istri.  Namun,  perspektif mubādalah mengungkap  bahwa  tafsir  Ibn  'Āsyūr belum  sepenuhnya menghadirkan  relasi  timbal  balik  yang  adil  antara  suami  dan  istri, baik  dalam  definisi  maupun  solusi  terhadap  nusyūz.  Tafsir  ini  perlu dikontekstualisasikan ulang agar selaras dengan prinsip kesalingan dan keadilan gender yang ditawarkan oleh pendekatan mubādalah.
*Muhammad Masruri (Universiti Tun Hussein Onn Malaysia)|title_orig=Reinterpretation of the Nusyūz Verse in the Al-Taḥrīr wa Tanwīr Exegesis from a Mubadalah Perspective|name=|issn=2527-8711|note=[https://ejournal.uas.ac.id/index.php/falasifa/article/view/2558/1243 (Download Original)]|pub_date=2025-09-30|series=Vol 16 No 02 (2025): September|image=Berkas:Falasifa.jpg|image_caption=[https://ejournal.uas.ac.id/index.php/falasifa/article/view/2558 Falasifa: Jurnal Studi Keislaman]|sumber=[https://ejournal.uas.ac.id/index.php/falasifa/article/view/2558 Falasifa: Jurnal Studi Keislaman]|doi=[https://doi.org/10.62097/falasifa.v16i02.2558 https://doi.org/10.62097/falasifa.v16i02.2558]}}'''Abstrak:''' Fenomena pemaknaan ayat nusyūz dalam masyarakat selama ini masih bias gender, karena label nusyūz lebih sering dilekatkan pada istri dibanding suami, padahal al-Qur'an menegaskan  bahwa  potensi  nusyūz  dapat  terjadi  pada  keduanya.  Bias  tafsir  ini dipengaruhi  oleh  dominasi  pemikiran  klasik  yang  kurang  memberikan  keseimbangan dalam  membahas  relasi  suami-istri.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengkaji  ulang penafsiran  Ibn  'Āsyūr  terhadap  ayat-ayat  nusyūz  dalam Tafsīr  al-Taḥrīr  wa  al-Tanwīr dengan    menggunakan    perspektif mubādalah yang    menekankan    prinsip kesetaraan  dan  resiprositas  gender.  Penelitian  ini  menggunakan  metode library research dengan pendekatan analisis kualitatif dan teknik analisis isi terhadap teks tafsir  primer  serta  sumber-sumber  sekunder  yang  relevan.  Hasil  penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Ibn 'Āsyūr terhadap ayat nusyūz masih sejalan dengan mufassir  klasik,  meskipun  ia menawarkan  perbedaan  penting  dalam  memahami  tiga tahapan penyelesaian nusyūz. Menurut Ibn 'Āsyūr, tiga langkah penyelesaian—nasihat, pisah  ranjang,  dan  pemukulan—tidak  harus  dilakukan  secara  berurutan,  melainkan dipilih sesuai tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh nusyūz. Ia juga menegaskan perlunya  intervensi  pemerintah  bila  suami  melampaui  batas  dalam  tindakan  fisik terhadap  istri.  Namun,  perspektif mubādalah mengungkap  bahwa  tafsir  Ibn  'Āsyūr belum  sepenuhnya menghadirkan  relasi  timbal  balik  yang  adil  antara  suami  dan  istri, baik  dalam  definisi  maupun  solusi  terhadap  nusyūz.  Tafsir  ini  perlu dikontekstualisasikan ulang agar selaras dengan prinsip kesalingan dan keadilan gender yang ditawarkan oleh pendekatan mubādalah.


'''''Kata Kunci:''' Ibn 'Āsyūr, Mubādalah, Nusyūz''
'''''Kata Kunci:''' Ibn 'Āsyūr, Mubādalah, Nusyūz''

Revisi per 22 April 2026 14.03

JudulEksistensi Kenabian Perempuan Perspektif Faqihuddin Abdul Kodir dan Implikasinya pada Keulamaan Perempuan
PenulisAbdannisa Az-Zalfa Halid (IAIN Manado)
SeriVol 4 No 1 (2025): June
Tahun terbit
2025-06-30
ISSN2986-0342
DOIdoi.org/10.30984/mustafid.v4i1.1496
Sumber OriginalAL-MUSTAFID; Journal of Qur'an and Hadith Studies
(Download Original)

Abstrak: Fenomena pemaknaan ayat nusyūz dalam masyarakat selama ini masih bias gender, karena label nusyūz lebih sering dilekatkan pada istri dibanding suami, padahal al-Qur'an menegaskan bahwa potensi nusyūz dapat terjadi pada keduanya. Bias tafsir ini dipengaruhi oleh dominasi pemikiran klasik yang kurang memberikan keseimbangan dalam membahas relasi suami-istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang penafsiran Ibn 'Āsyūr terhadap ayat-ayat nusyūz dalam Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr dengan menggunakan perspektif mubādalah yang menekankan prinsip kesetaraan dan resiprositas gender. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan analisis kualitatif dan teknik analisis isi terhadap teks tafsir primer serta sumber-sumber sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Ibn 'Āsyūr terhadap ayat nusyūz masih sejalan dengan mufassir klasik, meskipun ia menawarkan perbedaan penting dalam memahami tiga tahapan penyelesaian nusyūz. Menurut Ibn 'Āsyūr, tiga langkah penyelesaian—nasihat, pisah ranjang, dan pemukulan—tidak harus dilakukan secara berurutan, melainkan dipilih sesuai tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh nusyūz. Ia juga menegaskan perlunya intervensi pemerintah bila suami melampaui batas dalam tindakan fisik terhadap istri. Namun, perspektif mubādalah mengungkap bahwa tafsir Ibn 'Āsyūr belum sepenuhnya menghadirkan relasi timbal balik yang adil antara suami dan istri, baik dalam definisi maupun solusi terhadap nusyūz. Tafsir ini perlu dikontekstualisasikan ulang agar selaras dengan prinsip kesalingan dan keadilan gender yang ditawarkan oleh pendekatan mubādalah.

Kata Kunci: Ibn 'Āsyūr, Mubādalah, Nusyūz

Abstract: The interpretation of nusyūz verses in Muslim societies remains gender-biased. The term nusyūz gets attributed predominantly to wives rather than husbands, even though the Qur'an addresses both. This interpretive asymmetry stems from classical exegetical traditions that inadequately discuss marital relations in a balanced manner. This study re-examines Ibn 'Āsyūr's interpretation of the nusyūz verses in Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr through the lens of mubādalah, a hermeneutical framework emphasizing reciprocity and gender equality. Using a library research design and qualitative content analysis, this study analyzes Ibn 'Āsyūr's tafsir alongside relevant exegetical and fiqh sources. The findings reveal that Ibn 'Āsyūr's interpretation largely aligns with classical exegetes, yet introduces a significant reinterpretation of the three remedial steps for nusyūz: admonition, separation of beds, and physical discipline. Unlike most commentators who view these steps as sequential, Ibn 'Āsyūr argues that each should be applied according to the degree of marital disruption. He also emphasizes governmental intervention if a husband exceeds permissible limits. The mubādalah perspective reveals that Ibn 'Āsyūr's tafsir still lacks reciprocal and egalitarian treatment of both spouses in defining and resolving nusyūz. His interpretation requires further contextualization to align with the ethical principles of mutuality and gender justice inherent in mubādalah.

Keywords: Ibn ‘Āsyūr, Mubādalah, Nusyūz