Paradigma KUPI: Perbedaan antara revisi
Tampilan
←Membuat halaman berisi 'Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) adalah gerakan yang mendasarkan visi keislamannya pada gagasan ''rahmatan lil ‘âlamîn'' (kerahmatan semesta) yang ditegask...' |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) adalah gerakan yang mendasarkan visi keislamannya pada gagasan ''rahmatan lil ‘âlamîn'' (kerahmatan semesta) yang ditegaskan berbagai ayat al-Qur’an dan ''akhlâq karîmah'' (akhlak mulia) yang diteladankan Nabi Muhammad SAW. Gagasan ini, dalam paradigma KUPI, diformulasikan dalam sembilan nilai dasar: ketauhidan, kerahmatan, kemaslahatan, kesetaraan, kesalingan, keadilan, kebangsaan, kemanusiaan, dan kesemestaan. Gagasan-gagasan dalam sembilan nilai dasar ini diimplementasikan dengan tiga pendekatan: makruf, [[mubadalah]] dan keadilan hakiki bagi perempuan. | ''Oleh: [[Faqihuddin Abdul Kodir]]'' | ||
Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) adalah gerakan yang mendasarkan visi keislamannya pada gagasan ''rahmatan lil ‘âlamîn'' (kerahmatan semesta) yang ditegaskan berbagai ayat al-Qur’an dan ''akhlâq karîmah'' (akhlak mulia) yang diteladankan Nabi Muhammad SAW. Gagasan ini, dalam paradigma KUPI, diformulasikan dalam sembilan nilai dasar: ketauhidan, kerahmatan, kemaslahatan, kesetaraan, kesalingan, keadilan, kebangsaan, kemanusiaan, dan kesemestaan. Gagasan-gagasan dalam sembilan nilai dasar ini diimplementasikan dengan tiga pendekatan: makruf, [[mubadalah]] dan [[Keadilan Hakiki|keadilan hakiki]] bagi perempuan. | |||
Ketauhidan adalah fondasi dari semua nilai yang lain. Bahwa yang Tuhan itu hanya Allah SWT semata, dan yang lain, semuanya adalah ciptaan-Nya dan hamba-Nya. Ketika menciptakan, mengatur, memelihara, termasuk menurunkan wahyu-Nya adalah bentuk dari ''Rahmân'' dan ''Rahîm-''Nya. Dari sini, lahir visi kerahmatan Allah SWT kepada seluruh semesta, termasuk melalui wahyu yang diturunkan kepada manusia. Visi kerahmatan pada semesta ini (''rahmatan lil ‘âlamîn''), ketika diwujudkan dalam kehidupan di dunia, oleh manusia, harus didasarkan pada prinsip kemaslahatan. Inilah misi ''akhlâq karîmah'' yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Yaitu, ketika semua individu manusia, terutama antara laki-laki dan perempuan, satu sama lain, berpikir, bersikap, dan bertindak saling menghadirkan kebaikan. | Ketauhidan adalah fondasi dari semua nilai yang lain. Bahwa yang Tuhan itu hanya Allah SWT semata, dan yang lain, semuanya adalah ciptaan-Nya dan hamba-Nya. Ketika menciptakan, mengatur, memelihara, termasuk menurunkan wahyu-Nya adalah bentuk dari ''Rahmân'' dan ''Rahîm-''Nya. Dari sini, lahir visi kerahmatan Allah SWT kepada seluruh semesta, termasuk melalui wahyu yang diturunkan kepada manusia. Visi kerahmatan pada semesta ini (''rahmatan lil ‘âlamîn''), ketika diwujudkan dalam kehidupan di dunia, oleh manusia, harus didasarkan pada prinsip kemaslahatan. Inilah misi ''akhlâq karîmah'' yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Yaitu, ketika semua individu manusia, terutama antara laki-laki dan perempuan, satu sama lain, berpikir, bersikap, dan bertindak saling menghadirkan kebaikan. | ||
| Baris 9: | Baris 11: | ||
Bagi KUPI, segala aspek keimanan, keibadahan, dan amal sosial, dalam Islam adalah cerminan dari visi ''rahmatan lil ‘âlamîn'' dan ''akhlâq karîmah'' . Kita mengagungkan Allah SWT, bukan karena Dia kecil lalu memerlukan kita agar menjadi Agung. Allah SWT sudah Agung dengan Dirinya, kita menyembah-Nya atau mengingkari-Nya. Alih-alih untuk Allah SWT, kita beriman kepada-Nya, mengagungkan-Nya, dan beribadah kepada-Nya adalah untuk visi ''rahmatan lil ‘âlamîn'' dan ''akhlâq karîmah'' ini yang kembali kepada kita sendiri. Yaitu dalam bentuk kehidupan yang maslahat, sejahtera, damai, menyenangkan, dan bahagia, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. | Bagi KUPI, segala aspek keimanan, keibadahan, dan amal sosial, dalam Islam adalah cerminan dari visi ''rahmatan lil ‘âlamîn'' dan ''akhlâq karîmah'' . Kita mengagungkan Allah SWT, bukan karena Dia kecil lalu memerlukan kita agar menjadi Agung. Allah SWT sudah Agung dengan Dirinya, kita menyembah-Nya atau mengingkari-Nya. Alih-alih untuk Allah SWT, kita beriman kepada-Nya, mengagungkan-Nya, dan beribadah kepada-Nya adalah untuk visi ''rahmatan lil ‘âlamîn'' dan ''akhlâq karîmah'' ini yang kembali kepada kita sendiri. Yaitu dalam bentuk kehidupan yang maslahat, sejahtera, damai, menyenangkan, dan bahagia, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. | ||
Dari sini, kedua sumber utama, al-Qur’an dan Hadits, juga dipandang KUPI sebagai satu kesatuan, yang integral, dan tidak kontradiktif dalam mengusung, mengadopsi, dan mendakwahkan visi mulia ini. Karena itu, pemaknaannya tidak boleh atomik, harus saling menopang (''yufassiru ba’dluhu ba’dlan'') dalam kerangka visi dalam sembilan nilai tersebut di atas. Sementara warisan [[tradisi]] masa lalu dengan berbagai displin ilmunya, mulai dari tafsir al-Qur’an, kompilasi Hadits dan ''syurûh''-nya, [[fiqh]] dan ushul fiqh, dan tasawuf adalah potret dinamika dari proses perwujudan visi itu dalam kehidupan nyata dengan konteks yang terus berkembang dan berubah. Begitu pun dengan kesepakatan sosial kita, perundang-undangan, kebijakan negara di berbagai bidang, adalah potret dari dinamika proses yang terus menerus agar mencapai visi tersebut. Kita tidak boleh berhenti pada kalimat yang literal dan formal, tetapi harus terus memperjuangkan menuju visi agung ''rahmatan lil ‘âlamîn'' dan ''akhlâq karîmah'' ini. | Dari sini, kedua sumber utama, al-Qur’an dan Hadits, juga dipandang KUPI sebagai satu kesatuan, yang integral, dan tidak kontradiktif dalam mengusung, mengadopsi, dan mendakwahkan visi mulia ini. Karena itu, pemaknaannya tidak boleh atomik, harus saling menopang (''yufassiru ba’dluhu ba’dlan'') dalam kerangka visi dalam sembilan nilai tersebut di atas. Sementara warisan [[tradisi]] masa lalu dengan berbagai displin ilmunya, mulai dari [[Tafsir Al-Qur’an|tafsir al-Qur’an]], kompilasi Hadits dan ''syurûh''-nya, [[fiqh]] dan ushul fiqh, dan tasawuf adalah potret dinamika dari proses perwujudan visi itu dalam kehidupan nyata dengan konteks yang terus berkembang dan berubah. Begitu pun dengan kesepakatan sosial kita, perundang-undangan, kebijakan negara di berbagai bidang, adalah potret dari dinamika proses yang terus menerus agar mencapai visi tersebut. Kita tidak boleh berhenti pada kalimat yang literal dan formal, tetapi harus terus memperjuangkan menuju visi agung ''rahmatan lil ‘âlamîn'' dan ''akhlâq karîmah'' ini. | ||
''Rahmatan lil ‘âlamîn'', artinya rahmat dan anugerah bagi seluruh semesta. Kita sebagai diri (individu maupun [[komunitas]]) adalah bagian dari semesta ini. Bukan yang utama, lalu rakus, dominatif, dan hegemonik. Begitu pun orang lain dengan berbagai latar belakang ras, suku, bangsa, agama, bahasa, kapasitas fisik dan sosial adalah juga bagian dari semesta. Begitu pun lingkungan alam sekitar adalah bagian dari semesta. Karena itu, kita diikat oleh misi ''akhlâq karîmah'' yang ditegaskan Nabi Muhammad SAW. Secara literal sering diartikan sebagai perilaku, karakter moral, atau kepribadian mulia. Ini benar, tetapi masih abstrak. Yang kongkret adalah ketika perilaku ini mewujud dalam sikap dan perilaku yang saling mewujudkan kemaslahatan. Karena itu, diterjemahkan ''akhlâq karîmah'' ini sebagai misi kemaslahatan. Yaitu segala perilaku mulia dengan mengupayakan kemaslahatan bagi diri, keluarga, orang lain, segenap manusia, dan juga lingkungan alam sekitar. | ''Rahmatan lil ‘âlamîn'', artinya rahmat dan anugerah bagi seluruh semesta. Kita sebagai diri (individu maupun [[komunitas]]) adalah bagian dari semesta ini. Bukan yang utama, lalu rakus, dominatif, dan hegemonik. Begitu pun orang lain dengan berbagai latar belakang ras, suku, bangsa, agama, bahasa, kapasitas fisik dan sosial adalah juga bagian dari semesta. Begitu pun lingkungan alam sekitar adalah bagian dari semesta. Karena itu, kita diikat oleh misi ''akhlâq karîmah'' yang ditegaskan Nabi Muhammad SAW. Secara literal sering diartikan sebagai perilaku, karakter moral, atau kepribadian mulia. Ini benar, tetapi masih abstrak. Yang kongkret adalah ketika perilaku ini mewujud dalam sikap dan perilaku yang saling mewujudkan kemaslahatan. Karena itu, diterjemahkan ''akhlâq karîmah'' ini sebagai misi kemaslahatan. Yaitu segala perilaku mulia dengan mengupayakan kemaslahatan bagi diri, keluarga, orang lain, segenap manusia, dan juga lingkungan alam sekitar. | ||