Menanti Kontribusi Alimat: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 3: | Baris 3: | ||
Sebanyak 780 ulama perempuan, terdiri atas 580 orang peserta dan 200 pengamat hadir dalam acara tersebut. Mereka datang ke Cirebon dari berbagai daerah di Indonesia dan Negara. | Sebanyak 780 ulama perempuan, terdiri atas 580 orang peserta dan 200 pengamat hadir dalam acara tersebut. Mereka datang ke Cirebon dari berbagai daerah di Indonesia dan Negara. | ||
Ketua panitia pengarah (Steering Commite) Kongres Ulama Perempuan Indonesia ([[KUPI]]) Badriyah Fayumi mengungkapkan, pelaksanaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia diharapkan memberikan kontribusi untuk kemajuan para perempuan dalam mencapai kemanusiaan yang adil dan beradab. | Ketua panitia pengarah (Steering Commite) [[Kongres Ulama Perempuan Indonesia]] ([[KUPI]]) [[Badriyah Fayumi]] mengungkapkan, pelaksanaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia diharapkan memberikan kontribusi untuk kemajuan para perempuan dalam mencapai kemanusiaan yang adil dan beradab. | ||
Itu karena, kata Badriyah, ulama perempuan adalah mereka yang memiliki perhatian pada perespektif untuk kesetaraan perempuan dalam memajukan peradaban islam dan pengetahuan masyarakat madani. | Itu karena, kata Badriyah, ulama perempuan adalah mereka yang memiliki perhatian pada perespektif untuk kesetaraan perempuan dalam memajukan peradaban islam dan pengetahuan masyarakat madani. | ||
| Baris 16: | Baris 16: | ||
Sementara itu, ulama perempuan sekaligus feminis Malaysia Zaenah Anwar menilai, Indonesia sebetulnya sudah cukup baik dalam soal kesetaraan gender. “Hanya Indonesia kurang menjual hal tersebut ke publik,” kata Zaenah. | Sementara itu, ulama perempuan sekaligus feminis Malaysia Zaenah Anwar menilai, Indonesia sebetulnya sudah cukup baik dalam soal kesetaraan gender. “Hanya Indonesia kurang menjual hal tersebut ke publik,” kata Zaenah. | ||
Zaenah mengakui, tantangan kesetaraan perempuan memang besar, “Bagi kami, peran ulama perempuan di tengah hubungan antara [[komunitas]] muslim dan Negara, adalah membangun pengalaman yang baik bagaimana menginterpretasi ayat-ayat Al-Qur’an dan menyelaraskannya dengan semangat kesetaraan,” katanya. | Zaenah mengakui, tantangan kesetaraan perempuan memang besar, “Bagi kami, peran ulama perempuan di tengah hubungan antara [[komunitas]] muslim dan Negara, adalah membangun pengalaman yang baik bagaimana menginterpretasi ayat-ayat [[Al-Qur’an]] dan menyelaraskannya dengan semangat kesetaraan,” katanya. | ||
Menurut Zaenah, dalam Islam tidak ada diskriminasi. Justru Islam menjunjung tinggi peran perempuan. | Menurut Zaenah, dalam Islam tidak ada diskriminasi. Justru Islam menjunjung tinggi peran perempuan. | ||
| Baris 22: | Baris 22: | ||
Sementara itu, Hatoon Al-Fasi, ulama dari Arab Saudi dalam penyampaian tema ''“facing resistance: Personal Insight and Strategies of Women Ulama”'' mengungkapkan, ulama perempuan bertanggung jawab menyampaikan Islam moderat, kesetaraan, dan kemanusiaan. | Sementara itu, Hatoon Al-Fasi, ulama dari Arab Saudi dalam penyampaian tema ''“facing resistance: Personal Insight and Strategies of Women Ulama”'' mengungkapkan, ulama perempuan bertanggung jawab menyampaikan Islam moderat, kesetaraan, dan kemanusiaan. | ||
“Menjadi seorang [[alimat]] di kawasan kami (Arab Saudi) bukanlah tugas yang mudah. Walaupun ada ribuan perempuan lulusan pendidikan Islam, penghafal Al-Qur’an, tetapi kita tidak punya alimat yang diakui sebagai imam yang bisa melakukan ijtihad dan diakui,” katanya. | “Menjadi seorang [[alimat]] di kawasan kami (Arab Saudi) bukanlah tugas yang mudah. Walaupun ada ribuan perempuan lulusan pendidikan Islam, penghafal Al-Qur’an, tetapi kita tidak punya alimat yang diakui sebagai imam yang bisa melakukan [[ijtihad]] dan diakui,” katanya. | ||
| Baris 31: | Baris 31: | ||
''Sumber: Harian Pikiran Rakyat, 26 April 2017'' | ''Sumber: Harian Pikiran Rakyat, 26 April 2017'' | ||
[[Kategori:Berita]] | [[Kategori:Berita]] | ||
[[Kategori:Berita KUPI 1]] | |||