Jauharotul Farida: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 25: | Baris 25: | ||
Farida pun memberikan ketegasan mengenai makna ulama, bahwa kata ulama adalah netral gender. Ulama tanpa menambah embel-embel “laki-laki” dan “perempuan” di belakangnya, pada dasarnya, bisa merujuk ke kedua jenis tersebut. Penggunaan embel-embel tersebut malah yang menjadikan bias gender. Namun karena alasan sosiologis, Farida tetap menggunakannya dan merinci kategoriasasi ulama perempuan, antara lain ''ulama kampus'' seperti Rahma el-Yunusiyah, Zakiiah Darajat, dan Tuti Alawiyah; ''ulama pesantren'' seperti Sholihah A. Wahid Hasyim, Hajah Chamnah, dan Hajah Nonoh Hasanah; ''ulama organisasi sosial-keagamaan'' seperti Nyai Ahmad Dahlan, Hadiyah Salim, dan Suryani Thahir; ''ulama aktivis sosial-politik'' seperti Hajah Rangkayo Rasuna Said dan Aisah Amini; dan terakhir, ''ulama tabligh'' seperti Lutfiah Sungkar dan Rofiqah Darto Wahhab. | Farida pun memberikan ketegasan mengenai makna ulama, bahwa kata ulama adalah netral gender. Ulama tanpa menambah embel-embel “laki-laki” dan “perempuan” di belakangnya, pada dasarnya, bisa merujuk ke kedua jenis tersebut. Penggunaan embel-embel tersebut malah yang menjadikan bias gender. Namun karena alasan sosiologis, Farida tetap menggunakannya dan merinci kategoriasasi ulama perempuan, antara lain ''ulama kampus'' seperti Rahma el-Yunusiyah, Zakiiah Darajat, dan Tuti Alawiyah; ''ulama pesantren'' seperti Sholihah A. Wahid Hasyim, Hajah Chamnah, dan Hajah Nonoh Hasanah; ''ulama organisasi sosial-keagamaan'' seperti Nyai Ahmad Dahlan, Hadiyah Salim, dan Suryani Thahir; ''ulama aktivis sosial-politik'' seperti Hajah Rangkayo Rasuna Said dan Aisah Amini; dan terakhir, ''ulama tabligh'' seperti Lutfiah Sungkar dan Rofiqah Darto Wahhab. | ||
Farida terus menjalin hubungan dengan jaringan ulama perempuan di berbagai daerah untuk mengawal isu-isu krusial. Karena sebagai ketua PSGA se-Jawa Tengah, ia memanfaatkan posisi tersebut untuk terus berkomitmen memperjuangkan keulamaan perempuan. Ia berkomunikasi secara intens dengan [[Arikhah]], misalnya pada 2011, ia turut aksi bersama Arikhah di Simpang Lima Semarang untuk mengawal tuntutan Undang-Undang yang berkaitan dengan anak. | Farida terus menjalin hubungan dengan [[jaringan]] ulama perempuan di berbagai daerah untuk mengawal isu-isu krusial. Karena sebagai ketua PSGA se-Jawa Tengah, ia memanfaatkan posisi tersebut untuk terus berkomitmen memperjuangkan keulamaan perempuan. Ia berkomunikasi secara intens dengan [[Arikhah]], misalnya pada 2011, ia turut aksi bersama Arikhah di Simpang Lima Semarang untuk mengawal tuntutan Undang-Undang yang berkaitan dengan anak. | ||
Apa yang Farida suarakan di masyarakat juga ia terapkan di dalam keluarga. Ia menyampaikan kepada anak-anak perempuannya bahwa mereka setara dengan laki-laki, tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Sejak kecil, Farida memberi pendidikan ''soft skill'' kepada anak-anaknya, seperti renang, vokal, dan musik. Di saat yang bersamaan ia juga mendukung pendidikan anak-anak perempuannya, seperti dukungannya kepada anak-anak perempuannya yang mengambil S2 jurusan Kedokteran di Thailand dan S2 di UIN Walisongo. Selain bekal keterampilan, ia juga tidak ketinggalan membekali mereka dengan ilmu agama. | Apa yang Farida suarakan di masyarakat juga ia terapkan di dalam keluarga. Ia menyampaikan kepada anak-anak perempuannya bahwa mereka setara dengan laki-laki, tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Sejak kecil, Farida memberi pendidikan ''soft skill'' kepada anak-anaknya, seperti renang, vokal, dan musik. Di saat yang bersamaan ia juga mendukung pendidikan anak-anak perempuannya, seperti dukungannya kepada anak-anak perempuannya yang mengambil S2 jurusan Kedokteran di Thailand dan S2 di UIN Walisongo. Selain bekal keterampilan, ia juga tidak ketinggalan membekali mereka dengan ilmu agama. | ||
| Baris 36: | Baris 36: | ||
== Karya-Karya == | == Karya-Karya == | ||
Karya-karya Farida berupa penelitian, baik individu atau tim, dengan pembiayaan dari lembaga, antara lain Persepsi Perempuan terhadap Pendidikan Anak Perempuan Pasca SD (anggota, DIP IAIN Walisongo, 1997); Persepsi Mubalig terhadap Konsep Gender (individu, DIP IAIN Walisongo, 1998); Profil Majelis Taklim Wanita di Kota Semarang (individu, DIP IAIN Walisongo, 2000); Peran Perempuan dalam Penyelesaian Konflik Sosial (Stuudi Kasus di Kabupaten Jepara) (anggota, DIPA IAIN Walisongo, 2002); Dakwah Pemberdayaan pada Masyarakat Pedesaan dengan Metode ''Prticipatory Rural Appraisal'' (Studi Kasus Dakwah di Dukuh Ngonto Lor Desa Candi, Kec. Sumowono, Kab. Semarang) (individu, DIPA IAIN Walisongo, 2002); Isu-Isu Keagamaan pada Kampanye Pemilu 2004 (Analisis terhadap Materi Kampanye pada Pemilu tahun 2004 di Kota Semarang) (individu, DIPA IAIN Walisongo); Peningkatan Kepemimpinan Santriwati di Ponpes Darul Falah, Jekulo, Kudus, dengan Metode PAR (anggota, Dirjen Diktis Depag RI Th. 2004, 2005); Peningkatan Kualitas Santri melalui Pengembangan ''life skill'' di Ponpes Roudlotul Muttaqin Polamanh Mijen Semarang dengan Metode PAR (Ketua, Dirjen Diktis Depag RI Th. 2005, 2006); Peningkatan Khidmah Pesantren dalam meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat dengan Metode PAR Studi Kasus di Ponpes Roudlotul Muttaqin Polaman Mijen Semarang (ketua, Dirjen Diktis Depag RI Th. 2006, 2007); Tradisi Khitan Perempuan pada Masyarakat Jawa (Studi Kasus di Kota Semarang) (Individu, DIPPA IAIN Walisongo, 2007); Analisis Gender Bidang Ekonomi di Jateng (anggota, APBD Prov. Jateng Th. 2008, 2008); Gender dan Lingkungan Hidup Studi pada 4 Kabupaten-Kota di Jateng (anggota, APBD Prov. Jateng Th. 2009, 2009); Analisis Gender Bidang Agama Studi pada Lembaga Keagamaan di Jateng (ketua, APBD Jateng Th. 2010, 2010); dan, Perempuan dan Kesehatan Reproduksi Analisa di Majlis Taklim Wanita YPPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang (individu, DIPA IAIN Walisongo, 2010). | Karya-karya Farida berupa penelitian, baik individu atau tim, dengan pembiayaan dari lembaga, antara lain Persepsi Perempuan terhadap Pendidikan Anak Perempuan Pasca SD (anggota, DIP IAIN Walisongo, 1997); Persepsi Mubalig terhadap Konsep Gender (individu, DIP IAIN Walisongo, 1998); Profil Majelis Taklim Wanita di Kota Semarang (individu, DIP IAIN Walisongo, 2000); Peran Perempuan dalam Penyelesaian Konflik Sosial (Stuudi Kasus di Kabupaten Jepara) (anggota, DIPA IAIN Walisongo, 2002); Dakwah Pemberdayaan pada Masyarakat Pedesaan dengan Metode ''Prticipatory Rural Appraisal'' (Studi Kasus Dakwah di Dukuh Ngonto Lor Desa Candi, Kec. Sumowono, Kab. Semarang) (individu, DIPA IAIN Walisongo, 2002); Isu-Isu Keagamaan pada Kampanye Pemilu 2004 (Analisis terhadap Materi Kampanye pada Pemilu tahun 2004 di Kota Semarang) (individu, DIPA IAIN Walisongo); Peningkatan Kepemimpinan Santriwati di Ponpes Darul Falah, Jekulo, Kudus, dengan Metode PAR (anggota, Dirjen Diktis Depag RI Th. 2004, 2005); Peningkatan Kualitas Santri melalui Pengembangan ''life skill'' di Ponpes Roudlotul Muttaqin Polamanh Mijen Semarang dengan Metode PAR (Ketua, Dirjen Diktis Depag RI Th. 2005, 2006); Peningkatan Khidmah Pesantren dalam meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat dengan Metode PAR Studi Kasus di Ponpes Roudlotul Muttaqin Polaman Mijen Semarang (ketua, Dirjen Diktis Depag RI Th. 2006, 2007); Tradisi Khitan Perempuan pada Masyarakat Jawa (Studi Kasus di Kota Semarang) (Individu, DIPPA IAIN Walisongo, 2007); Analisis Gender Bidang Ekonomi di Jateng (anggota, APBD Prov. Jateng Th. 2008, 2008); Gender dan Lingkungan Hidup Studi pada 4 Kabupaten-Kota di Jateng (anggota, APBD Prov. Jateng Th. 2009, 2009); Analisis Gender Bidang Agama Studi pada Lembaga Keagamaan di Jateng (ketua, APBD Jateng Th. 2010, 2010); dan, Perempuan dan Kesehatan Reproduksi Analisa di Majlis Taklim Wanita YPPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang (individu, DIPA IAIN Walisongo, 2010). | ||
== Daftar Bacaan Lanjutan == | == Daftar Bacaan Lanjutan == | ||