Lompat ke isi

Erik Sabti Rahmawati: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 4: Baris 4:


Bu Erik terlibat di dalam pelaksanaan [[KUPI]] sebagai peserta. Ia antusias menyambut moment tersebut karena selama ini ia merasa gelisah, mengapa yang dianggap ulama hanya laki-laki. Anggota MUI kebanyakan laki-laki, juga di dalam beberapa event keulamaan, yang dianggap ulama adalah laki-laki. Padahal Bu Erik tahu persis bagaimana di lapangan banyak sekali perempuan yang layak menjadi ulama dan oleh karena itu, ulama perempuan harus hadir untuk merespon persoalan-persoalan perempuan yang seringkali justru dipahami dengan menggunakan pemikiran laki-laki banyak yang bias. Misalnya, dalam persoalan menstruasi, melahirkan, nifas, dan menyusui, perempuan tidak dihadirkan sebagai subjek di dalam pengetahuan dan pengalaman tentang persoalan tersebut.
Bu Erik terlibat di dalam pelaksanaan [[KUPI]] sebagai peserta. Ia antusias menyambut moment tersebut karena selama ini ia merasa gelisah, mengapa yang dianggap ulama hanya laki-laki. Anggota MUI kebanyakan laki-laki, juga di dalam beberapa event keulamaan, yang dianggap ulama adalah laki-laki. Padahal Bu Erik tahu persis bagaimana di lapangan banyak sekali perempuan yang layak menjadi ulama dan oleh karena itu, ulama perempuan harus hadir untuk merespon persoalan-persoalan perempuan yang seringkali justru dipahami dengan menggunakan pemikiran laki-laki banyak yang bias. Misalnya, dalam persoalan menstruasi, melahirkan, nifas, dan menyusui, perempuan tidak dihadirkan sebagai subjek di dalam pengetahuan dan pengalaman tentang persoalan tersebut.
== Riwayat Hidup ==
== Riwayat Hidup ==
Erik Sabti Rahmawati berasal dari keluarga yang pendidikan agamanya kuat. Keluarga besarnya mengelola Yayasan Pendidikan Ma’arif, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Untuk MI, kelas murid laki-laki dan perempuan dipisah, sama seperti di lingkungan pesantren. Ayah Bu Erik adalah seorang guru agama dan [[tokoh]] masyarakat di daerahnya.
Erik Sabti Rahmawati berasal dari keluarga yang pendidikan agamanya kuat. Keluarga besarnya mengelola Yayasan Pendidikan Ma’arif, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Untuk MI, kelas murid laki-laki dan perempuan dipisah, sama seperti di lingkungan pesantren. Ayah Bu Erik adalah seorang guru agama dan [[tokoh]] masyarakat di daerahnya.
Baris 12: Baris 10:


Saat ini Bu Erik tengah menyelesaikan pendidikan S3 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan konsentrasi keilmuan Pendidikan Agama Islam berbasis Studi Multidisipliner. Ia sudah masuk tahap menyelesaikan penulisan disertasi.
Saat ini Bu Erik tengah menyelesaikan pendidikan S3 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan konsentrasi keilmuan Pendidikan Agama Islam berbasis Studi Multidisipliner. Ia sudah masuk tahap menyelesaikan penulisan disertasi.
== Tokoh Dan Keulamaan Perempuan ==
== Tokoh Dan Keulamaan Perempuan ==
Kegiatan sehari-hari Bu Erik yang berhubungan dengan gerakan KUPI, antara lain ia selalu memasukkan visi misi KUPI ke dalam materi dakwah, sosialisasi, atau mediasinya, misalnya tentang kesetaraan gender dan pentingnya kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan untuk berkiprah dalam berbagai lini kehidupan di masyarakat. Kepada para santri, Bu Erik menyampaikan bahwa mereka mempunyai hak yang sama untuk menempuh pendidikan dan bekerjasama dengan laki-laki. Ia memotivasi mereka agar berpendidikan yang tinggi, mendapatkan karier yang bagus, tanpa harus merasa bahwa mereka seorang perempuan yang berada di posisi kedua. Sebagai mediator, Bu Erik menguatkan perempuan bahwa mereka mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan keadilan dan peluang yang sama untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Misalnya, ketika mereka dihadapkan pada persoalan untuk mendapatkan hak ‘iddah, nafkah mut’ah, juga nafkah selama perempuan mengasuh anak. Kepada laki-laki ia juga membangun kesadaran untuk memandang perempuan sebagai manusia yang memiliki posisi, potensi dan hak yang sama dan setara dengan laki-laki.
Kegiatan sehari-hari Bu Erik yang berhubungan dengan gerakan KUPI, antara lain ia selalu memasukkan visi misi KUPI ke dalam materi dakwah, sosialisasi, atau mediasinya, misalnya tentang kesetaraan gender dan pentingnya kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan untuk berkiprah dalam berbagai lini kehidupan di masyarakat. Kepada para santri, Bu Erik menyampaikan bahwa mereka mempunyai hak yang sama untuk menempuh pendidikan dan bekerjasama dengan laki-laki. Ia memotivasi mereka agar berpendidikan yang tinggi, mendapatkan karier yang bagus, tanpa harus merasa bahwa mereka seorang perempuan yang berada di posisi kedua. Sebagai mediator, Bu Erik menguatkan perempuan bahwa mereka mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan keadilan dan peluang yang sama untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Misalnya, ketika mereka dihadapkan pada persoalan untuk mendapatkan hak ‘iddah, nafkah mut’ah, juga nafkah selama perempuan mengasuh anak. Kepada laki-laki ia juga membangun kesadaran untuk memandang perempuan sebagai manusia yang memiliki posisi, potensi dan hak yang sama dan setara dengan laki-laki.
Baris 23: Baris 19:
Bu Erik melihat adanya peluang yang besar untuk menyelenggarakan KUPI di Malang. Di antara ''supporting system'' yang mendukung, misalnya, sudah banyak aktivis dan ulama perempuan di Malang yang konsisten memperjuangkan hak-hak perempuan. Di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terdapat unit Pusat Studi Gender dan Anak yang memiliki perspektif dan pemikiran sejalan dengan KUPI. Bu Erik pernah mengundang Kiai Faqih Abdul Kodir ke kampus untuk menggaungkan perspektif KUPI di UIN Malang dengan menggelar kegiatan bedah buku “Qiraah Mubadalah”. Namun demikian, sosialisasi yang terstruktur tentang perspektif KUPI tetap harus dilakukan, terutama di kalangan ulama yang masih memiliki perspektif yang konvensial, yaitu menganggap bahwa perempuan adalah kelompok kedua.
Bu Erik melihat adanya peluang yang besar untuk menyelenggarakan KUPI di Malang. Di antara ''supporting system'' yang mendukung, misalnya, sudah banyak aktivis dan ulama perempuan di Malang yang konsisten memperjuangkan hak-hak perempuan. Di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terdapat unit Pusat Studi Gender dan Anak yang memiliki perspektif dan pemikiran sejalan dengan KUPI. Bu Erik pernah mengundang Kiai Faqih Abdul Kodir ke kampus untuk menggaungkan perspektif KUPI di UIN Malang dengan menggelar kegiatan bedah buku “Qiraah Mubadalah”. Namun demikian, sosialisasi yang terstruktur tentang perspektif KUPI tetap harus dilakukan, terutama di kalangan ulama yang masih memiliki perspektif yang konvensial, yaitu menganggap bahwa perempuan adalah kelompok kedua.


Bu Erik berpendapat bahwa tantangan KUPI juga besar karena kiprah perempuan masih dinomerduakan. Misalnya, pada pemilihan rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun 2021, dari 6 calon ada 2 kandidat perempuan. Bu Erik mendengar masih ada beberapa kolega yang mengaggap bahwa rektor perempuan tidak bisa bekerja dengan tegas. Padahal rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga perempuan. Sehingga menurut Bu Erik, harus ada penegasan bahwa perempuan itu memiliki potensi dan kapasitas yang sama dengan laki-laki dan tidak perlu diragukan lagi. Bu Erik berharap agar keberadaan KUPI dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat dan mendapatkan tempat yang sama seperti ormas yang lain, terutama yang anggotanya laki-laki dengan cara menguatkan jaringan KUPI di mana pun berada.
Bu Erik berpendapat bahwa tantangan KUPI juga besar karena kiprah perempuan masih dinomerduakan. Misalnya, pada pemilihan rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun 2021, dari 6 calon ada 2 kandidat perempuan. Bu Erik mendengar masih ada beberapa kolega yang mengaggap bahwa rektor perempuan tidak bisa bekerja dengan tegas. Padahal rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga perempuan. Sehingga menurut Bu Erik, harus ada penegasan bahwa perempuan itu memiliki potensi dan kapasitas yang sama dengan laki-laki dan tidak perlu diragukan lagi. Bu Erik berharap agar keberadaan KUPI dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat dan mendapatkan tempat yang sama seperti ormas yang lain, terutama yang anggotanya laki-laki dengan cara menguatkan [[jaringan]] KUPI di mana pun berada.
 
 
== Karya-Karya ==
== Karya-Karya ==
Di antara karya akademik dan non akademik yang pernah ditulis Erik Sabti Rahmawati antara lain:
Di antara karya akademik dan non akademik yang pernah ditulis Erik Sabti Rahmawati antara lain: