Lompat ke isi

Nyai, Kyai dan Pesantren: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 2: Baris 2:
*Mukhotib MD, (Tim Redaksi)
*Mukhotib MD, (Tim Redaksi)
*Mohammad Najib, (Tim Redaksi)
*Mohammad Najib, (Tim Redaksi)
*Sri Hidayati (Tim Redaksi)|publisher=Yayasan Kesejahteraan Fatayat (YKKF)|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|italic title=Nyai, Kiai dan Pesantren|isbn=|pub_date=Cetakan 1, Mei 2002|cover_artist=|pages=xvii + 121 hal|author=Siti Zainab|title_orig=Nyai, Kiai dan Pesantren|note=[https://drive.google.com/file/d/1WzIo_tKRlpLSmS8MKOwXljIDh18CS14Z/view?usp=drive_link (Download PDF)]|name=}}''"Tidak mudah menjadi seorang nyai/kiai apalagi kalau ia berhasil"''
*Sri Hidayati (Tim Redaksi)|publisher=Yayasan Kesejahteraan Fatayat (YKKF)|image=Berkas:Nyai, Kiai dan Pesantren.png|italic title=Nyai, Kiai dan Pesantren|isbn=979-9652-8-1|pub_date=Cetakan 1, Mei 2002|cover_artist=Haitamy el Jaid|pages=xvii + 121 hal|author=Siti Zainab|title_orig=Nyai, Kiai dan Pesantren|note=[https://drive.google.com/file/d/1WzIo_tKRlpLSmS8MKOwXljIDh18CS14Z/view?usp=drive_link (Download PDF)]|name=}}''"Tidak mudah menjadi seorang nyai/kiai apalagi kalau ia berhasil"''


UNGKAPAN tersebut bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Sebaliknya ungkapan ini semakin menjadi kenyataan apabila kita membaca sekian jumlah pengalaman badal nyai/kiai pesantren Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlibat dalam program penguatan hak reproduksi perempuan yang dikelola oleh Yayasan Kesejahteraan Fatayat Yogyakarta dalam melakukan sosialisasi wacana adil jender melalui pengajaran kitab atau media pengajian dimana badal nyai/kiai ampu yang tervisualisasi dalam direktori ini. Yang paling terlihat adalah betapa sulitnya mereka menembus benteng pemahaman agama masyarakat yang sudah tertata rapi untuk dicoba lihat kembali mengingat realitas dunia selalu berubah. Walaupun mereka tahu bahwa misi agama itu adil, egaliter, demokratis yang tersembunyi dalam teks agama yang diam-tetapi kerelaan untuk membongkar dan dibongkar (dekonstruksi) bukan suatu hal yang mudah. Apalagi jika yang dicoba bongkar adalah pemahaman "bernuansa untung bagi laki-laki", yang kemudian dikaji untuk keadilan bersama yakni laki-laki dan perempuan.
UNGKAPAN tersebut bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Sebaliknya ungkapan ini semakin menjadi kenyataan apabila kita membaca sekian jumlah pengalaman badal nyai/kiai pesantren Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlibat dalam program penguatan hak reproduksi perempuan yang dikelola oleh Yayasan Kesejahteraan Fatayat Yogyakarta dalam melakukan sosialisasi wacana adil jender melalui pengajaran kitab atau media pengajian dimana badal nyai/kiai ampu yang tervisualisasi dalam direktori ini. Yang paling terlihat adalah betapa sulitnya mereka menembus benteng pemahaman agama masyarakat yang sudah tertata rapi untuk dicoba lihat kembali mengingat realitas dunia selalu berubah. Walaupun mereka tahu bahwa misi agama itu adil, egaliter, demokratis yang tersembunyi dalam teks agama yang diam-tetapi kerelaan untuk membongkar dan dibongkar (dekonstruksi) bukan suatu hal yang mudah. Apalagi jika yang dicoba bongkar adalah pemahaman "bernuansa untung bagi laki-laki", yang kemudian dikaji untuk keadilan bersama yakni laki-laki dan perempuan.