Karena Aku Santri: Perbedaan antara revisi
←Membuat halaman berisi 'Ngaji bersama Nyai Badriyah Fayumi <youtube>ahSOyR7Mg5s&t=40s</youtube> Kategori:Khazanah Kategori:Video KUPI Kategori:Ngaji BadriyahFayumi' |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
<youtube>ahSOyR7Mg5s&t=40s</youtube> | |||
Karena Aku Santri | |||
Oleh: [[Badriyah Fayumi]] | |||
Aku resah, | |||
Sedih dan malu hati Saat agamaku lebih sering ditampakkan dalam bentuk yang garang | |||
Saat tampilan agama yang ramah dan bersahabat malah dihujat | |||
Saat caci maki dan tuduhan keji menjadi bahasa sehari-hari | |||
Aku sedih, resah dan malu hati | |||
Karena aku santri | |||
Dalam sedih bercampur harap | |||
Kubisikkan kepada siapa saja yang kutemui dalam senyap | |||
Ayolah kembali kepada jatidiri | |||
Dakwah bilhikmah wal maudhatil hasanah | |||
Dakwah yang menyentuh hati bukan menyinggung perasaan | |||
Dakwah yang menyemai perdamaian bukan menuai permusuhan | |||
Kubisikkan itu semampu diri | |||
Karena aku santri | |||
Aku terhenyak, lalu terdiam tak mampu mengiyakan | |||
Saat atas nama modernitas dan profesionalisme | |||
Proposal bisnis pendidikan disodorkan | |||
Hitung-hitungan rinci dipaparkan | |||
Ini bisnis menguntungkan | |||
Ini kota metropolitan | |||
Aku terhenyak tak bisa mengikuti | |||
Saat melihat di sekelilingku kini pergeseran mendasar telah terjadi | |||
Manajemen dakwah telah berubah arti | |||
Dari ikhtiar mengelola dakwah sebagai pintu hidayah | |||
Menjadi trik-trik berceramah demi materi berlimpah | |||
Dalam diam dan keterhenyakan | |||
Terbayang wajah-wajah Ikhlas kyai dan nyaiku yang lugas mengatakan | |||
Nak, jangan kau tukar anugerah ilmu dengan harta | |||
Masing-masing adalah pemberianNya | |||
Berikan ilmu tanpa perhitungan | |||
Seperti dulu kamu menerimanya dari guru-gurumu yg bermatahati tajam | |||
Biarlah Allah yang bekerja dan menjadikanmu merasa berkecukupan | |||
Akupun berkata pelan tapi pasti Maaf .... | |||
Biarlah aku tetap begini | |||
Mendedikasikan ilmu pemberian ilahi yang tak seberapa ini | |||
Kepada si kaya dan si miskin tanpa diskriminasi | |||
Karena aku santri | |||
Aku geram dan tak bisa diam | |||
Saat agamaku dijadikan tameng nafsu syahwat yang tak terkendali | |||
Nikah siri dikampanyekan tanpa basa-basi | |||
[[Poligami]] dipamerkan dalam ujub yg tersembunyi | |||
Kekerasan dalam rumah tangga dianggap biasa | |||
Pedihnya rasa korban pelecehan seksual dijadikan bahan canda | |||
Aku geram dan tak bisa diam | |||
Karena aku santri | |||
Dalam keyakinan akan ramahnya agamaku dan ramahnya Tuhanku | |||
Kutolak dalih mereka dengan dalil yang kutahu | |||
Kupaparkan fakta, data dan derita perempuan, anak dan mereka yang rentan | |||
Agar agama tak lagi dijadikan pembenar ketidakadilan | |||
Kulakukan itu tanpa henti Karena aku santri | |||
Karena aku santri | |||
Aku tak bisa tak peduli | |||
Pada pengeroposan agamaku yang muncul di sana sini | |||
Pada pengatasnamaan agama untuk syahwat libido, nafsu berharta dan | |||
berkuasa | |||
Dan karena aku santri | |||
Aku tak ragu meniti jalan ini | |||
Meski sepi | |||
Berjalan dalam pengharapan dan sekaligus kepasrahan | |||
Berikhtiar menebar makruf dengan cara yang Ma'ruf | |||
Berusaha menahan munkar dengan cara yang tidak munkar | |||
Aku akan terus menyusuri jalan ini | |||
Menapaki peta yang telah dibentangkan para masyayikh kyai dan bu nyai | |||
Karena aku santri | |||
PP Mahasina Darul Qur'an wal [[Hadits]] | |||
Pondok Gede, 15 Oktober 2017 | |||
Dibacakan pertama kali pada Malam Pembacaan Puisi Hari Santri 2017 Di Taman Ismail Marzuki, 16 Oktober 2017 "Ketika Kyai- Nyai- Santri Berpuisi .....Pesantren Tanpa Tanda Titik" | |||
[[Kategori:Khazanah]] | [[Kategori:Khazanah]] | ||
[[Kategori:Video KUPI]] | [[Kategori:Video KUPI]] | ||
[[Kategori:Ngaji BadriyahFayumi]] | [[Kategori:Ngaji BadriyahFayumi]] | ||
Revisi per 1 November 2023 13.27
Karena Aku Santri
Oleh: Badriyah Fayumi
Aku resah,
Sedih dan malu hati Saat agamaku lebih sering ditampakkan dalam bentuk yang garang
Saat tampilan agama yang ramah dan bersahabat malah dihujat
Saat caci maki dan tuduhan keji menjadi bahasa sehari-hari
Aku sedih, resah dan malu hati
Karena aku santri
Dalam sedih bercampur harap
Kubisikkan kepada siapa saja yang kutemui dalam senyap
Ayolah kembali kepada jatidiri
Dakwah bilhikmah wal maudhatil hasanah
Dakwah yang menyentuh hati bukan menyinggung perasaan
Dakwah yang menyemai perdamaian bukan menuai permusuhan
Kubisikkan itu semampu diri
Karena aku santri
Aku terhenyak, lalu terdiam tak mampu mengiyakan
Saat atas nama modernitas dan profesionalisme
Proposal bisnis pendidikan disodorkan
Hitung-hitungan rinci dipaparkan
Ini bisnis menguntungkan
Ini kota metropolitan
Aku terhenyak tak bisa mengikuti
Saat melihat di sekelilingku kini pergeseran mendasar telah terjadi
Manajemen dakwah telah berubah arti
Dari ikhtiar mengelola dakwah sebagai pintu hidayah
Menjadi trik-trik berceramah demi materi berlimpah
Dalam diam dan keterhenyakan
Terbayang wajah-wajah Ikhlas kyai dan nyaiku yang lugas mengatakan
Nak, jangan kau tukar anugerah ilmu dengan harta
Masing-masing adalah pemberianNya
Berikan ilmu tanpa perhitungan
Seperti dulu kamu menerimanya dari guru-gurumu yg bermatahati tajam
Biarlah Allah yang bekerja dan menjadikanmu merasa berkecukupan
Akupun berkata pelan tapi pasti Maaf ....
Biarlah aku tetap begini
Mendedikasikan ilmu pemberian ilahi yang tak seberapa ini
Kepada si kaya dan si miskin tanpa diskriminasi
Karena aku santri
Aku geram dan tak bisa diam
Saat agamaku dijadikan tameng nafsu syahwat yang tak terkendali
Nikah siri dikampanyekan tanpa basa-basi
Poligami dipamerkan dalam ujub yg tersembunyi
Kekerasan dalam rumah tangga dianggap biasa
Pedihnya rasa korban pelecehan seksual dijadikan bahan canda
Aku geram dan tak bisa diam
Karena aku santri
Dalam keyakinan akan ramahnya agamaku dan ramahnya Tuhanku
Kutolak dalih mereka dengan dalil yang kutahu
Kupaparkan fakta, data dan derita perempuan, anak dan mereka yang rentan
Agar agama tak lagi dijadikan pembenar ketidakadilan
Kulakukan itu tanpa henti Karena aku santri
Karena aku santri
Aku tak bisa tak peduli
Pada pengeroposan agamaku yang muncul di sana sini
Pada pengatasnamaan agama untuk syahwat libido, nafsu berharta dan
berkuasa
Dan karena aku santri
Aku tak ragu meniti jalan ini
Meski sepi
Berjalan dalam pengharapan dan sekaligus kepasrahan
Berikhtiar menebar makruf dengan cara yang Ma'ruf
Berusaha menahan munkar dengan cara yang tidak munkar
Aku akan terus menyusuri jalan ini
Menapaki peta yang telah dibentangkan para masyayikh kyai dan bu nyai
Karena aku santri
PP Mahasina Darul Qur'an wal Hadits
Pondok Gede, 15 Oktober 2017
Dibacakan pertama kali pada Malam Pembacaan Puisi Hari Santri 2017 Di Taman Ismail Marzuki, 16 Oktober 2017 "Ketika Kyai- Nyai- Santri Berpuisi .....Pesantren Tanpa Tanda Titik"