Lompat ke isi

Hubbul Watan: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi '''Hubbul Watan'' berasal dari bahasa Arab yang berarti cinta tanah air. Kalimat ini kemudian menjadi jargon pemersatu semangat menjaga kesatuan NKRI yang berbunyi ''...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 14: Baris 14:


Berbagai usaha telah digalakkan dalam rangka melestarikan semangat ''hubbul watan'' atau cinta tanah air ini. Semua pihak bergerak di bidangnya masing-masing, bersatu melawan gerakan yang merongrong kedaulatan NKRI. Termasuk para ulama perempuan, yang kiprahnya melintasi segala lini mulai kalangan masyarakat lapisan bawah hingga atas, di wilayah [[komunitas]] hingga nasional.<ref>Alfiyah Ashmad dkk, ''Jejak Perjuangan Keulamaan Perempuan Indonesia,'' Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]).</ref> Walau tak terekspos sebagaimana kiprah kaum lelaki, mereka memilki semangat yang sama untuk bersinergi dengan membentuk dan menguatkan pondasi pemahaman keagamaan yang moderat, hingga terlibat secara langsung dalam pencegahan aksi terorisme dan penanganan korban. Mengangkat kontra narsi yang mensubrodinasikan kaum perempuan yang dibuat untuk melemahkan mereka, akibatnya kaum perempuan menjadi rentan terlibat dalam aksi pemberotakan. Padahal melemahkan kaum perempuan sama dengan melemahkan separuh daya tahan memperjuangkan kesatuan NKRI, karena tak bisa dipungkiri bahwa keterlibatan perempuan sejak zaman penjajahan hingga saat ini sangatlah perpengaruh untuk menjaga rasa cinta tanah air. Oleh karena itu, eksistensi ulama perempuan perlu dijaga tak lain untuk memainkan perannya me-''support'' sesama perempuan sebagai elemen penting keutuhan suatu bangsa.
Berbagai usaha telah digalakkan dalam rangka melestarikan semangat ''hubbul watan'' atau cinta tanah air ini. Semua pihak bergerak di bidangnya masing-masing, bersatu melawan gerakan yang merongrong kedaulatan NKRI. Termasuk para ulama perempuan, yang kiprahnya melintasi segala lini mulai kalangan masyarakat lapisan bawah hingga atas, di wilayah [[komunitas]] hingga nasional.<ref>Alfiyah Ashmad dkk, ''Jejak Perjuangan Keulamaan Perempuan Indonesia,'' Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]).</ref> Walau tak terekspos sebagaimana kiprah kaum lelaki, mereka memilki semangat yang sama untuk bersinergi dengan membentuk dan menguatkan pondasi pemahaman keagamaan yang moderat, hingga terlibat secara langsung dalam pencegahan aksi terorisme dan penanganan korban. Mengangkat kontra narsi yang mensubrodinasikan kaum perempuan yang dibuat untuk melemahkan mereka, akibatnya kaum perempuan menjadi rentan terlibat dalam aksi pemberotakan. Padahal melemahkan kaum perempuan sama dengan melemahkan separuh daya tahan memperjuangkan kesatuan NKRI, karena tak bisa dipungkiri bahwa keterlibatan perempuan sejak zaman penjajahan hingga saat ini sangatlah perpengaruh untuk menjaga rasa cinta tanah air. Oleh karena itu, eksistensi ulama perempuan perlu dijaga tak lain untuk memainkan perannya me-''support'' sesama perempuan sebagai elemen penting keutuhan suatu bangsa.
Penulis: Nurun Sariyah
----
----
<references />
<references />
[[Kategori:Konsep Kunci]]
[[Kategori:Konsep Kunci]]